Renungan

Renungan Bagi Ayah/Ibu/Anak6 min read

Bahan renungan yg cukup menarik bagi kita, terutama bagi Ayah/Ibu atau calon Ayah/Ibu. Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu.
Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga dimasa senja usia.


Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Di situlah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.”Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.” “Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”
Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya menengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika. Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya “Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”
Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya. Suami saya bertanya, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.
Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah.
Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah Sampai
tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah Pun kapan ia belajar
bicara dan mulai lucu bertingkah Namun aku tahu betul ia pernah
berkata,
“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”
Ref:
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan
tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh;
Ia berkata, “Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah,
wah … kita bisa main bola bersama.
Ajari aku bagaimana cara melempar bola”
“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan
sekarang” Ia hanya berkata, “Oh ….” Ia melangkah pergi, tetapi
senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku”.
“Ya, betul aku akan sepertinya”
Ref:
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan
tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah;
Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya,
“Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah” Dia
menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang
adalah meminjam mobil, mana kuncinya?” “Sampai bertemu nanti Ayah,
aku ada janji dengan kawan”
Ref:
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan
tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama” Aku sudah lama
pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;
Suatu saat aku meneleponnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”
Ia bilang, “Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku
tidak ada waktu.
Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang
sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku
senang
mendengar suara Ayah”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari;
Dia tumbuh besar persis seperti aku;
Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku.
Ref:
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan
tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak.
Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya, “I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”, kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.
CAT’S IN THE CRADLE
(by :Ugly Kid Joey)
My child arrived just the other day,
He came to the world in the usual way.
But there were planes to catch, and bills to pay.
He learned to walk while I was away.
And he was talking ‘fore I knew it, and as he grew,
He’d say, “I’m gonna be like you, dad.
You know I’m gonna be like you.”
And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, dad?” “I don’t know when,
But we’ll get together then.
You know we’ll have a good time then.”
My son turned ten just the other day.
He said, “Thanks for the ball, dad, come on let’s play.
Can you teach me to throw?” I said, “Not today,
I got a lot to do.” He said, “That’s ok.”
And he walked away, but his smile, lemme tell you,
Said, “I’m gonna be like him, yeah.
You know I’m gonna be like him.”
And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, dad?” “I don’t know when,
But we’ll get together then.
You know we’ll have a good time then.”
Well, he came from college just the other day,
So much like a man I just had to say,
“Son, I’m proud of you. Can you sit for a while?”
He shook his head, and he said with a smile,
“What I’d really like, dad, is to borrow the car keys.
See you later. Can I have them please?”
And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, son?” “I don’t know when,
But we’ll get together then, dad.
You know we’ll have a good time then.”
I’ve long since retired and my son’s moved away.
I called him up just the other day.
I said, “I’d like to see you if you don’t mind.”
He said, “I’d love to, dad, if I could find the time.
You see, my new job’s a hassle, and the kid’s got the flu,
But it’s sure nice talking to you, dad.
It’s been sure nice talking to you.”
And as I hung up the phone, it occurred to me,
He’d grown up just like me.
My boy was just like me.
And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, son?” “I don’t know when,
But we’ll get together then, dad.
You know we’ll have a good time then.”

Originally posted 2011-05-23 19:13:50.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *