Cinta

Gadis2 min read

Saya bertemu dengan seorang gadis. Flamboyan namanya. Dia cantik. Dengan rambut yang berombak dan mata yang bulat berbinar saya temui dia di sebuah sekolah. Saat itu sedang waktu makan siang. Dan dia pun sedang bersiap menyantap bekal makannya.
Dari jauh, dia tersenyum pada saya. Saya dekati dia. Dia pun kembali tersenyum. Hmm…dia tampak lebih manis. Saya ucapkan salam, untuk berkenalan, dan dia pun mengucapkan sebuah nama, dengan terbata-bata.

Kami mulai bercakap-cakap, tentang makan siang yang ada didepannya. Diambilnya sendok, dan dimasukkannya sesuap nasi ke dalam mulutnya. Lahap sekali tampaknya. Satu-dua suap, dia teruskan makan. Saya hendak membantu menyuapkan, namun, dia menggeleng pelan. Ah, ada beberapa butir nasi yang terjatuh. Dengan gerak yang kaku, dibersihkannya remah-remah makanan itu. Saya ikut membantu, merapikan piring makannya yang sedikit berantakan.
Makan siang selesai. Kini, dia bersiap menyantap buah salak. Tampaknya, dia kesulitan mengupas buah ini. Segera saja, saya kupaskan sebuah untuknya. Satu persatu, kulit buah itu terlepas, dan saya berikan isinya kepada gadis dengan pita hijau itu. Dia bilang, “Ttterimaa..kkkasih.” Saya hanya tersenyum.
Tak terasa, sudah hampir satu jam kami duduk bersama. Dia, tampak senang sekali. Matanya yang bulat itu, terus berbinar-binar. Saya sentuh tangannya, dan dia pun
memegang erat punggung tangan saya. Seakan tak mau lepas. Kami hanya tersenyum bersama.
Lalu, saya ajak dia berjalan. Lorong-lorong sekolah itu, kami susuri pelan-pelan. Dia sesekali berhenti, dan menengok ke samping, menatap saya yang berjalan di sisinya. Kami lewati taman, kami lewati ruang-ruang kelas. Kami berjalan bersama. Namun, sudah waktunya pulang. Gadis itu pun harus kembali ke rumah. Saya antar dia hingga mobilnya. Selamat jalan.
***
Teman, entah, apakah kisah ini berguna atau tidak. Saya hanya ingin menyampaikannya buat Anda semua. Entah, apakah kisah ini juga memberikan kesan buat Anda? Namun, yang pasti, saya merasakan kebahagiaan bersamanya. Saya bisa rasakan perasaan yang penuh, yang bersemangat, saat bisa mendampingi gadis itu.
Saya bisa rasakan perasaan bangga, perasaan gembira, dan perasaan haru saat bersamanya. Entahlah. Sebab, mungkin Anda perlu tahu, gadis itu, adalah salah satu penderita Cerebral Palsy (gangguan otak belakang), yang cacat dan lumpuh, tak mampu berbicara. Tangannya kerap bergerak tak beraturan, begitu pula mulut dan kepalanya. Saya temui dia di SLB D (tuna daksa), YPAC Jakarta.
Dia berusia 9 tahun, dan selama waktu itu pula, dia habiskan dalam kursi roda. Selama itu pula, dia habiskan waktu dengan cibiran, dan perasaan jijik yang hadir di setiap orang yang menatapnya. Selama itu pula, dia harus dibedakan dengan anak-anak lainnya. Selama itu pula, dia sering menangis karena dijauhi oleh anak-anak seusianya. Cuma karena, dia cacat dan dia tak sempurna.
Saya berharap, bisa memberikan hari yang berbahagia buatnya siang itu. Saya berharap, saya bisa hadiahkan makan siang yang paling menyenangkan hari itu. Ya, saya berharap. Semoga dia bisa rasakan itu.
Teman, memang, mungkin gadis itu tak sempurna. Namun, saya yakin, dia bisa lebih baik dari kita semua, saat kita bertingkah sinis dan mengabaikannya.

Originally posted 2011-04-19 15:02:01.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *