Renungan

Kekuatan Pita Biru (II)5 min read

Denise, wakil presiden penjualan dan pemasaran sebuah perusahaan besar di California, menggerutu sewaktu mengambil tempat duduk di sebelah saya. Tidak biasanya dia begitu gusar. Saya sangat menyukai wanita ini, karena spontanitas, keberanian, dan keinginannya untuk selalu melihat yang terbaik dari orang lain. Namun hari itu, dia tampak lain.
“Saya sangat marah,” Denise berkata, “Penjaga keamanan yang ada di pintu merupakan orang terkasar yang pernah saya temui. Dia meminta saya memperlihatkan tiket makan siang sebelum diperbolehkan memasuki ruangan ini. Sebagai salah seorang pembicara utama, saya tidak tahu kalau saya harus membawa tiket makan siang sebelum masuk ke ruangan makan. Saya memperlihatkan lencana saya yang menunjukkan bahwa saya seharusnya diperbolehkan memasuki semua ruangan yang ada, tapi dia berkata bahwa itu tidak cukup. Dia malah berteriak kepadaku, ‘Tidak ada tiket, tidak ada makanan.’ Dengan tenang dan sopan, saya bertanya kepadanya di mana saya bisa mendapatkan tiket makan siang, tapi dia tidak mau menjawab. Dia malah mendorong saya menjauhi ruanganan.

“Saya meminta dia memberitahu namanya dan nomor lencananya dan mengatakan kalau saya akan melaporkan kekasarannya kepada atasannya.
“Dia berkata, ‘Pengacau, saya tidak akan memberitahu apa pun kepadamu!’
“Saya menulis nomor lencananya dan mengatakan saya akan melaporkannya. Kemudian saya segera berjalan melewatinya dan masuk ke ruangan ini. Saya tidak percaya betapa marahnya saya. Biasanya saya selalu ramah pada setiap orang dan mencoba menjadi orang yang menyenangkan, tapi orang ini tidak sama. Kemarahan ini benar-benar mengejutkan saya sendiri. Saya tahu Helice, kamu selalu mengajar kami untuk melihat yang terbaik dari orang lain, tapi yang ini adalah pengecualian!”
Orang-orang lain yang duduk dekat kami juga setuju bahwa penjaga keamanan yang berbadan besar itu adalah Tuan Gestapo.
“Sangat baik kamu memberitahukan perasaanmu kepadanya,” saya berkomentar, “Saya membayangkan sebelum siang ini berakhir kamu akan memberinya penghargaan dan memberitahunya bahwa dia telah membuat perbedaan.”
“Saya sudah takut kamu akan mengatakannya.” Kata Denise.
Pembicara utama, John Martin, seorang tokoh terkemuka dalam industri bangunan, mengakhiri ceritanya dengan mengutip cerita saya dari buku Chicken Soup for the Soul.
Anak laki-laki yang terkesima itu mulai tersedu-sedu, dan ia tak dapat menghentikan tangisnya. Seluruh tubuhnya terguncang-guncang. Ia menatap ayahnya dan di antara deraian air matanya ia berkata, “Aku berencana untuk melakukan bunuh diri besok, ayah, karena aku pikir Anda tidak mencintaiku. Sekarang aku tidak perlu melakukan hal itu.”
“Kita yang terjun di bidang industri bangunan, secara pribadi mau pun secara profesional,” John melanjutkan, “kurang menunjukkan perhatian dan empati kepada orang lain. Ini adalah saat untuk mengubahnya, dengan mengenali kebaikan dalam diri orang lain, berkomunikasi dengan perhatian, dan membuat perbedaan pada hidup orang lain. Sangatlah penting bagi kita untuk memberitahu rekan-rekan kerja, teman-teman, dan keluarga kita bagaimana mereka telah membuat perbedaan terhadap hidup kita. Saya ingin mengajak rekan bisnis saya untuk maju ke panggung dan memberikan penghargaan kepadanya atas perbedaan yang telah diberikannya kepadaku.”
Ketika John menyelesaikan acara pemberian pita biru kepada rekannya, kedua orang tersebut saling berpelukan. Kemudian dia memberikan penghargaan kepada saya sebagai penulis cerita tersebut dan mengajak saya untuk maju di hadapan sekitar 250 hadirin dalam acara pemberian pita biru “Aku Telah Memberikan Sumbangan”.
Dalam waktu beberapa menit, saya membagi pengalaman dengan para peserta tentang bagaimana memberikan penghargaan kepada orang yang duduk di sebelah mereka. Ketika mereka saling memberikan pita biru kepada teman-teman sebelahnya, saya melihat wajah mereka bersinar oleh air mata, jabat tangan dan pelukan spontan mengisi seluruh ruangan. Orang-orang saling menepuk punggung satu sama lain dan berkata, “Saya tidak pernah menyangka saya bisa melakukan hal ini.” “Saya tidak bisa percaya si anu dan si anu benar-benar memuji dan menghargai saya.” “Acara memberikan penghargaan ini mempunyai kekuatan yang luar bisa. Kita harus melakukannya di mana saja!”
Saya sangat terkejut dan senang ketika melihat seseorang memberikan penghargaan kepada si penjaga keamanan. Wajahnya berubah lembut seperti anjing yang jinak pada saat pita biru disematkan di pakaiannya.
Dengan rasa ingin tahu, saya tersenyum dan berjalan mendekati penjaga keamanan itu dan berkata, “Hai, senang melihat kamu menerima pita biru. Kamu benar-benar telah melakukan pekerjaan dengan baik. Ini pasti pekerjaan yang sulit.”
“Anda benar, bu. Tempat ini sungguh kacau,” kata penjaga keamanan itu frustrasi, “Saya belum terbiasa bekerja di sini, tapi saya tahu tempat ini memerlukan sistem keamanan yang lebih baik. Mereka hanya memberitahu saya untuk tidak memperbolehkan siapa pun masuk tanpa tiket.
“Suka atau tidak suka, saya harus melakukan pekerjaan tambahan,” dia melanjutkan. “Bulan lalu istri saya tewas ditabrak pengendara mobil yang mabuk. Sekarang saya adalah orang tua tunggal dan ini merupakan saat-saat yang sulit untuk saya dan anak saya. Pagi hari saya bekerja sebagai juru taksir dan malamnya sebagai penjaga keamanan. Saya jarang mempunyai waktu untuk anak saya. Cerita Anda menggerakkan saya dan mengingatkan saya untuk selalu memberitahu anak saya bahwa saya mencintainya dan betapa dia sangat berarti bagiku.
“Omong-omong,” katanya dengan antusias, “Saya pernah menerima salah satu pita biru pada suatu acara delapan tahun lalu. Hal itu benar-benar membuat perbedaan pada diri saya. Saya masih meletakkan pita biru itu di kaca cermin. Saya melihatnya setiap hari dan pita itu mengingatkanku bahwa saya adalah seseorang. Maukah Anda menandatangani buku Chicken Soup for the Soul-ku ?”
Hati saya meleleh mendengar penjaga keamanan itu menceritakan perasaannya. “Saya sangat tersanjung menandatangani buku untukmu,” saya berkata dengan lembut. Saya melihat wajahnya yang lembut dan menulis di bukunya, “Untuk Larry, Anda adalah seorang ayah yang baik dan penyayang. Terima kasih untuk perbedaan yang telah Anda ciptakan.”
Air mata mengalir dari matanya ketika dia membaca tulisanku. Seperti telah mengenal puluhan tahun, kami saling berpelukan dengan hangat.
Ketika saya telah meninggalkan Larry, saya melihat Denise berjalan mendekati Larry dengan sebuah pita biru di tangannya.
Denise telah kembali ke sifatnya semula. Tanpa ragu, dia mendekati Larry. Saya melihat dia berbicara pada Larry dan kemudian meletakkan pita biru kedua di atas pita biru pertama Larry.
Setelah itu, Denise dan saya berjalan keluar dari ruangan itu dengan bergandengan tangan. “Saya tidak percaya apa yang barusan terjadi,” dia berkata, “Saya salah tentang laki-laki itu. Saya memberitahunya betapa saya menghargai pekerjaan sulit yang dilakukannya. Kemudian dia menceritakan bahwa istrinya baru saja terbunuh dalam sebuah kecelakaan. Dia menyatakan penyesalan atas kekasarannya tadi.
“Saya sangat terkejut dan mengeluarkan air mata. Satu-satunya yang terpikir olehku saat itu adalah memeluknya. Dan itulah yang baru saya lakukan.
“Ketika kamu memberitahu saya bahwa saya harus memberikan penghargaan kepada Tuan Gestapo, saya tidak bisa membayangkan ini bisa terjadi. Saya rasa sekarang saya mulai mengerti,” Denise mengakui. “Mulai dari sekarang saya akan berpikir dua kali sebelum membuat penilaian atas orang lain. Malahan, saya harus selalu mengingat bahwa setiap orang sesungguhnya membuat perbedaan.”
Prinsip terdalam manusia adalah keinginan untuk dihargai. (William James)
Ada dua hal yang paling diinginkan manusia, melebihi uang dan seks, yaitu penghargaan dan pengakuan. (Mary Kay Ash)

Originally posted 2010-12-22 19:06:02.

Spread the love

One Reply to “Kekuatan Pita Biru (II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *