Motivasi

Empat Obat Mujarab3 min read

Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia  dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya  semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat  terlambat.
Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; “Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus  menju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini.
Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan  jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin  penyakitmu akan sembuh.”
Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya  yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.
Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan:  “Dengarlah.” Aneh bin ajaib, orang tersebut patuh pada apa yang diperintahkan.  Ia lalu duduk tenang mendengarkan desiran angin pantai serta deburan  gelombang yang memecah bibir pantai. Ia bahkan secra perlahan-lahan mampu  mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan melodi  musik alam di pantai itu. Telah begitu lama ia tak pernah duduk dan  menjadi sungguh tenang seperti hari ini. Ia terlampau sibuk dengan  usahanya. Saat ini ia merasa seakan-akan jiwanya dibasuh bersih.
Jam dua belas tepat. Ia membuka bungkusan obat yang kedua. Tentu  seperti halnya bungkusan yang pertama, tak ada obat yang didapati kecuali  selembar kertas bertulis; “Mengingat”. Ia beralih dari mendengarkan  musik pantai yang indah dan nyaman itu dan perlahan-lahan mengingat setiap  jejak langkahnya sendiri sejak kanak-kanak. Ia mengingat masa-masa  sekolahnya dulu, mengingat kedua orang tuanya yang senantiasa memancarkan  kasih di wajah mereka. Ia juga mengingat semua teman yang ia cintai dan  tentu jugamencintainya. Ia merasakan ada segumpal kekuatan dan  kehangatan hidup memancar dari dasar bathinnya.
Ketika ia membuka bungkusan ketiga saat waktu menunjukan jam tiga  tepat, ia menemukan secaraik kertas dengan tulisan: “Menimbang dan menilai motivasi”. Ia memejamkam mata, memusatkan perhatiannya untuk menilaikembali niat pertama ketika ia membangun usahanya. Saat itu yang menjadi inspirasi utama ia membuka usahanya adalah secara gigih bekerja untukmelayani kebutuhan sesamanya. Namun ketika usahanya kini telah  memperoleh bentuknya, ia lupa hal ini dan hanya berpikir tentang keuntungan yang  bakal diperoleh. Keuntungan kini menjadi penguasa dirinya, ia telah  berubah menjadi manusia yang egoistis, serta lupa memperhatikan nasib  orang lain. Ia kini seakan telah mampu melihat akar penyakitnya sendiri, ia  menemukan alasan yang senantiasa membuatnya cemas.
Ketika matahari telah hilang dan bentangan laut berubah merah, ia membuka bungkusan obatnya yang terakhir. Di sana tertulis: “Tulislah segala kecemasanmu di bibir pantai.” Ia menuju bibir pantai, lalu menuliskan  kata “cemas”. Ombak datang serentak dan menghapus apa yang baru  dituliskannya. Bibir pantai seakan disapu bersih, kata “cemas” yang baru  ditulisnya hilang ditelan ombak.
——————————-
Siapakah tokoh utama dalam kisah di atas???  Mungkin aku, mungkin pula anda.
Pernahkah aku secara tulus mendengarkan bahasa bathinku sendiri?
Atau pernahkah aku mengingat segala yang manis maupun pahit yang terjadi  di masa silam namun telah membentuk siapa aku saat ini??
Apa yang  menjadi motivasi utama hidupku hari ini dan besok??
Dan apa kecemasanku??

Originally posted 2007-04-26 10:42:16.

Spread the love

One Reply to “Empat Obat Mujarab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *