Daily Bread

The Pain Machine

March 22, 2007
The Pain Machine
READ: Acts 24:16; Ephesians 4:31-32
I myself always strive to have a conscience without offense toward God and men. —Acts 24:16
Dr. Paul Brand, who served as a medical missionary in India, told about lepers who had terrible deformities because their nerve endings could not feel pain. It didn’t hurt when they stepped in a fire or cut their finger with a knife, so they left their wounds untended. This led to infection and deformity.
Dr. Brand constructed a machine that would beep when it came in contact with fire or sharp objects. It signaled the warnings of injury in the absence of pain. Soon machines were attached to the patients’ fingers and feet. That worked well until they wanted to play basketball. They took the machines off, and often became injured again without knowing it.
Like physical pain to our bodies, our conscience alerts us to spiritual harm. But habitual and unrepentant sin can numb the conscience (1 Tim. 4:1-3). To keep a clear conscience, we need to respond to the pain of appropriate guilt by confession (1 John 1:9), repentance (Acts 26:20), and restitution to others (Luke 19:8). Paul could say with confidence, “I myself always strive to have a conscience without offense toward God and men” (Acts 24:16). Like him, we should not grow numb to God’s painful reminder of sin but allow it to produce in us godly character. —Dennis Fisher
My conscience must be well-informed
From God’s own sacred Word,
For conscience may be much deformed
When standards pure are spurned. —Fraser
A clear conscience is a soft pillow.
Santapan Rohani – 2007-3-22
MESIN PENCIPTA RASA SAKIT
Baca: Kisah Para Rasul 24:16; Efesus 4:31-32
——————————————————————————–
Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. —Kisah Para Rasul 24:16
——————————————————————————–
Bacaan Untuk Setahun: Yosua 10–12, Lukas 1:39-56
Dr. Paul Brand, yang melayani sebagai misionaris dalam bidang medis di India, menceritakan tentang para penderita kusta yang mengalami cacat parah karena ujung-ujung saraf mereka tidak dapat merasakan sakit. Mereka tidak merasa sakit ketika berjalan di atas api atau ketika jari mereka terluka oleh pisau. Oleh karena itu, mereka membiarkan saja luka-luka tersebut tanpa perawatan hingga infeksi dan cacat parah.
Dr. Brand membuat mesin yang akan berbunyi bila mesin itu bersentuhan dengan api atau benda tajam. Bunyi ini digunakan sebagai sinyal peringatan bahwa mereka akan terluka saat mereka tidak bisa merasakan sakit. Dengan segera mesin ini dipasangkan pada jari tangan dan kaki pasien. Hal ini berjalan dengan baik sampai pada akhirnya mereka ingin bermain bola basket. Mereka melepas mesin itu dan sering kali mereka terluka lagi tanpa mereka sadari.
Seperti rasa sakit yang dialami tubuh,hati nurani memperingatkan kita tentang adanya luka rohani.Namun kebiasaan berbuat dosa dan tidak mau bertobat dapat menumpulkan hati nurani kita (1 Tim. 4:1-3). Untuk menjaga agar hati nurani tetap bersih, maka kita perlu menanggapi rasa sakit yang diakibatkan oleh perasaan bersalah yang sesungguhnya dengan mengakuinya (1 Yoh. 1:9), bertobat (Kis. 26:20), dan membayar ganti rugi pada sesama (Luk. 19:8). Paulus dapat berkata dengan penuh percaya diri, “Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” (Kis. 24:16). Seperti Paulus, kita seharusnya peka terhadap peringatan yang menyakitkan dari Allah terhadap dosa, dan mengizinkan supaya peringatan itu menghasilkan karakter yang saleh dalam diri kita. —HDF
Hati nuraniku haruslah selalu diisi
Dengan firman Allah yang suci,
Karena hati nurani bisa mengalami luka
Saat menentang standar-standar kemurnian. —Fraser
Hati nurani yang murni memberikan ketenangan diri.

Originally posted 2007-03-22 09:17:14.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *