Anak Kehidupan Keluarga Orang Tua

Kisah David dan Telepon Umum5 min read

David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya,
terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya.
Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi.
Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut
keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya yaitu
satu keping uang logam itu ke dalam telepon.
“Halo, apa kabar,” telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km
jauhnya berbicara.
“David dengan nada agak terisak berkata: “Mama, saya tidak punya uang lagi,
sekarang lagi bingung karena kelaparan.”
“Ibu David berkata: “Anak tersayang, mama tahu.” Sudah tahu kenapa masih
tidak mengirim uang?
David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan
tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung
sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak
beres, ia cepat-cepat bertanya: “Mama, apa yang telah terjadi di rumah?”
Ibu David berkata: “Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan
ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah
kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah
terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi.”
Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah
dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri.”
Ibu David berbicara sampai di situ, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di
ujung telepon lainnya, air mata David juga “tes”, “tes” tak hentinya
menetes, dan ia berpikir:
Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung.
David berkata kepada ibunya: “Mama, kamu jangan bersedih, saya sekarang juga
akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian.”
Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh
keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau
memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan
hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja
menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau
harus drop out. Pada detik ketika David mengatakan “Sampai jumpa” kepada
ibunya dan meletakkan gagang telpon itu sungguh luar biasa menyakitkan,
karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai
kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah
meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi
gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar
menggerojok keluar dari alat itu.
David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima
uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana
menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri,
100% boleh, satu: Karena tidak ada yang tahu, dua: Diri sendiri betul-betul
sedang membutuhkan.
Namun bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya.
Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin hebat, David memasukkan
salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian
pelayanan umum perusahaan telepon.
Mendengar penuturan David, nona pelayanan umum berkata: “Uang itu milik
perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin
telepon)”
Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus
menerus memuntahkannya kembali.
“Sekali lagi David menelepon pelayanan umum yang berkata: “Saya juga tak
tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan.” Nada
bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran
kesepian dan kuyu, nona pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik
perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik
sedang perlu dibantu. Tak lama kemudian, nona pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu.
Dia berkata kepada David:
“Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk
anda, karena perusahaan kami saat ini tidak punya cukup tenaga, tak ingin
demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana .” “Hore!” David
meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah dan gamblang
menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama
menghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat
David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan
nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia
memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari
pekerjaan. Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh
pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David
menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang
kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss
supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya.
David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel. Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David.
Sang ibu menulis di dalam suratnya: “Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya
juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup.” Kamu harus
belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan.” Sesudah membaca surat itu,
David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga
tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali
memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan
gejolak hatinya. Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan
kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama,
David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan
kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon
tersebut: “Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan
anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya.
Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. “Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya.”
Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat dipenuhi
antusiasme: “Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah
berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami
keluarkan.
Ini bukannya merujuk pada $ 9,50 yang dikembalikan dengan $ 10.000,
melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang
prinsip tertinggi kehidupan: Di saat paling sulit, satu: Jangan melupakan
harapan sudah ada di depan mata; dua: Jangan melupakan menjaga moralitas.
“20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David sekarang? Di kota Chicago ?
Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, presiden direktur saat ini, ialah David. David, selain itu juga adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal.
(From: Hendric Leenardo )

Originally posted 2009-01-28 20:06:51.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *