Renungan

Kisah Seekor Burung Pipit2 min read

Tubuhnya  kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak  bersahabat.
Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi  habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu  dingin dan sejuk.
Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin  sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju,  makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya  terbungkus salju.
Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si  Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.
Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau  yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa  yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan  mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk  menolongnya.
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat  diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si  Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan  mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak  dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa  mati tak bisa bernapas.
Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada  bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas  lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak  kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber  suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang  nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih  menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi  dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan  baik hati.
Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap  gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si  Kucing.

Originally posted 2011-04-22 18:43:55.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *