Renungan

Belajar dari Ikan Sapu-sapu3 min read

Sudah satu minggu ini ikan sapu-sapuku meninggal dunia. Sejak saat dia meninggalkan akuariumku, baru tiga hari saja tidak dibersihkan, lumut pasti akan bermunuculan di akuarium kesayanganku.
Aku tidak ada waktu untuk membersihkan lumut-lumut itu dan juga tidak ada waktu untuk membeli ikan sapu-sapu yang baru.
Suatu hari kudapati lumut sudah memenuhi kaca bagian dalam akuariumku. Aku berpikir, ini tidak bisa dibiarkan. Keindahan ikan-ikan kokiku akan tersembunyi jika lumut-lumut itu kurelakan tumbuh dengan sehatnya menemani mereka.
Ikan-ikan sapu-sapu, bisa menjadi solusi untuk membantuku membersihkan lumut- lumut itu. Sapu-sapu adalah ikan yang makanan utamanya adalah lumut dalam akuarium atau kolam ikan.
Di sela-sela sempitnya waktuku, sepulang kerja, kuluangkan waktu untuk mampir ke toko ikan dekat rumahku. Aku berkeliling mencari ikan hitam yang tidak menarik dan berkulit kasar itu. Akhirnya kutemukan satu ikan sapu-sapu yang tidak begitu suram kulitnya, walaupun tetap tidak indah dipandang mata dan tetap saja kulitnya akan kasar.
“Berapa Pak, harganya?” tanyaku pada si penjual ikan
itu. “Tujuh ratus lima puluh rupiah, Mbak,” jawab si penjual itu. Segera kusodorkan uang dan setelah itu langsung kutapakkan kakiku menuju rumah.
Ikan sapu-sapu itu lalu aku cemplungkan ke dalam akuarium.
Dengan sigap dan bagai habis lepas dari kurungan ikan itu langsung meliuk-liuk. Dan … betapa senangnya dia menemukan sebuah sisi kaca yang penuh dengan lumut. Ikan itu langsung menempel di kaca penuh lumut tersebut. Tidak peduli dengan ikan-ikan kokiku yang seakan sedang mengerumuni ikan sapu-sapu itu untuk berkenalan.
Lagi-lagi karena tidak ada waktu, ikan itu memang hanya kucemplungkan dulu tanpa kubersihkan akuariumnya. Pikirku weekend nanti pasti aku ada
waktu.
Keesokan harinya, saat akan berangkat ke kantor, kusempatkan menyapa ikan-ikan kokiku. Wow, pagi ini mereka tampak begitu indah …. Tapi bukankah memang ikan kokiku itu warnanya indah. Ehhh … tapi kok lain ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Terus kuamati ikan-ikan kokiku dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Terus kuperhatikan mereka karena terlalu indah bagiku untuk kutinggalkan.
Saat pandanganku tertuju di pojok akuariumku, ada seekor ikan hitam yang tidak bersinar sama sekali. Dia seolah sedang menepi dalam dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu.
Aku tersadar …. Ya, ikan-ikan kokiku terlihat begitu indah dan bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca akuariumku buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumku kembali bening sehingga ikan-ikan indahku terlihat semakin indah. Ikan yang tidak menarik yang kubeli kemarin dengan harga murah itu telah melahap habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu kubeli, tetapi aku tidak tahu akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini. Kupandangi kembali ikan hitam yang sedang menyendiri itu. Dia yang tidak menarik itu telah membuat sesuatu yang indah untukku pagi ini.
Ikan sapu-sapu sangatlah tidak menarik. Dia tidak punya kelebihan fisik yang dapat dibanggakan. Harganya pun sangat murah. Tetapi, TUHAN memberikan kelebihan luar biasa pada dia. Dia dapat membersihkan permukaan kaca yang begitu kotor menjadi bening kembali. Itulah yang membuat ikan sapu-sapu begitu dicari-cari oleh siapa saja yang ingin akuarium atau kolam ikannya terbebas dari lumut.
Aku ingat diriku. Begitu banyak protesku pada TUHAN karena merasa aku tidak memiliki kelebihan dari segala sisi. TUHAN memakai ikan kecil itu untuk menyadarkan aku, “KU-ciptakan dirimu bukan untuk hal yang tidak berguna. Kau ada di dunia ini karena kau berarti bagi-KU, untuk melakukan hal-hal besar bagi-KU!”
Aku masih terpaku di depan akuariumku. Aku masih menatap ikan kecil yang tidak menarik itu.
Aku seperti menatap diriku. Hari ini TUHAN memberikan aku pelajaran indah dari seekor ikan. Hari ini, TUHAN tidak ingin aku semakin tenggelam dalam pencarian arti hidupku di dunia ini.
Aku berarti bagi-NYA, aku berharga bagi-NYA. Dalam pandangan mata aku memang tidak semenarik mereka yang ada di sekelilingku, tetapi ada hal istimewa yang TUHAN berikan padaku, dan aku yakin itu akan jadi
berkat bagi banyak orang, karena TUHAN yang menganugerahkannya.
Aku beranjak dari depan akuariumku. Jam di tanganku sudah menunjukkan waktu untuk segera berangkat ke kantor. Semangatku menapaki hari-hari ke depan kembali menyala. Kuucapkan syukur untuk semua pelajaran indah ini.
Terima kasih TUHAN! Terima kasih ikan sapu-sapuku!
Sumber: Tak Diketahui

Originally posted 2011-06-11 23:53:03.

Spread the love

3 Replies to “Belajar dari Ikan Sapu-sapu

  1. Isinya copy -> Paste ya ❓
    Walah… gimana sech nulis blog kok bukan dari hasil tulisan sendiri. ❗
    Malah lebih terkesan ‘plagiat’. Kalau emang nyadur / nyalin dari blog orang lain, harus dituliskan
    dari blog siapa/yang mana yang jadi sumbernya. 😡

  2. http://inspirasipagi.blogspot.com/2007/04/belajar-dari-sapu-sapu.html
    http://www.mail-archive.com/jesus-net@yahoogroups.com/msg03325.html
    http://www.sabdaspace.org/belajar_dari_sapu_sapu
    http://lamra.multiply.com/reviews/item/38
    Link-link diatas adalah beberapa blog yang isinya sama persis dengan tulisan yang ini. Bahkan dari
    tanggal posting nya yang link tersebut lebih dahulu mempostingkan tulisan yang sama. Bahkan
    menuliskan sumber tulisan yang diposting tersebut.

  3. Mohon maaf jika kami tidak menuliskan mencantumkan sumbernya darimana dan siapa penulisnya ini di sebabkan karena artikel yang kami terima dari email/milis/web/dll dan arsip yang kami miliki juga tidak mencantumkan sumber artikel ybs.
    Jika anda mengetahui sumber artikel atau artikel tersebut merupakan tulisan anda, silahkan di claim dan kami akan menuliskan sumbernya.
    Link link yang anda berikan juga tidak mencantumkan sumber dari mana 🙂
    Untuk tanggal posting. saat ini kamu masih memiliki ratusan artikel yang sedang menunggu masa tayang dalam bentuk file text yang telah di kumpulkan sejak tahun 1997.
    Silahkan anda baca disclaimer di halaman utama
    Kirimkan artikel untuk di muat atau klaim artikel anda dengan mengirimkan email ke : post@henlia.com atau post@fiorenz.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *