Kehidupan Renungan

Cukupkah Anda?3 min read

Beberapa kali saya memperhatikan ketika putri kecil saya menyusu, putri kecil itu meminum susu sesuai dengan takaran yang ada entah itu asi atau susu formula, ketika saya berusaha memberi lebih jumlah susu kepada putri saya tersebut ternyata dia akan terbuang secara alami melalui muntahan yang keluar dari mulutnya. Dalam hal ini saya belajar kita manusia sebenarnya harus merasa cukup dengan apa yang kita miliki, tidak berlebihan dalam kehidupan, apapun yang berlebihan akan terbuang percuma.
Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak pernah cukup akan apa yang dimilikinya, Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam kehidupan seringkali menjadikan manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang di anut. Terkadang, ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi orang-orang yang sadar dan mencukupkan dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.
Ada suatu hukum yang namanya kenikmatan yang berkurang, Coba anda bayangkan ketika anda suatu hari sehabis perjalanan jauh dan anda sangat haus dan anda membeli kelapa muda, ketika tegukan pertama, rasa puas yang anda dapatkan sangatlah luar biasa bila diberi nilai akan mendapat nilai 7 (sekala 1-10), dan anda mencoba menambah 1 gelas kelapa muda lagi, apa yang akan anda rasakan kenikmatan yang anda rasakan tidak senikmat kelapa muda yang pertama dan kepuasan tersebut akan mendapat nilai 6, bila anda teruskan untuk menambah gelas kelapa berkali-kali maka nilai kenikmatan air kelapa muda itu akan semakin berkurang, sehingga pada akhirnya akan melewati angka 0, atau
tidak nikmat sama sekali, bahkan menjadi minus dan anda akan memuntahkan kembali air kelapa tersebut.
Orang yang merasa cukup hidupnya senantiasa bersyukur. orang yang merasa cukup Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan rasa syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, dan semangat cukup serta keinginan untuk berbagi inilah yang akan menuntun anda mencapai sebuah kenikmatan atau kebahagian hidup.
Kenapa manusia itu tidak merasa cukup karena kurangnya kemampuan kita mensyukuri apa yang kita miliki, kurangnya kemampuan mengendalikan keinginan, kemampuan menepatkan logika di atas ego. Mungkin perasaan itu tersemat dalam diri manusia sebagai pendorong untuk berjuang menggapai impian namun kadang menjadi tak terkendali ketika penepatannya kurang tepat.
Rasa tidak puas atau tidak cukup terkadang bersalah dari kebiasaan kita membanding-bandingkan sesuatu yang kita peroleh dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di halaman rumah kita terbentang rumput yang hijau, namun kita masih saja memandang bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.
Berbeda jika kita mampu melihat segala kelebihan yang terdapat pada diri seseorang sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan, dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa usaha yang nyata, tanpa harus kecewa dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang diperoleh oleh
orang lain tersebut.
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Maka mulailah berani untuk “membuat diri anda cukup” Kita sederhanakan sebagai prinsip hidupyang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita. apakah anda orang yang cukup…
“Karena Didalam perasaan Cukup terdapat Kebahagiaan”

Originally posted 2010-05-25 12:59:45.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *