Anak

Bukti Sebuah Keyakinan6 min read

(Walter W. Meade – Chicken Soup for the Unsinkable Soul)
Ketika anakku Luke masih kecil, ia senang duduk di pangkuanku sambil menonton televisi.
Kadang-kadang ia menunjuk ke sesuatu yang menurutnya adalah bagian dari dunia nyata – kecelakaan lalu lintas, kebakaran, Joe Montana, astronot – dan mana yang bukan. Big Bird, misalnya, merupakan bagian dari dunia khayal. Begitu pula dinosaurus.


Luke mengalami kesulitan untuk memahami bagaimana dinosaurus harus dianggap sesuatu yang nyata karena hewan itu tidak ada lagi di sekitar kita. Penjelasanku bahwa hewan ini pernah hidup tetapi telah musnah sejak lama sekali membuatnya bingung dan kesal.
Pada suatu hari, Mawmaw, nenek buyutnya, mengiriminya gambar seekor kucing dan memintanya agar ia mewarnainya.
Ia menyelesaikan pekerjaan mewarnai gambar tadi pada hari itu juga kemudian ia naik ke kursiku untuk memperlihatkannya kepadaku. Kucing itu berwarna merah, biru, dan hijau.
“Ayah belum pernah melihat kucing dengan warna-warni seperti itu,” kataku. “Tentu saja belum pernah,” katanya. “Ini kucingku dan nenek buyut,” seolah-olah penjelasan itu sudah cukup. Ia bergelung ke pangkuanku, kemudian aku memindahkan saluran TV ke saluran yang sedang menyiarkan kisah hidup John Kennedy.
Ketika sebuah gambar John F. Kennedy masih muda yang sedang mengemudikan sebuah perahu layar kecil muncul, Luke bertanya, “Siapa orang itu?”
“Itu John Kennedy. Dahulu ia presiden Amerika Serikat.”
“Di mana ia sekarang?”
“Sekarang? Ia sudah meninggal.”
Luke memandang ke mukaku untuk melihat apakah aku hanya menggodanya.
“Apakah ia betul-betul meninggal?”
“Ya.”
Untuk beberapa lama kami tidak bicara. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah kakinya juga meninggal?”
“Ya.”
“Apakah kepalanya juga?”
“Ya.”
Pertanyaan yang terakhir ini dilanjutkan dengan perenungan yang panjang. Kemudian akhirnya Luke berkata, “Yang jelas, ia masih bicara dengan baik sekali.”
Walaupun sudah kucoba untuk menahannya, aku tertawa juga – sebagian karena pendapatnya bahwa untuk orang yang sudah meninggal bicara orang itu masih baik sekali, itu yang pertama, dan kedua, karena Luke begitu teliti memikirkan masalah tersebut.
Sesudah tayangan sampai pada bagian ketika John F. Kennedy ditembak, Luke tampaknya dihantui dengan persoalan bahwa kematian sungguh ada.
Sesudah itu, hampir setiap kali berjalan-jalan ke hutan, kesempatan itu digunakan untuk mencari sesuatu yang mati – tikus, rakun, atau barangkali burung. Ia akan berjongkok mengamati temuannya dan kadang-kadang menyusun cerita tentang apa yang telah diperbuat oleh hewan itu sebelum mati.
Kadang-kadang kami membuat upacara kecil untuk menguburkannya. Aku tentu saja khawatir. Konsep tentang kematian terlalu besar untuk dipahami oleh seorang anak usia tiga tahun.
Pada suatu hari di hutan, kami menemukan sisa kulit dan bulu seekor kelinci. Luke membungkusnya dengan sehelai daun lebar. “Ini Peter si Kelinci,” katanya. “Ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya ketika seekor rubah memakannya. Ia sekarang ada di perut seekor rubah.”
“Tapi Peter si Kelinci ada di dunia khayal,” kataku, “sedangkan ini
kelinci betulan.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku hanya berpikir.” Menurutku maksudnya adalah bahwa ia sedang menyusun sebuah cerita yang entah bagaimana membuat suatu peristiwa dapat dipahaminya.
Aku menerangkan bahwa kebanyakan orang berpendapat bahwa hanya tubuh yang mati. Bahwa ada bagian lain, disebut jiwa atau roh, yang terus hidup. Kita tidak tahu dengan pasti tentang ini, kataku. Akan tetapi jika kita percaya dengan sesuatu yang ada jauh di dalam – walaupun kita tidak dapat membuktikannya – itu disebut keyakinan dan itu membantu kita memahami banyak hal.
Ini menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. “Kalau begitu, Ayah juga dua bagian?” katanya.
“Tidak persis begitu.” Aku tahu sekarang bahwa aku hampir sampai ke tujuan.
Pertanyaan-pertanyaannya tentang gagasan baru ini terus muncul sampai kira-kira seminggu. Pada kesempatan berjalan-jalan yang lain, aku menunjukkan kepadanya sebuah kepompong ulat yang sebelumnya telah menjadi rumah seekor kupu-kupu. Kuceritakan kepadanya bahwa seekor ulat telah menganyam kepompong itu untuk membungkus dirinya dan akhirnya muncul sebagai makhluk yang betul-betul berbeda – seekor kupu-kupu. Ia menerima fakta ini dengan mudah karena ia pernah melihatnya dalam tayangan televisi tentang ilmu alam.
Ia berkata, “Tapi kita masih dapat melihat kupu-kupu yang nyata. Ia pergi dari tempat satu ke tempat lain. Kita dapat menyentuhnya. Kalau kita meninggal, orang hanya dapat melihat kita melalui televisi.”
“Itu benar,” kataku. “Tapi kita dapat melihat orang yang sudah lama meninggal di kepala – dalam khayal kita.”
Ia berpikir lama tentang yang satu itu. Akhirnya, ia bertanya apakah itu mungkin. Aku memintanya menutup mata lalu membayangkan seseorang yang tidak sedang bersama kami. Temannya, Charlie, misalnya. “Dapatkah kau membayangkan Charlie?” Ia berseru kegirangan. “Tidak! Belum! Tapi aku dapat mendengarnya!”
“Ya, semacam itulah. Orang yang tidak bersama kita pada saat ini akan bisa terasa dekat dengan kita selama kita mengingat mereka.”
“Tapi aku dapat bermain dengan Charlie.”
“Ya.”
“Dan aku tidak dapat bermain dengan kelinci itu. Karena ia sudah mati.”
“Ya, itu benar.”
Ketertarikan Luke pada masalah ini terus berlangsung sampai beberapa hari kemudian. Tetapi, segera setelah itu perhatiannya beralih ke pesta ulang tahunnya yang akan datang, dan ia seperti lupa dengan masalah kematian ini.
Kurang lebih satu setengah tahun setelah itu, Mawmaw meninggal. Sebagai orang selatan, keluarga kami mempunyai tradisi untuk mengumpulkan seluruh keluarga dan sanak saudara di rumah duka untuk melakukan malam tuguran (berjaga di dekat jenazah sepanjang malam sebelum pemakaman).
Ketika Luke memaksa agar kami membawanya serta, aku dan istriku sependapat bahwa itu mungkin ada baiknya. Rumah Mawmaw penuh dengan tamu, makanan dan minuman. Ia telah menjalani hidup yang lama dan yaris sempurna, sehingga tidak seorang pun merasakan kedukaan yang menyiksa atau bahwa kepergiannya sangat tak terduga. Yang diingat oleh banyak orang hanyalah keceriaannya, kekuatanpribadinya yang luar biasa, humornya dan keramahannya.
Kami membiarkan Luke pergi ke mana pun ia suka – mengobrol dengan kerabat, makan, menunjukkan kelebihannya, dan bermain dengan para sepupunya.
Kemudian, sebagaimana yang telah kami duga, ia memintaku membawanya ke ruangan tempat Mawmaw dibaringkan.
Aku memegang tangannya dan mengantarnya berdiri di samping peti jenazah sang nenek buyut. Ia masih terlalu kecil sehingga yang dilihatnya hanya bunga, sehingga aku mengangkatnya setinggi pinggang. Ia memandang cukup lama kemudian berkata, “Oke, Yah.”
Aku menurunkan dia, lalu kami berjalan ke luar dari ruangan itu melewati sebuah gang panjang yang menuju ke dapur. Sebelum sampai ke sana, ia menarikku ke sebuah ruangan kecil tempat nenekku biasa mengerjakan kerajinan tangan dari bunga kering atau merajut. Sambil memandang dengan sangat serius ke arahku, ia berbisik, “Yah, itu tadi bukan Mawmaw.”
“Apa maksudmu?”
“Bukan dia,” katanya.
“Ia tidak di sana.”
“Lalu di mana?” tanyaku.
“Sedang mengobrol, entah di mana.”
“Mengapa kau berpikir begitu?” kataku sambil berlutut dan menaruh tanganku pada pundaknya.
“Yang jelas aku tahu. Itu saja. Pokoknya aku tahu.”
Lama kami tidak saling bicara dan hanya saling memandang. Akhirnya ia menghela napas dan berkata dengan lebih serius daripada yang pernah kulihat padanya,
“Apakah itu keyakinan?”
“Ya, Nak.”
“Kalau begitu, demikianlah caranya aku tahu. Itu yang aku dapatkan.”
Aku memandangnya dengan kagum dan gembira, sadar bahwa ia baru saja menemukan salah satu sumber daya yang paling hebat dari dalam hati – selain yang dipandukan baginya oleh ibunya atau aku. Ia telah menemukan suatu cara untuk memahami sesuatu yang akan selalu dijumpainya dalam sisa hidupnya, termasuk semua yang ada di balik bayangan.
Aku tiba-tiba merasakan kelegaan dan syukur yang luar biasa, di luar yang telah aku duga ketika hari itu dimulai. Aku memandang Luke yang tersenyum kepadaku, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan, sambil bergandengan, menikmati hidangan yang disajikan dan barangkali
menceritakan pengalaman kami sendiri kepada orang lain.

Originally posted 2011-04-18 13:41:30.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *