Renungan

Montir yang menjadi Filsuf2 min read

Ada seorang montir yang suatu hari merasa dirinya lebih cocok jadi seorang filsuf, dia belajar filosofi sambil sementara itu rajin bekerja. Lalu lambat laun karena banyak membaca karya-karya para filsuf, maka dia merasa bahwa dirinya juga ditakdirkan sebagai seorang filsuf.Akibatnya dia makin kurang menggunakan keterampilannya sebagai montir, malah dia lebih banyak berceloteh filosofi daripada bekerja. Akibatnya, yang tadinya dia montir terkenal yang banyak pelanggannya, lambat laun para pelanggan meninggalkan dia. Sayangnya montir tersebut tidak merasa ada yang salah dengan dirinya, malahan dia pikir bengkelnya menjadi sepi karena bengkelnya kurang kreatif. Maka dia mulai menciptakan suatu kreasi-kreasi baru untuk bengkelnya. Dia mulai menciptakan alat-alat ukur/test untuk mobil-mobil pelanggannya di masa yang akan datang. Tanpa disadarinya otaknya telah tercemar oleh karya-karya para filsuf. Maka dia mulai membuat alat-alat test untuk mobil-mobil tersebut dengan konsep-konsep filosofi. Dan dia berhasil membuat alat tersebut yang secara tekhnis otomotif adalah inovasi. Karena sebelumnya, belum pernah ada montir yang membuat alat test seperti itu. Beberapa kawan montir dia ada yang memuji, mencela, mempertanyakan, meledek inovasi tersebut. Karena si montir sangat yakin dengan hasil karyanya dan juga semenjak dia mempelajari filosofi maka dia memiliki watak baru yang senang marah-marah, maka semua tanggapan teman-teman montirnya cuma dijawab dengan amarah. Ada beberapa pelanggan yang memberanikan diri untuk mencoba di test menggunakan alat ukur/test kreasi baru dari si montir tersebut. Ternyata dengan alat barunya menghasilkan hasil pengukuran yang mengejutkan, lain dari yang lain. Terutama karena hasil pengetestan tersebut menyatakan bahwa; mobil tersebut tidak mempunyai nilai filosofi. Maka para pelanggan tersebut cuma bisa terbengong-bengong. Sebelum sempat bengongnya hilang, si montir tersebut meminta bantuan kepada teman-teman montirnya yang masih setia untuk segera mereparasi mobil tersebut, agar mempunyai nilai filosofi dengan arahan dari si montir. Hasil daripada reparasinya mobil tersebut menjadi sangat filosofis. Si pemilik mobil dengan heran dan berat hati terpaksa menerima mobilnya dalam keadaan begitu. Tetapi apa daya karena dia sudah membayar harga yang mahal dan dia merasa ini memang kebodohan dirinya kenapa dia merelakan mobilnya untuk di test dengan alat baru tersebut. Sewaktu dia mengendarai mobil itu pulang ke rumah, memang benar mobilnya sudah menjadi seorang filsuf lebih banyak berpikir daripada berjalan, alias mogok-mogok melulu.

Originally posted 2011-05-11 09:08:55.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *