Renungan

Nasihat Edmund Hillary2 min read

Penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan
Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah ditanya wartawan apa yang paling
ditakutinya dalam menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada
binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa, atau padang pasir
yang luas dan gersang sekali pun!
Lantas apa? “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata
Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya,
“Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi
awal
malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku.
Lama-lama jari kaki terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kaki pun
tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia
harus ditandu.”
Harimau, buaya, dan beruang –meski buas– adalah binatang yang secara
naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi jurang yang dalam dan
ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai.
Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki,
seorang
penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.
Apa yang dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan, sebetulnya sama dengan
orang yang mengabaikan dosa-dosa kecil. Orang yang malakukan dosa kecil
–misalnya mencoba-coba mencicipi minuman keras atau membicarakan
keburukan
orang lain– sering menganggap hal itu adalah dosa yang kecil. Karena itu,
banyak orang yang kebablasan melakukan dosa-dosa kecil sehingga lambat
laun
jadi kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itu pun akan
berubah
jadi dosa besar yang sangat membahayakan dirinya dan masyarakat.
Melihat kemungkinan potensi kerusakan besar yang tercipta dari dosa-dosa
kecil itulah, Nabi Muhammad saw mewanti-wanti agar ummatnya tidak
mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal baik kendati kecil
juga.
Dalam kisah sufi, seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum
anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil itu
ternyata di mata Allah punya nilai sangat besar karena faktor
keikhlasannya.
Bukankah semua roh yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing
tersebut, hakikatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga? Itulah
nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang
kehausan.
Oleh Syaefudin Simon

Originally posted 2011-01-09 12:10:41.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *