Renungan

Jangan Saling Menghakimi3 min read

Firman : Roma 14: 1-12
Salah satu persoalan serius dalam Kekristenan hari-hari ini adalah, orang-orang yang selalu merasa dirinya benar serta suka menghakimi orang lain, hal ini disebabkan karena tidak memahami Firman Tuhan dengan benar. Oleh karena merasa diri benar, ketika melihat orang lain yang berbeda dengan dirinya dianggap salah. Jadi, tidaklah mengherankan jika ada orang yang telah bertobat tapi hidupnya tidak jadi berkat…, bahkan sebaliknya sering jadi sandungan dan momok yang menakutkan karena menjadikan dirinya hakim atas orang lain. Setiap orang dikritiknya, disalahkannya, dan dianggap keliru lalu diancam dengan berkata; “kalau tidak berubah…, akan dihukum/dikutuk Tuhan”.


Seorang yang sudah bertobat, seharusnya membawa damai, kesejukan, kekuatan, dan jadi berkat buat setiap orang. Karena itu, seorang yang sudah bertobat tapi selalu jadi sandungan buat orang lain, pasti ada sesuatu yang keliru dalam hidupnya, sebab pertobatan yang sejati pasti membuat kita dapat jadi berkat bukannya jadi momok yang menakutkan. Ketika lihat orang bersalah kita tegur atau nasehati dengan cara yang bijak, waktu dan kata-kata yang tepat, sehingga membuat orang tersebut sadar dan mau bertobat, tapi jika dihakimi mustahil ia mau bertobat, justru sebaliknya akan melahirkan kebencian. Itulah sebabnya sebagai orang percara jangan menghakimi orang lan.
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang menghakimi ini, yaitu:
· Seorang yang selalu merasa dirinya benar, dan tindakan penghakiman selalu berawal dari hati.
· Seorang yang selalu mencari kesalahan orang, dimatanya ada saja kesalahan orang lain.
· Seorang yang senang membicarakan atau menyebarkan kesalahan orang lain, kadang-kala belum tentu isu tentang kesalahan orang itu benar.
Melalui ayat-ayat pembacaan ini kita pelajari beberapa alasan mengapa kita tidak boleh saling menghakimi, yaitu:
1. Ayat 1-3; Karena menghakimi itu adalah tanda ke-tidak dewasaan iman kita. Seorang yang dewasa akan mudah mengerti dan menerima orang yang berbeda dengan dirinya kemudian menuntun mereka ke dalam kasih Kristus. Tapi yang tidak dewasa sulit untuk beradaptasi, dan persoalan berat baginya untuk menerima perbedaan dengan orang lain.
2. Ayat 4; Karena kita sendiri tidak/belum sempurna.
Kalimat yang berkata, “siapakah kamu..,” hendak menunjukan bahwa sesungguhnya tidak seorangpun yang sempurna, itulah sebabnya tidak boleh menghakimi. Dan sebagai orang percaya kita sedang dan terus berjuang untuk menuju kepada kesempurnaan. Bukti kita tidak sempurna:
· Kita adalah mahluk yang terbatas, lemah, mudah kecewa, putus asa, dan mudah jadi lelah.
· Ada banyak hal yang tidak kita ketahui; tidak tahu isi hati orang lain, tidak tahu hari esok kita.
3. Ayat 7-8; Karena dengan menghakimi kita tidak dapat menjadi saksi.
Justru seorang yang suka menghakimi akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sementara seorang saksi hidup mengasihi. Kasih dan menghakimi adalah dua hal yang tidak bisa berjalan bersama-sama, Alkitab mencatat, “di dalam kasih tidak ada penghakiman, tapi pengampunan, dan mau menerima orang lain apa adanya serta menguatkan iman mereka”. Jadi, orang yang mengasihi pastilah tidak akan menghakimi, karena itu seorang yang suka menghakimi pasti tidak ada kasih di dalam hidupnya.
4. Ayat 10,12; Karena kita semua pada akhirnya harus berhadapan dengan takhta Allah.
Jadi, setiap orang mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap harus menghadapi takhta pengadilan Allah. Alkitab mencatat, “ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu”. Jadi, kalau suka mencari kesalahan orang, akan diukurkan juga kepadanya, tetapi jika kita mengampuni dosa orang maka dosa kita diampuni Allah. Ingat Allah kita adalah Tuhan yang adil dan benar, Ia akan menghakimi sesuai dengan perbuatan kita masing-masing, karena Dialah Tuhan hakim yang sejati.
Kesimpulan
Sebagai orang percaya kita tidak boleh saling menghakimi, karena penghakiman itu adalah wewenang Allah. Jadi seorang yang suka menghakimi tanda bahwa ia belum dewasa. Jangan menghakimi karena kita sendiri belum sempurna, dan penghakiman itu akan menghambat kita jadi saksi Kristus. Tidak boleh menghakimi karena kita sendiri akan berhadapan dengan tahta pengadilan Allah, setiap ukuran yang kita pakai untuk mengukur itu jugalah yang dipakai Allah untuk mengukur kita.

Originally posted 2011-07-07 21:15:03.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *