Kehidupan

Murka4 min read

ALAS meja makan itu tiba-tiba terangkat. Seluruh isinya: piring, gelas, sendok-garpu, bakul nasi, bokor wijikan, termasuk lauk-pauk di atasnya, jatuh berantakan. Pyar! Pecahan kaca berserakan, bercampur sayur dan air putih.
Sungguh, aku ketakutan. Adik dan kakakku terdiam. Nenek dan Ibu juga tidak mampu berbicara apa-apa. Waktu itu, Ayah kecewa berat karena anaknya ada yang tidak naik kelas. Kemarahan itu pun ditumpahkan di meja makan.


‘Goblok! Dasar otak udang!’ kata Ayah. Ia kecewa berat karena merasa sudah memberi pendidikan cukup, mengajari disiplin, dan mengongkosi tetek-bengek kebutuhan sekolah, tapi hasilnya justru menguburkan obsesi dia.
Seorang kepala rumah tangga murka, dan seisi rumah moplok. Takut menatap wajah Ayah. Diam lebih aman daripada mencari pembenaran. Padahal, Ayah lebih peduli mengikuti rapat partai ketimbang membantu memecahkan PR anak.
Ternyata, murka Ayah itu tak ada ‘apa-apa’ –walau membekas– dibandingkan alam yang murka. Minggu pagi lalu itu, lempeng bumi Indo-Australia dan Eurasia berbenturan hingga timbul gempa tektonik pada 149 kilometer di barat Meulaboh, Aceh. Kekuatannya 6,8 pada skala Richter atau 8 skala magnitudo, dan berpusat di dasar laut berkedalaman 20 kilometer.
Setelah itu, disusul gempa serupa di Kepulauan Nicobar dan Pulau Andaman. Begitu gempa, air laut surut seketika. Berdasar teori, ada tanah yang merekah dan lapisan yang melenting ke atas, hingga menimbulkan gelombang (amplitudo) tsunami.
Gelombang itu membesar kala berada di permukaan yang dangkal. Air laut yang keruh itu menyapu daratan seisinya. Jarak antara gempa dan tsunami pun cukup lama. Gempa terjadi pukul 08.00, dan satu setengah jam kemudian muncul tsunami. Barangkali, kalau kejadian itu bisa diantisipasi dengan pas, jutaan orang tak harus menangis menyesali keteledoran dan ketidakmampuan manusia.
Memang, keterbatasan sarana, tingkat pendidikan, kepedulian, dan kemiskinan sering menciptakan kerentanan masyarakat. Air surut dan ribuan ikan menggelepar malah mengundang kegembiraan. Anak-anak dan orang tua –yang tak memahami proses alam ini– justru menyerbu laut dengan riang.
Dan, malapetaka pun tak terelakkan. Gelombang pasang berkecepatan ratusan kilometer per jam itu menyapu jagat. Tiga titik gempa itu menerjang sembilan negara (Indonesia, Sri Lanka, Thailand, India, Maladewa, Malaysia, Myanmar, Bangladesh, dan Somalia) dengan jumlah korban meninggal 180.000 orang lebih.
Ribuan mayat bergelimpangan di sembarang tempat. Ada yang dibiarkan terapung di selokan, tanpa busana. Ada yang tertimbun reruntuhan atau tertancap tonggak kayu. Belum dievakuasi, apalagi dikuburkan. Tidak ada tenaga penggali. ”Kain pembungkus mayat pun tak ada. Juga plastik,” ujar seorang pejabat di Meulaboh.
Di kawasan pantai Matai, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, terjadi pemandangan serupa. Azmi dan istrinya, Ainil, yang tengah berbulan madu di pantai itu, melihat air menyurut tajam. Dan, tiba-tiba di kejauhan, Azmi melihat buih air laut setinggi sekitar 10 meter menghampiri. Buru-buru ia bersama istri menaiki motornya menuju bukit.
Dan, dari atas bukit itulah Azmi menyaksikan ribuan orang tergulung tsunami. Ia sedih. Ia juga bersyukur atas kemurahan Allah yang menyelamatkannya. Sementara itu, di tempat lain, ribuan orang –terutama anak-anak– berjajar terbujur kaku. Di Aceh, jumlah korban meninggal 100.000 orang lebih.
Di Nias, beberapa pulau kecil dan penghuninya dikabarkan lenyap ditelan bumi. Tsunami memisahkan sanak-famili dan handai-taulan. Gadis Evi, 17 tahun, di Aceh Utara, menyesal setengah mati karena tak mampu merenggut tangan ibunya yang terseret bah. Evi pingsan dan tersangkut di pohon setinggi tujuh meter.
Dalam pekan-pekan ini, diprediksi gempa masih terjadi, dan disusul gelombang. Ratusan jenazah yang belum dikuburkan, plus liang lahat yang masih basah, memang menggiriskan. Kematian itu menggores dalam. Laut diciptakan untuk rezeki manusia, tapi hari Minggu itu menimbulkan malapetaka.
Saat berkunjung ke Aceh, Presiden SBY mengatakan: ”Mari kita berdoa bersama-sama agar cobaan yang berat tidak terjadi lagi, dan ke depan suasana makin baik.” Kita bingung dan terperengah melihat musibah yang nyaris tiada henti di negeri ini.
Pada satu sisi, tragedi ini melahirkan perenungan tentang ketidakabadian manusia. Kami menyadari bahwa kematian datang sewaktu-waktu, dalam keadaan siap atau tidak. Namun, tak urung, tragedi itu menyesakkan dada. Banyak dari kita masih tetap melepas tahun 2004 ini dengan hura-hura, sementara saudara kita dirundung musibah dan kelaparan.
Hidup itu, kata orang bijak, untuk menambah nilai kebaikan. Tapi, adakah dana bantuan kemanusiaan untuk Aceh dijamin sampai pada yang berhak? Kecurigaan tersebut, mohon maaf, bertolak dari fakta penyimpangan dana bantuan selama ini. Maklum, alam kita masih disemarakkan oleh kebodohan para penghuninya.
Bencana nasional ini memang harus jadi pembelajaran menghadapi esok. Akibat dan penyebabnya dibedah. Atau, paling tidak, ”murka” itu menampakkan sinyal yang perlu dipahami banyak orang. Murka ayahku saja bikin nyaliku ciut, apalagi murka Allah saat membalikkan bumi dan mengaduk-aduk isi laut. Subhanallah!
(Widi YM)

Spread the love

One Reply to “Murka

  1. Hikmah bencana Aceh, mensejahterakan orang banyak, ironisnya bukan di Aceh, tapi ditempat lain. dengan tolok ukur meningkatnya daya beli masyarakat di daerah lain, khususnya jakarta. Pasar elektronik penjualannya meningkat cukup tajam. Ada apa dibalik bencana tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *