Renungan

Pendirian3 min read

Ini adalah suatu kisah tentang satu keluarga sederhana yang terdiri dari ibu, ayah dan dua orang anak laki-lakinya yang berumur 6 tahun dan 15 tahun. Ayahnya adalah seorang pedagang kain di kota sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Keluarga ini hidup dengan rukun dan saling menghargai dan menghormati satu sama lainnnya.
Pada suatu hari sang ayah membawa kedua orang anaknya untuk ikut berdagang bersamanya di kota lain. Mereka pergi dengan mengendarai seekor kuda yang penuh dengan barang dagangan. Mereka bertiga duduk diatas punggung kuda tersebut.


Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang musafir Setelah berhenti sebentar dan berkenalan lalu musafir itu berkata “Apakah kalian nggak merasa kasihan dengan kuda itu yang kalian naiki bertiga?” Sang ayah berfikir kembali akan ucapan musafir tersebut dan mengambil keputusan biarlah dirinya berjalan kaki sambil menuntun kuda tersebut dan kedua anaknya duduk di atas kuda.
Di tengah perjalanan mereka bertemu lagi dengan seorang musafir yang lain Setelah berhenti sebentar dan berkenalan lalu musafir itu berkata “Hai nak..apakah kamu tidak merasa kasihan terhadap ayahmu yang berjalan sambil menuntun kuda sedangkan kalian berdua duduk diatas, dimana rasa hormatmu kepada ayahmu ?” Sang anak berfikir akan ucapan musafir tersebut dan mengambil keputusan biarlah dirinya berjalan kaki sambil menuntun kuda tersebut dan ayah dan adiknya duduk di atas kuda.
Tak berapa lama tengah perjalanan mereka bertemu lagi dengan seorang musafir yang lain Setelah berhenti sebentar dan berkenalan lalu musafir itu berkata “Hai adik kecil tidakkah kamu merasa iba dengan kakakmu yang berjalan sambil menuntun kuda sedangkan kamu dan ayahmu duduk diatas?” Sang adik berfikir akan ucapan musafir tersebut dan mengambil keputusan biarlah dirinya berjalan kaki sambil menuntun kuda tersebut dan ayah dan kakaknya duduk di atas kuda.
Mereka bertemu lagi dengan musafir lain tak lama setelah bertemu dengan musafir tadi Setelah berhenti sebentar dan berkenalan lalu musafir itu berkata “Hai orang tua dimanakah rasa cinta dan sayangmu terhadap anakmu yang masih kecil ini yang kam biarkan berjalan sambil menuntun kuda sedangkan kamu dan anakmu yang besar duduk diatas?” Kembali sang ayah berfikir akan ucapan musafir tersebut dan mengambil keputusan biarlah mereka bertiga berjalan kaki sambil menuntun kuda yang membawa barang dagangan mereka.
Akhirnya mereka bertiga hampir tiba di kota tujuan Sesampainya di gerbang kota mereka bertemu dengan salah seorang penduduk kota tersebut Setelah berhenti sebentar dan berkenalan lalu penduduk kota itu berkata “Mengapa kalian begitu bodoh dengan pergi berjalan kaki kemari sedangkan kuda ini kalian sia-siakan, kuda ini begitu gagah kenapa kalian tidak tunggangi saja sewaktu kemari?”
Sang ayah terdiam dan merenungi ucapan penduduk tadi Teringat kembali akan pertemuannya dengan orang-orang yang berbeda selama perjalannya ke kota ini. Setiap bertemu dengan orang lain mereka akan memberi komentar yang berbeda antara satu sama lainnya atas apa yang diperbuatnya Dan setiap itu pula dia berubah pendirian dan berubah mengambil keputusan. Dia merasa dirinya tidak memiliki pendirian yang tetap begitu mudah terpengaruh dengan omongan orang lain tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Kita tidak seharusnya begitu saja menerima ucapan orang lain tanpa memikirkannya terlebih dahulu Kita harus memiliki pendirian selagi pendirian itu baik dan tidak merugikan orang lain Pendapat orang lain tidak semestinya kita terima begitu saja Memang ada baiknya kalau kita dengarkan pendapat orang lain tetapi toh belum tentu baik untuk kita ikuti. Dan ada baiknya juga kita ikuti saran orang lain yang kita rasa itu baik dan membangun dan tidak selalu berubah-ubah
(Author Unknown)

Originally posted 2011-02-19 09:24:15.

Spread the love

One Reply to “Pendirian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *