Renungan

Seberapa Pintarkah Anda?5 min read

Setengah berlari Jo keluar dari gerbang sekolah. Anak SMP kelas dua itu kelihatannya gembira sekali. Bagaimana tidak senang, sebagai anak remaja, hari ini dia menerima piala bergilir kepala sekolah karena prestasinya sebagai juara satu lomba catur SLTP Merdeka. Di tangan kirinya ada piala yang sangat diinginkan oleh setiap murid di Sekolah Merdeka.
Jo menyusuri trotoar menuju rumahnya yang berjarak hanya beberapa blok dari sekolah. Jo berlari-lari karena ingin mengabari bundanya di rumah bahwa sekarang dia juara catur nomor wahid di sekolah. Jo membayangkan respon yang terkagum-kagun dari bunda yang sangat sayang padanya. Tidak lupa bayangannya akan sebuah hadiah dari papanya.
Tiba-tiba gerimis turun. Memang sejak tadi pagi mendung dan cuaca kurang baik. Tidak lama berselang hujan deras mengguyur bumi. Jo tidak berani ambil resiko menembus hujan walaupun dia sudah ada persis di portal perumahan tempat keluarganya tinggal. Jo segera berlari ke pos satpam dan bertemu seorang pria bersahaja. Seorang pria paruh baya bersandal jepit, celana pendek dengan kaos oblong.

“Selamat siang pak, numpang berteduh.” Jo basa-basi
“Silahkan nak, duduk di sini aja.” Pria paruh baya itu menggeser tubuhnya sehingga Jo kebagian tempat duduk.
“Pulang  sekolah nak?”
“Ya pak!”
“Wah, dapat piala nih, juara satu lagi, hebat.hebat.” Pria paruh baya terkagum-kagum melihat piala di tangan Jo.
“Juara apa ya nak?” Pria itu bertanya serius
“Catur pak! Saya jadi juara satu di Sekolah Merdeka! Dengan beberapa langkah saja semua mereka pada rontok!” Jo jumawa seraya menyingsingkan lengan baju seragamnya yang sempat basah. “Oh, ya kebetulan pak, sambil menunggu hujan reda bagaimana kalau kita bermain catur aja!” Jo memberi gagasan seraya terus menampakkan wajah jumawa.
“Maaf nak, bapak tidak paham!” Pria paruh baya bergumam pelan
“Gini aja, saya  ajarin jalan-jalannya ‘ntar bisa sendiri kog.” Jo meyakinkan
“Baiklah kalau begitu” Pria paruh baya itu menggut-manggut
Jo segera mengeluarkan papan catur mini dari tas punggungnya. Dengan bergaya seperti seorang sang juara, Jo mengatur semua anak catur dan mulai menjadi mentor. Pria paruh baya itu mengangguk-angguk sambil memperhatikan dengan serius. Tidak lama berselang, keduanya larut dalam permainan catur yang di pandu Jo. Dengan keyakinan yang besar, Jo merasa bahwa dalam beberapa langkah akan terjadi “Skak” dan raja pria paruh baya itu mati.
Di luar pos hujan mulai reda tetapi angin berhembus melalui celah-celah dinding. Jo tidak merasakan hembusan angin sepoi itu, bahkan sekarang keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Rajanya terdesak sementara perdana mentrinya sudah mati. Tidak ada jalan keluar selain menyerah. Jo tertunduk diam dan tidak berani menatap pria paruh baya yang nampak tenang seraya tersenyum-senyum di depannya.
“Skak mat!” Suara tenang pria paruh baya seperti guntur yang membelah angkasa. Jo terpuruk di sudut putih tanpa mampu berbuat apa-apa.
“Baiklah nak, bapak harus pulang, soalnya sopir saya udah datang tuh. Terimakasih buat pelajaran caturnya.” Pria paruh baya itu segera berlari menuju mobil dan segera menghilang di tikungan komplek. Jo terdiam tak bergerak seperti patung sampai seorang satpan masukke Pos, seorang satpam yang sangat Jo kenal.
“Siang Jo, kehujanan ya?” Satpam menyapa
“Eh, ah,..ya pak.”
“Kamu sempat ngobrol sama bapak yang tadi itu ya?”
“Pria bersandal jepit itu?”
“Ya, yang barusan keluar dari pos ini lho, bapak itu hebat Jo. Baru pulang dari invitasi catur tingkat dunia di Rusia. Grand Master brilian. Hebat dia Jo, juara satu!” Satpam bicara pelan dengan nada kagum tetapi seperti guntur yang membuat semua rambut di kepala Jo berdiri tegak lurus 90 derajat.
Jo berlari-lari menuju rumahnya. Jo membanting pintu kamarnya dan tidak menghiraukan suara bunda yang mengetuk-ngetuk dari luar. Jo tidak mau lagi menceritakan sesuatupun mengenai catur kepada bundanya. Jo bahkan melupakan janji hadiah dari papanya. Jo segera meletakkan piala bergilir juara satu itu di atas meja belajarnya. Jo mengambil kertas dan menulis. “Aku tidak akan pernah lagi menyombongkan prestasi apapun.”
Sering kali, kita merasa seperti orang yang paling bijaksana. Paling pintar. Paling berprestasi. Sehingga dalam pertemuan rapat, kita menyudutkan orang. Menertawakan ide-ide orang. Menganggap apa yang orang lain sampaikan adalah rendah dan tidak satu level dengan pemikiran kita. Rapat-rapat majelis gereja kadang-kadang menjadi arena yang lebih panas dari gedung kasino ketika seorang pendeta muda yang baru menyelesaikan S2 di universitas ternama di luar negeri berteriak kencang. “Ide ini yang paling tepat karena saya  sudah melakukan survey di luar negeri”. Demikian kira-kira bahasa pendeta master itu.
Namun apakah demikian adanya? Seorang Filsuf ternama dari Athena pernah berkata: “Hanya satu hal yang saya tahu yaitu bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Socrates mengatakan bahwa orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hakikat dari seni Socrates terletak dalam fakta bahwa dia tidak ingin menggurui orang. Sebaliknya dia memberi kesan sebagai seorang yang selalu ingin belajar dari orang-orang lain yang dianjaknya berbicara.  Hal ini sangat sesuai dengan pesan Kitab Suci.
Alkitab telah memberikan kita pesan yang utuh: “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.” Amsal 3:7. Sebab karena memang kita tidak perlu menganggap diri kita berhikmat karena asal dari pada pengetahuan adalah takut akan Tuhan (Amsal 1 : 7). Tidak ada yang cukup bijaksana kalau tidak bersumber dari Allah. Tidak ada satu hal apapun yang cukup bijaksana jikalau tidak di mulai dengan rasa hormat kepada Allah.
Berkali-kali saya menemukan orang-orang yang arogan seperti digambarkan dalam tokoh Jo di atas, mereka berbicara lantang, menulis tajam, dan kadang-kadang jumawa dengan menyertakan berbagai gelar akademis di depan dan belakang nama. Mereka sedemikian hebat dan memojokkan orang lain, menyudutkan pandangan orang lain, berupaya menunjukkan kepada orang lain bahwa dia adalah seseorang yang patut untuk diperhitungkan, tanpa mau perduli bahwa sikap  dan gaya mereka melukai banyak orang.
Bukan hanya dalam dunia sekuler, dalam gerejapun kita acapkali bertemu dengan pribadi-pribadi seperti Jo di atas. Mereka berpikir bahwa mereka cukup pintar sehingga layak untuk menjadi mentor. Mereka berpikir bahwa mereka cukup layak untuk berbicara hanya karena sedikit prestasi yang sudah dicatatkan dalam hidupnya. Mereka berpikir bahwa dengan sedikit pengakuan berprestasi dari komunitas di mana dia berinteraksi, cukup bagi dia untuk BERBICARA BANYAK. Mereka adalah pribadi-pribadi yang bertebaran di sekitar kita. Atau jangan-jangan kita adalah salah satu dari Jo-Jo itu? Tetapi hati-hatilah, ada PRIA PARUH BAYA yang segera akan membuat anda tersipu-sipu malu hingga tidak berani walau hanya sekedar mengangkat wajah.

Originally posted 2011-04-23 20:10:28.

Spread the love

One Reply to “Seberapa Pintarkah Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *