Cerita

DALAM SEBUAH PENERBANGAN MENUJU SEPINGGAN18 min read

Suasana Bandara Soekarno Hatta siang itu cukup ramai, manusia berbagai rupa mengambil bagian dalam keramaian itu. Aku berdiri, mengantri dengan sabar didepan loket tujuan Balik Papan untuk mengambil boarding pass, antrian yang cukup panjang pikirku. Seorang bapak yang tampak perlente berdiri dibelakangku, ia tampak memperhatikan tas yang aku bawa, mungkin baginya aneh, seorang anak gadis pergi dengan bawaan yang cukup banyak, tetapi lebih memilih menggunakan tas untuk berolahraga ukuran besar, dibandingkan dengan travel bag yang lazim dibawa wanita, dari caranya memandangku, sangat mungkin ia berpikir bahwa aku kampungan. Ah, masa bodoh aku balas menjawabnya melalui tatapan mataku, aku lebih suka menggunakan tas ini, tampak lebih santai buatku, siapa engkau mencemooh caraku berpakaian? Pandanganku menantangnya.

Antrian kami terus maju, sehingga saatnya aku berada didepan loket, tiba-tiba seorang gadis dengan seragam biro perjalanan yang tampaknya sebaya denganku, memotong antrianku. Aku menegurnya, jelas-jelas dengan nada tidak suka. Dan dia menjawab dengan sok penting, menunjuk pria asing disebelahnya, dan berkata, “Cuma sebentar kok Mbak, cuma sebentar…!”. Aku membelalakkan mata tak percaya, luar biasa bahkan kata maaf pun tidak diucapkannya atas pelanggaran terhadap hak-hakku, petugas loket yang menangani boarding pass hanya tersenyum melihat reaksiku, mungkin ia telah terbiasa dengan hal ini, tetapi tidak dengan aku. Petugas itu bahkan tetap melayani gadis itu, dan tidak mempersilahkan aku lebih dulu. Sesaat aku rasakan darahku naik ke kepala.
Aku menatap gadis itu dengan sebal, lalu bergantian menatap pria asing yang berdiri disebelahnya dengan pandangan sebal yang sama. Aku perhatikan pria asing itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan teliti, mengira-ngira apa kira-kira yang diberikannya kepada gadis itu sehingga ia dengan teganya memotong antrianku. Dan pria itu balas memandangku dengan perasaan rikuh, mungkin sebagian dirinya merasa bersalah, dan sebagian lagi merasa tak nyaman karena aku memandangnya dengan rasa sebal, atau mungkin dalam hatinya dia sibuk bertanya-tanya, mengapa gadis ini tidak ramah seperti orang Indonesia yang lain. Ia mencoba tersenyum padaku, dan aku membuang muka, tak sudi pikirku, kau potong antrianku dengan gayamu yang sok penting, dan kini kau tersenyum padaku. Tidak seorang pun aku relakan memotong antrianku tanpa ijinku, tidak kau dan bahkan tidak juga seorang presiden sekalipun omel hatiku masih dengan senandung sebal yang sama.
Kubiarkan gadis itu menyelesaikan urusannya, kemudian ketika aku telah menyelesaikan giliranku, tanpa membuang-buang waktu aku bergegas melangkah menyusuri koridor, menuju ruang tunggu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menjajari langkah panjangku. Aku menoleh, dan ternyata pria asing itu yang melangkah disebelahku, dia kembali tersenyum, dan aku kembali membuang muka, sementara gadis dari biro perjalanan yang tadi memotong antrianku memandang tidak suka ke arah kami dari kejauhan. Aku mempercepat langkahku, bermaksud meninggalkan pria asing itu, dan bermaksud menunjukkan bahwa aku benar-benar sebal dengan kejadian tadi. Selama beberapa detik, aku lega, berpikir bahwa ia tak akan menyusulku, sampai kulihat lagi langkah-langkah panjangnya mensejajariku. Kembali aku menoleh, menatapnya dengan membelalakkan mataku, menegurnya tanpa bicara, dan ia kembali tersenyum, hanya tersenyum. Aku menghentikan langkahku selama beberapa detik, dan dia mengikuti apa yang aku lakukan. Saat aku sedang berpikir apakah lebih baik kalau kutegur dia keras-keras, lagi-lagi dia tersenyum padaku. Luar biasa pikirku, apa orang ini sudah kehilangan nalar dan sopan santun, atau memang dia sebangsa idiot pikirku heran. Akhirnya aku putuskan untuk bersabar, toh nanti di pesawat dia tak akan bisa mengikutiku seperti orang dungu begini, pikirku lagi. Jadi kubiarkan dia mensejajari langkahku, dan kubiarkan ia duduk disebelahku diruang tunggu, tanpa bicara sepatah kata pun padanya, dan setiap kali aku memandangnya, dia hanya tersenyum seperti yang sudah-sudah, tanpa aku pernah sekalipun membalasnya.
*****
Saat boarding pun tiba, aku berdiri dan melangkah dengan lega, berkata padanya dalam hati, bahwa sekarang aku tak harus lagi melihat senyummu yang menyebalkan itu, dan aku merasa merdeka. Aku semakin lega, ketika mengetahui bahwa kursiku ternyata terletak persis disamping jendela, kubalas senyum pria setengah baya yang duduk disebelahku dengan ramah, kekesalanku karena kejadian tadi sudah lenyap. Entah kenapa setiap melihat pria atau wanita setengah baya aku selalu teringat pada ayah dan ibu, dan itu selalu membuat perasaanku lebih lembut. Aku sandarkan kepalaku pada bantalan kursi, membunuh waktu sambil mengamati aktivitas diluar pesawat. Tiba-tiba aku mengantuk, mungkin karena semalam aku tidur begitu larut, menarikan jari-jariku diatas keyboard komputer untuk menyelesaikan hasrat yang bagiku selalu tidak bisa ditunda-tunda, menulis. Lalu pesawat terasa seperti lepas landas dikepalaku.
Aku sedang terbang membelah awan bersama pesawat ini, ketika sentuhan lembut pramugari yang cantik membangunkanku, memberitahu bahwa sebentar lagi pesawat akan lepas landas, aku tergagap, belum terbangun sepenuhnya dari lelapku yang teramat pendek. Segera kukenakan sabuk pengaman, aku masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi saat kepalaku menoleh kesebelah kanan, lalu aku terhentak sadar, sesadar-sadarnya. Pria asing itu duduk disebelahku, dan kembali tersenyum melihat kekagetanku karena jelas ia telah menukar tiketnya dengan bapak setengah baya yang tadi duduk disampingku. “ Apa kau gila?”, tanyaku spontan dalam bahasa inggris dengan nada ketus. Dia tertawa renyah, memandangku tak percaya dan berkata, juga dalam bahasa inggris, “Akhirnya kau mau juga bicara denganku…!”
Aku kembali menatapnya sebal, “ Yeah, aku bicara padamu, apa kau senang dimaki-maki?”, tanyaku lagi dengan nada ketus yang sama. Dia kembali tertawa menatapku, “Kau lebih cantik dengan wajah ketusmu itu, terutama sehabis bangun tidur,” ujarnya kalem. “ Kau pikir kau siapa? Menilai wajahku…apa kau juri kontes kecantikan eh…?”, tanyaku makin sebal, hatiku bertanya-tanya tentang kegilaan orang yang sekarang duduk disebelahku ini, mungkin ibuku benar pikirku, orang asing banyak yang gila. Kulihat dia menahan diri untuk tidak terbahak-bahak mendengar jawabanku, sebelum akhirnya kembali berkata dengan nada kalem yang tidak berubah, “Apa kau selalu sesinis ini jika baru bangun dari tidurmu…?”. Aku menatapnya dengan membelalakkan mataku, “Apa urusanmu…?”. Ingin rasanya aku memanggil pramugari, memintanya memindahkan mahluk menyebalkan ini dari sampingku, atau mungkin kalau perlu melemparnya keluar jendela, dan aku hampir melakukannya ketika ia menatapku serius dan berkata, “Aku mau minta maaf,” ujarnya singkat.
Mulutku ternganga selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali aku menguasai diri. Ia tetap menatapku dengan wajah seriusnya, seolah menegaskan permintaan maafnya yang selama beberapa saat aku anggap sebagai gurauan atau bahkan semacam hinaan. Aku hanya terdiam, memperhatikan wajahnya, mempertimbangkan apakah ada ketulusan disana, ataukah hanya sebuah sandiwara yang sedang ia pertontonkan. “Jadi, apakah kau mau memaafkanku…?”, tanyanya lagi. Aku memandangnya sungguh-sungguh, mungkin aku mulai menghargainya, bagaimana pun juga ia benar-benar telah mau bersusah payah hanya untuk menyampaikan maafnya, pikirku. “Kalau kau merasa terganggu karena aku duduk disebelahmu, anggap saja aku tidak ada, aku tidak akan mengajakmu bicara lagi, tapi setidaknya aku sudah menyampaikan permintaan maafku,” lagi ia berkata.
“ Tidak apa-apa,” kataku sambil menatapnya juga dengan serius. “Itu bukan salahmu, kau tahu? Mental bangsaku sampai kapanpun selalu begitu, bangsa yang terjajah, bangsa kuli, bangsa yang selalu mudah untuk dibeli dengan uang, bangsa yang terlalu mencintai kemudahan padahal belum pantas mendapatkannya,” ujarku lagi. “Maksudmu?”, tanyanya lugu. Aku tertawa, “Darimana asalmu?”, tanyaku. “UK,” jawabnya pendek. Kembali aku tertawa, “Negaraku telah dijajah selama 350 tahun oleh bangsa Belanda, kau tahu…?”. Dia tersenyum, “Kurasa aku pernah mendengarnya…,” ia menjawab. Aku tertawa lagi, “Dan kalau aku tidak salah ingat pada pelajaran sejarahku, negaramu pernah ikut berkongsi dalam penjajahan itu melalui VOC…,” Sekarang dia yang tertawa, “Kau benar…!” ujarnya, lalu ia bertanya, “ Sepertinya kau menyukai pelajaran sejarah ya? Kau mengingatnya dengan baik .” “Tidak tahu! Aku tidak tahu apa aku pernah benar-benar suka pada pelajaran sejarah, materi-materi pelajaran itu menempel begitu saja diotakku,” jawabku sekenanya. Dia tertawa renyah, menatapku lagi dengan pandang tak percaya, sambil berkata, “ Tapi kau benar-benar terdengar seperti orang yang tergila-gila pada sejarah, kalau boleh aku tahu, apa yang kau dapatkan dari pelajaran sejarah itu, eh?”
“Aku tak tahu pasti, namun sejak aku mulai belajar sejarah, aku sering bertanya-tanya, mengapa butuh waktu begitu lama bagi bangsaku untuk merdeka, tentu saja aku bertanya bukan untuk mengecilkan arti pahlawan bangsaku, mereka tetaplah berjasa besar dimataku sampai kapanpun, masing-masing dari mereka tetap tak tergantikan. Tetapi pertanyaan tentang itu selalu mengetuk-ngetuk hati dan pikiranku. Secara sederhana aku berpikir, bagaimana mungkin negara sekecil Belanda bisa menjajah negeri sebesar ini, dengan jumlah penduduk sebanyak ini selama ratusan tahun…itu hal yang aneh…apakah kau juga berpikir seperti aku… atau setidaknya mengerti pikiranku?” aku menatapnya serius. Dia hanya menanggapi dengan senyum yang aku artikan sebagai isyarat untuk melanjutkan apa yang aku ingin sampaikan, entah kenapa aku merasa bahwa dia menikmati pembicaraan ini dan aku memutuskan untuk melanjutkan.
“Aku mencoba mencari jawabnya lewat sejarah, yang mengatakan dari segi kepandaian jelas orang-orang dinegaraku kalah jauh dengan negara penjajah itulah sebabnya pendahulu kami terjajah sekian lama. Lantas aku berpikir, kalau memang pendahuluku lahir dari nenek moyang yang benar-benar bodoh, mengapa kami bisa punya candi yang begitu megah, yang membuatnya pun aku yakin tidak mudah… aku tidak bisa percaya dengan alasan kebodohan itu. Lalu aku coba percaya pada alasan lain, yang mengatakan bahwa senjata yang pendahulu kami miliki, tidak terlalu canggih. Tapi, kembali aku menjadi tidak percaya pada alasan yang diberikan sejarah padaku, bukankah senjata yang paling maut didunia adalah tekad dan keinginan yang disertai bukti nyata,” aku kembali memandang kearahnya, dan dia hanya tampak manggut-manggut. “Apa kau mengangguk-anggukan kepalamu karena kau mengerti atau mengantuk?” Dia tertawa terbahak-bahak, “Apa kau selalu seterus terang ini setiap kali berbicara dengan orang yang baru kau kenal?” tanyanya sambil tersenyum. “Ya, kenapa?” jawabku singkat. “Aku terkesan, kau orang yang sangat berterus-terang, dan kau tampaknya begitu mengerti sejarah bangsamu, tak banyak orang begitu,” ujarnya lagi, “ Jadi, apakah akhirnya kau temukan sebab utama dari lamanya penjajahan itu setelah pencarianmu?” tanyanya.
“Ada bagian lain dari sejarah mengatakan bahwa saat itu negaraku masih terpecah-belah, masih belum mengerti akan arti sebuah persatuan, tetapi buatku mustahil pendahuluku tidak mengerti arti persatuan dan kesatuan, sedangkan jauh sebelum itu, Sumpah Palapa yang isinya akan mempersatukan seluruh wilayah nusantara diucapkan oleh Maha Patih Gajahmada.” Aku berhenti sejenak. “Lagi, aku mencari alasan lain dari sejarah yang bisa kuterima atas keberhasilan penjajahan yang begitu lama. Namun semakin aku mencari, semakin tidak percaya aku atas apa yang sejarah katakan padaku sebagai fakta. Akupun memutuskan untuk tidak terlalu percaya dengan sejarah. Setidaknya aku tidak ingin menelan apa yang dituliskannya mentah-mentah, sampai akhirnya aku sadar, sejarah dinegara manapun, apakah itu milik bangsamu, bangsaku, atau negara adidaya sekalipun, jika terkooptasi politik, cenderung mencari kambing hitam, dan cenderung memanipulasi, demi mencari justifikasi atas kesalahan atau kebodohan yang dilakukan oleh bangsa itu sendiri pada masa lalu. Itu tentu saja pemikiranku secara pribadi,” paparku. Dia kembali memintaku melanjutkan. Aku mengangguk sementara tanganku memencet bel dan minta pada pramugari untuk memberi kami jus dingin. Segera pramugari yang cantik itu menyiapkannya. Aku meneguk minumanku, rasa dingin yang nikmat mengalir dalam kerongkonganku. Kami, masing-masing hanya terdiam untuk menikmati jus kami beberapa saat.
*****
Gelasku sudah kosong, aku kembali melanjutkan uraianku,“ Kau tahu…? Karena capek berpegang pada sejarah, akhirnya aku menggunakan teori biologi untuk memuaskan keingintahuanku. Aku memutuskan untuk melihat kepada diri kami sekarang karena aku pikir kami adalah bukti hidup dari apa yang telah sejarah wariskan pada kami. Meskipun aku tahu kami tidak hidup pada saat itu, tetapi ada sesuatu yang telah diwariskan secara turun temurun pada kami. Yang utama tentunya karakter dasar dan sikap hidup dari masing-masing pendahulu kami, itu tercetak dalam pola DNA kami. Demikian pula dengan perubahan drastis yang kita buat dalam diri kita saat ini, akan merubah pola DNA kita dan diwariskan pada keturunan selanjutnya. Aku yakin, begitu juga dengan karakter dasar bangsa kalian, masing-masing dari kita adalah bukti hidup dari sejarah, aku bisa percaya terhadap hal itu. Dan kau tahu? Sejak aku memperhatikan dan menempatkan diri kami dan kalian, sebagai bukti hidup dari warisan sejarah pendahulu masing-masing, mengertilah aku mengapa bangsa ini terjajah begitu lama. Tiga ratus lima puluh tahun oleh bangsa Belanda didukung oleh kongsinya pada mula-mula penjajahan itu, ditambah tiga setengah tahun oleh bangsa Jepang yang menyebut dirinya sebagai saudara tua kami… kau mau tahu kenapa…?” tanyaku padanya. Ia menggangguk dengan antusias, tertarik mendengarkan paparanku meskipun aku bisa mengira-ngira itu merupakan hal baru yang pasti terdengar aneh baginya.
“Bangsaku bukan bangsa yang bodoh, bukan bangsa yang tidak mengenal persatuan, dan bukan pula bangsa yang tidak mampu menciptakan kecanggihan dan berinovasi. Tetapi bangsaku penuh dengan orang-orang yang tidak mampu menghargai sesamanya sendiri. Dan kejadian diloket tadi adalah satu dari sekian banyak kejadian yang ku alami yang membuktikan hal itu. Terkadang aku heran, didunia yang sedang terkena wabah rasisme yang terselubung ini, kami justru kehilangan penghargaan terhadap sesama kami, kami menjadi rasis terhadap sesama kami. Sebagian dari kami akan menghamba kepada orang asing yang kami anggap pintar, sementara orang-orang pintar yang berasal dari negeri kami sendiri, dan berusaha untuk kemajuan bangsa, justru harus dicaci maki dan terpaksa meminggirkan diri keluar negeri. Sebagian dari kami akan tersenyum ramah pada orang asing, dan membuang muka ketika harus berhadapan dengan sesamanya sendiri. Sebagian dari kami akan dengan senang hati membantu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan orang asing semacammu, dan tidak menggubris permintaan atau pertanyaan dari sesama bangsanya. Hal itulah yang sesungguhnya merupakan suatu kegagalan besar bagi kami, dan jelas bagiku itulah yang menyebabkan negaraku terjajah selama ratusan tahun. Dan disaat seharusnya kami menjadi negara yang merdeka penuh, atas nama kemajuan dan modernisasi sesungguhnya kami tak pernah benar-benar merdeka,” paparku lagi. Dia tersenyum menanggapi dan berkata, “ Apa kau tidak terlalu berlebihan dalam menilai hal itu. Aku pikir mungkin kau terlalu apriori terhadap kami, padahal kami ada disini untuk membantu kemajuan bangsamu!”
Aku menatapnya sinis, “Kau ingin tahu mengapa aku begitu apriori terhadap kalian, orang-orang asing dinegaraku?” tanyaku. “Ya,” jawabnya mantap. “Karena kalian sesungguhnya masih menjajah kami, mungkin tidak secara fisik, tetapi kalian menjajah nilai-nilai hidup kami dan budaya kami, dan anehnya sebagian besar dari kami justru merasa senang atau boleh aku sebut bangga dengan penjajahan semacam itu. Atas nama modernisasi kalian datang ke negeri kami, dan kami membuka tangan lebar-lebar, menerima begitu saja kepura-puraan kalian, dan percaya mentah-mentah hal seperti yang baru saja kau katakan bahwa kalian disini untuk kemajuan kami. Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah kau masih akan tetap disini untuk kemajuan bangsa ini jika kami membayarmu dengan rupiah? Dengan gaji yang serupa dengan kami? Dengan standarisasi dan kualifikasi yang disama-ratakan dengan kami? Apakah kau masih akan tetap disini untuk kemajuan bangsa kami, jika kalian tidak kami perlakukan seperti raja-raja kecil dinegara kami, tetapi kami perlakukan seperti masyarakat umumnya? Mungkin dinegara asalmu kau hanya seorang pegawai dengan standar rata-rata sama seperti orang Indonesia kebanyakan, tetapi bukankah dengan bekerja disini kau mendapat banyak kehormatan, keuntungan, dan lain sebagainya yang mungkin tidak bisa kau dapatkan dinegaramu dalam waktu singkat? Jadi apakah kalian benar-benar akan peduli terhadap kemajuan bangsaku kalau tidak ada kepentingan dan keuntungan bagi kalian disini?” tanyaku tajam. Dia hanya terdiam, tampak ragu-ragu dan bingung memberi jawaban, dan aku kembali menyergahnya dengan ucapanku. “ Jangan munafik,” ujarku singkat. Ia memandangku serius sebelum akhirnya memutuskan untuk membenarkan ucapanku.
“Dan kau mau tahu, apa yang bahkan membuatku lebih miris lagi dari sebelumnya, belakangan ini kami malah memerlukan orang-orang asing bahkan membayar mereka untuk mengkaji masalah sosio-kultural dan sosio-politik di negeri ini, padahal seharusnya kami lebih mengenal diri kami sendiri dibanding mereka. Tidak cukup hanya dengan menggaji ekspatriat seperti kalian untuk bekerja dinegara kami, tetapi kami juga memerlukan kalian untuk mengatakan dan mendefinisikan karakter bangsa kami sendiri. Buatku itu hal yang teramat menyedihkan, ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang pahlawannya, tetapi buatku tak peduli jika bangsa itu mengenang pahlawannya secara gegap gempita, apakah dengan cara memberi nama seluruh jalan atau memberi nama tempat-tempat penting diseluruh negara itu dengan nama mereka, sesungguhnya bagiku bangsa yang tidak mampu mengenali dan menghargai dirinya sendiri secara sepantasnya ialah bangsa yang hancur tersia-sia. Dan sepertinya bangsaku sedang merangkak kearah kehancuran itu,” aku menatapnya sedih. Ia menatapku penuh simpati dan berkata, “Kau sungguh memikirkan negerimu ya, sudahlah santai aja,” ujarnya tenang. “Huh, mana bisa aku santai, aku tumbuh dan besar disini, dan aku mencintai tanah ini, kemanapun nantinya aku harus pergi, aku tetap mencintai tanah ini,” sergahku serius. Dia tertawa, dan membelalakkan matanya menggodaku. Aku ikut tertawa.
*****
Menit-menit setelah itu, kami terlibat pembicaraan ringan seputar latar belakang kami masing-masing, dan lama kelamaan harus akui bahwa ia adalah seorang teman seperjalanan yang menyenangkan. Pembicaraan kami yang seru terhenti oleh pramugari yang menyajikan makanan dan minuman. Dan aku tertawa geli melihat wajah pramugari yang sekilas tersipu, ketika pria disebelahku itu memberikan senyum manisnya dan mengatakan terimakasih dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.
“Kau tahu? Menurutku kau sangat tampan untuk ukuran orang asing, mengapa kau memilih untuk membuang dirimu berkerja begitu jauh dari hiruk pikuk kota, dilepas pantai yang mungkin hanya ramai oleh suara mesin bor?” tanyaku ketika pramugari itu meninggalkan kami. Ia tersenyum, tampak mempertimbangkan apakah ia akan menceritakan alasannya kepadaku, lalu akhirnya berkata, “Aku berjanji pada kedua orang tuaku, bahwa aku hanya datang kesini untuk bekerja.” Aku tertawa geli, “Apakah itu berarti bahwa kedua orangtuamu takut kau akan bertemu dengan seorang perempuan Indonesia yang menarik hatimu, membuatmu jatuh cinta, membuatmu menikah dengannya dan membuatmu membuang agamamu dan kewarganegaraanmu?” tanyaku. “ Hey, bagaimana kau tahu? apa kau bisa baca pikiranku?” tanyanya heran. Aku tergelak, “Tidak, aku tidak membaca pikiranmu, aku membacanya dari wajahmu!” Dia tersipu dan berkata, “Yah, mereka berkata bahwa aku sebaiknya berhati-hati dengan perempuan Indonesia, mereka memiliki semacam daya pikat yang mungkin hanya bisa digolongkan sebagai magic, itu yang aku dengar, apakah benar begitu?” tanyanya serius.
Aku tertawa, “ Magic? Aku rasa itu terlalu berlebihan, yang jelas aku tak punya hal semacam itu, tapi tetap kau harus berhati-hati padaku, aku kan bisa membaca pikiranmu,” gurauku menggodanya. Dia kembali tersipu, menyadari kebodohannya. “Tapi aku salut padamu, kau mempunyai rasa percaya diri yang besar untuk terus melakukan kekonyolan-kekonyolan tadi demi minta maaf padaku. Kebanyakan pria asing lain akan pergi begitu saja menghadapiku. Sepertinya kebanyakan dari mereka kesal, karena aku tidak menggubris stempel dolar dikepala mereka,” ujarku. Dia terbahak-bahak mendengarkan perumpamaanku. “Aku serius, sepertinya mereka langsung kehilangan percaya diri jika menghadapi orang yang tidak peduli pada dolar yang tertempel dikepala mereka. Tapi kau berbeda. Apa karena kau merasa dirimu tampan? sebab kalau ya, aku ingin kau tahu bukan karena itu alasanku memaafkanmu,” ujarku terus terang. Dia kembali terbahak, “Wow, kau benar-benar selalu terus terang ya… tapi aku benar-benar tak tahu mengapa tadi aku melakukan kekonyolan-kekonyolan itu untuk sebuah maaf… harus kuakui aku tak pernah begitu sebelumnya… mungkin karena aku merasa kau berbeda!” Aku tertawa, “Oh ya? Atau mungkin karena kau penasaran aku tidak membalas senyummu, sedangkan semua gadis begitu tergila-gila pada senyummu itu, eh?” balasku sekenanya. Dia menatapku dengan pandangan jenaka. “Kau sendiri kenapa membuang dirimu ke Balikpapan? Kau tampak seperti seorang gadis kota yang modern, apa kau bisa tahan tinggal dikota kecil seperti itu?” tanyanya.
“Aku berniat meninggalkan sebuah masa lalu di Jakarta, sebuah hubungan yang tak jelas, dan akan lebih mudah bagiku untuk meninggalkannya kalau aku tak berada disana, karenanya aku akan bertahan di Balikpapan nantinya, biarpun kota itu sepertinya bukan alamku,” ujarku kalem. Dia terperangah, menatapku serius dan berkata, “Wah kalau begitu ini merupakan sebuah perjalanan patah hati bagimu?”. Aku tertawa, “Tidak tepat begitu, aku pergi karena pria itu berkata jika ia bertemu lagi denganku dia akan melumatkuku hidup-hidup karena aku yang membuatnya patah hati, ini lebih seperti perjalanan untuk lari dari sebuah teror yang berasal dari seorang pria yang sangat posesif,” aku menerangkan. Dia kembali terperangah. Selanjutnya kami kembali menceritakan kisah kami masing-masing dengan antusias, sesekali obrolan kami disela oleh pengumuman awak pesawat tentang berapa menit lagi waktu yang tersisa sebelum kami mendarat di Bandar Udara Sepinggan.
*****
Malam sudah menyelimuti Balikpapan ketika akhirnya aku menginjakkan kakiku di Bandar Udara Sepinggan. Ia membantu membawakan tasku, dan kalau ada yang aku kagumi dari beberapa orang asing yang pernah aku temui adalah hal-hal semacam ini, membukakan pintu bagi perempuan yang bahkan mereka tak kenal, membawakan bawaan berat seorang pegawai perempuannya, yah hal-hal yang tampak sepele untuk dilakukan bagi laki-laki bangsaku, bahkan mereka cenderung menganggap hal itu sebagai memanjakan perempuan secara berlebihan, dan bersembunyi dalam kata emansipasi sebagai alasan. Tetapi dalam hati, kami kaum perempuan, senantiasa menganggap bahwa sesungguhnya hal itu merupakan sesuatu yang manis untuk dilakukan bagi kami, mungkin sepele, tetapi tetap manis.
Kami melangkah melewati kerumunan orang, baik itu sesama penumpang pesawat maupun mereka yang menjemput dilobi bandar udara. Beberapa orang tampak melambaikan kertas dengan namaku tertulis disitu, aku tersenyum, rupanya mereka pegawai dari biro perjalanan yang jasanya telah aku sewa. Aku meminta mereka mengambil tasku dari pundaknya dan aku mengecek barang bawaanku yang lainnya. Lalu orang-orang dari biro perjalanan itu langsung membawa dan memasukkan barang-barangku ke dalam bagasi pada mobil yang telah tersedia.
“Jadi dimana aku harus menghubungimu?” tanyanya tiba-tiba. Aku tertawa, “Begini, kupikir kita tak perlu saling berhubungan!” ujarku. “Kenapa? Aku senang berbicara denganmu,” sergahnya. “ Oke, mungkin begini saja. Kalau ada kesempatan kedua dalam hidup kita bisa bertemu, aku akan memberikan nomor teleponku, bagaimana? Apa kau setuju?” tanyaku. “ Kenapa begitu? Apakah kau tidak suka bicara denganku, atau kau masih belum memaafkan aku?” tanyanya bingung sambil menggaruk-garuk kepala. Aku tertawa lagi, “ Aku sudah memaafkanmu, dan aku suka berbicara denganmu, tapi aku tak ingin berhubungan dengan pria asing dalam bentuk apapun, mungkin karena aku banyak mendengar hal-hal buruk tentang kalian, sehingga kupikir kalian akan membawa pengaruh tidak baik untukku, mungkin aku pun seorang rasis!”, aku kembali tertawa. Dia tampak kecewa, “Kau tahu? Kau benar-benar gila, tapi aku sungguh berharap pada kesempatan kedua itu, atau setidaknya aku berharap punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan perempuan-perempuan lain semacammu. Kau sungguh berbeda dari yang semua perempuan yang pernah kutemui,” ujarnya serius.
Aku kembali tertawa, “Oh, jangan begitu, nanti kau dimarahi ayah dan ibumu!”. Dia tertawa mendengar ucapanku. “Baiklah, terimakasih, senang menjadi teman seperjalananmu,” ujarku sambil menjabat tangannya hangat. Dia menundukkan wajahnya, seperti hendak menyentuhkan pipinya pada pipiku, aku mengelak dan kembali tertawa, “Oh, maafkan aku, aku tidak bergaul dengan cara seperti itu, sampai ketemu yaa…!”, ujarku. Aku berpaling berjalan menuju kearah para penjemputku, meninggalkan dia yang mungkin masih sibuk menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin ia berpikir bahwa aku perempuan Indonesia yang aneh dan keras kepala, dan aku tak peduli. Toh aku tetap Indonesia dengan segala keanehanku. (To someone that might still waiting for the second chance outhere, I bet you are already back in UK…however it was a fun flight to remember :p)
Balikpapan, 14 September 1999
AGNES.

Originally posted 2007-01-11 16:14:47.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *