Kehidupan

Hanya Sedikit3 min read

Beberapa hari yang lalu aku menerima telepon dari salah seorang teman
kuliahku yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar kabarnya.
Pembicaraan yang semula mengenai kegembiraan masa lalu dan acara wisuda
yang baru saja ia lalui berubah menjadi pembicaraan yang sangat menyentuh
hati ketika ia bercerita mengenai ayahnya.

Kesehatan ayahnya yang memburuk akhir-akhir ini membuat ia harus menjalani
rawat inap di rumah sakit.
Karena penyakit yang dideritanya, ayahnya menjadi susah tidur dan sering
berceloteh sendiri.
Temanku yang sudah beberapa hari terakhir tidak pernah tidur karena menjaga
ayahnya menjadi jengkel dan berkata dengan ketus pada ayahnya supaya
ayahnya diam dan tidur dengan tenang.
Ayahnya menjawab bahwa ia juga sebenarnya ingin beristirahat karena ia
sudah lelah sekali, dan jika temanku itu keberatan menemani dirinya,
biarlah ia sendiri menjalani perawatan di rumah sakit.
Setelah berkata demikian, ayahnya menjadi tidak sadarkan diri dan harus
menjalani perawatan di ICU (intensive care unit).
Temanku begitu menyesal atas kata-kata yang tidak selayaknya keluar dari
mulut seorang anak kepada ayahnya sendiri.
Temanku yang aku kenal sebagai orang yang tegar, menangis tersedu-sedu di
ujung pesawat teleponku. Ia berkata bahwa mulai saat itu, setiap hari ia
berdoa agar ayahnya sadar kembali. Apapun yang ayahnya akan katakan dan
perbuat pada dirinya akan diterima dengan senang hati.
Ia hanya berharap pada Tuhan agar diberi kesempatan untuk memperbaiki
kesalahannya yang lalu, yang mungkin akan disesali seumur hidupnya…….
Sering kali kita mengeluh ketika menemani atau menjaga orang tua kita hanya
dalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, bahkan dalam hitungan menit.
Tapi pernahkah kita pikirkan bahwa orang tua kita menemani dan menjaga kita
seumur hidup kita dan seumur hidup mereka.
Sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga tiba saatnya ajal menjemput, mereka selalu menyertai kita.
Ketika pada akhirnya mereka menghadap Sang Kuasa pun, seluruh kenangan yang
mereka tinggalkan selalu menyertai selama hidup kita.
Bayangkan betapa hancur hati kedua orang tua kita oleh (hanya) sepatah kata
yang singkat, “tidak”, yang keluar dari mulut kita ketika mereka berusaha
merengkuh kita dalam pelukan kasih sayang sejati, yang justru sering kita lihat sebagai sesuatu yang mengekang dan menahan kita untuk terbang bebas di angkasa.
Entah kata apa lagi yang paling tepat untuk menggantikan kata “tangis” bila
tiada lagi air mata yang keluar dari kedua mata mereka, karena telah habis
digunakan untuk menyirami hari-hari dalam kehidupan kita agar terus tumbuh
dan menghasilkan bunga dan buah yang menyemarakan hari-hari kelam dalam
roda kehidupan yang terus berputar.
Kita dapat mulai berjanji pada diri masing-masing bahwa sejak saat ini tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketika menemani dan menjaga kedua orang tua kita.
Tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketika merasa meraka terlalu
memperlakukan kita seperti anak kecil.
Percayalah, di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita yang mempunyai orang tua, yang merindukan hal-hal yang kita keluhkan, tetapi tidak pernah mereka dapatkan.
Sebenarnya, hanya sedetik waktu yang dibutuhkan untuk merenung dan menyalakan lentera yang akan membimbing kita ke tempat di mana kedamaian terpendam.
Sekarang tinggal tergantung dari diri kita sendiri, maukah kita meluangkan waktu yang sangat singkat itu namun besar artinya untuk sepanjang perjalanan hidup kita.

Originally posted 2010-12-26 03:18:22.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *