Kehidupan Renungan

Wanita5 min read

Bacalah, dengan sedikit saja harap-harap cemas.
Bisakah  Anda memahami perempuan? Saya segera melarikan diri jika ada yang menjawab  bisa.
Bukan karena membingungkan, tapi karena perempuanlah makhluk yang  paling ambigu.
Kita tidak pernah tahu pentingnya mereka bagi kita sampai  kemudian kita kehilangan mereka.
Kita tidak akan pernah bisa memahami  kenapa mereka bersedia berpakaian seksi, kelayapan di mall, tapi menolak  untuk dipelototi.
Kita juga tidak pernah bisa memahami kenapa mereka  bersedia melakukan operasi pengencangan payudara (artinya payudara mereka  selanjutnya terbuat dari plastik, sama dengan ember) padahal mereka tahu  bukan bagian itu yang membuat kita mencintai mereka.        
Saya  tidak pernah bisa memahami mereka.
Dan tidak ingin mencoba lagi. Bukan  karena saya kapok. Tapi karena saya tidak akan pernah bisa.
Bisakah Anda  memahami kenyataan berikut ini: mereka sangat seksi dengan pakaian dalam miu-miu  tapi menjadi biasa saja ketika telanjang bulat?
Mereka bisa sangat  menggairahkan dengan rok yang tersingkap sedikit saja dan memaksa kita  berpikir yang tidak-tidak, tapi kemudian malah terlihat lucu ketika  telanjang sebab ada sisa lemak di sana-sini.
Mereka jugalah yang bersedia  memakai bra dengan penopang kawat, supaya kita memperhatikan dan  mengaguminya dengan takjub.
Minimal supaya kita tidak melihat ‘isi kawat’  tetangga.    Bisakah  Anda pahami semua itu?
Semua  perempuan matre:  sebab mereka menyukai keindahan, dan keindahan adalah daftar harga yang harus  kita bayar. Hanya alam yang memberikan keindahan secara gratis, meskipun  jalan menuju ke sana tetap harus bayar.
Semua perempuan suka dipuji: sebab  mereka menikmati pujian. Tapi pujian yang berlebih dan tidak tepat waktu  justru membuat mereka jengah.
Pujian Anda akan dimaknai gombal, walaupun  mereka tetap suka digombali. Hampir semua perempuan mencintai anak kecil,  dan mereka jugalah yang mengidap baby blues.
Hampir semua perempuan  mengatakan hal ini: gue capek nangis mempertahankan hubungan kita. Dan itu  dikatakan sambil menangis.
Hampir semua perempuan mengidap sindroma ini:  pada usia 17 – 23 tahun selalu come up dengan pertanyaan siapa el-lu.
Pada usia 24 – 29 tahun come up dengan pertanyaan siapa gue.
Pada usia 30 – 35 tahun come up dengan pertanyaan siapa aja deh  pokoknya kawin.
Hampir  semua perempuan menangis usai mengucapkan ijab-kabul, dan membiarkan  kita bingung sendiri mengartikan tangisan itu ekspresi rasa gembira atau  ekspresi menyesal telah menikah dengan kita.
Perempuan jugalah yang dianugerahi  kelebihan terutama mencium bau busuk selingkuh kita. Sesekali mungkin Anda  bisa menipu mereka, tapi mereka cepat belajar.
Perempuan jugalah yang  sanggup datang menemui wanita selingkuh kita, mengajaknya belanja dan  nyalon bersama, mengajaknya meni-pedi, sambil meminta si wanita  melepas kita untuk kembali ke rumah secara baik-baik, dan tak bercerita apa  pun ke kita karena justru selingkuhan kita yang bercerita.
Perempuan  jugalah yang bisa menahan rasa sakit 9 kali lebih baik dari kita pria.
Masihkah Anda  berusaha memahami mereka?
Usaha  memahami perempuan, sejatinya, bukan usaha yang sia-sia. Minimal kita tahu  pada akhirnya kita selalu gagal memahami mereka. Mereka bisa sangat tahu  hadiah apa yang kita butuhkan di hari ulang tahun kita. Tapi kita harus  bertanya ke temannya hadiah apa yang pas untuknya di hari ulang tahunnya.
Kita menyerahkan sepenuhnya kepada mereka pilihan film yang akan ditonton,  dan sesampai di dalam kita memikirkan hal lain yang tidak berhubungan  dengan film tersebut.
Ketika mereka bertanya apakah kita menikmati filmnya,  dengan semangat tipsani (tipu sana-sini) kita berujar: owh, tentu.  Kamu yang milih kan . Kita tidak berani mengatakan film itu membosankan,  hanya karena kita tidak ingin menyinggung perasaan mereka. Kita selalu mengganggap  mereka fragile, lemah.
Tapi ketika mereka mengatakan enough is  enough, kita yang datang menyembah termehek-mehek dengan janji sejuta  surga. Anehnya, kadang mereka percaya akan ada sejuta surga.
Jika ada  orang ke tiga di antara kita dan mereka, biasanya kita menyelesaikannya  dengan ancaman, dengan hardikan.
Sedangkan mereka menyelesaikannya dengan  cara yang lebih elegan: mandi selama mungkin, berdandan secantik mungkin,  tersenyum seyahud mungkin, dan menyapa seindah mungkin. Mereka hendak mengatakan,  hei…, see, saya lebih cantik dari perempuan yang hendak  mengganggumu itu.
Cupunya kita, men’s talk selalu sekitar paha dan  dada: siapa sudah mencicipi siapa, siapa sudah merasakan siapa, siapa  dengan ukuran berapa, siapa sempit siapa lebar, siapa basah siapa kering  -seakan-akan ukuran, sempit, kering menjadi penting kalau tidak akan  terjadi kiamat. Sementara girl’s talk selalu tentang siapa lebih charming  dari siapa, siapa yang ingin mencium siapa. Sesekali mereka juga membahas  ukuran, tapi biasanya dilakukan untuk lucu-lucuan saja.
Kita  sering membahas ukuran mereka. Padahal ketika ‘pertandingan mencangkul  sawah’ dilaksanakan, kita jarang ‘menunggu’ mereka. Bagi mereka, keluar  bareng adalah ekspresi cinta sejati. Tapi bagi kita keluar bareng adalah  ekspresi usai nonton bioskop. Ini bukan soal jender, tapi kenyataan bahwa  kita tidak mampu memahami kedalaman cinta mereka.
Kita selalu mahir  berkisah tentang pekerjaan-pekerjaan kita, tentang dunia yang hendak kita  raih, dengan sedikit bumbu di sana-sini, dan mereka kita minta mendengarkan  saja dengan takjim. Ketika mereka bercerita tentang Zara, tentang Nine  West, kita mulai menempelkan stiker matre ke kening mereka.
Padahal,  hei, mereka menyukai keindahan, yang ujung-ujungnya akan dipersembahkan kepada  kita.
Kita saja yang tidak mampu memahami maknanya.
Pernahkah  Anda memeriksa fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ternyata Ibu Anda  lebih sering tidur belakangan untuk membenahi semua hal, dan bangun lebih  dulu untuk memulai semua hal.
Periksa baik-baik fakta berikut ini:  dibanding ayah Anda, ibu Anda lebih sering mengkhawatirkan keselamatan  Anda!
Tahukah  Anda kenapa perempuan suka menggunakan pakaian dalam warna hitam? Selain  karena terlihat seksi, elegan, dan penuh misteri, juga karena mereka ingin  menghidupkan kenangan kita akan emak kita dulu.
Selalu ada sifat  kanak-kanak dalam diri semua laki-laki, dan selalu ada sifat ingin diasuh, oedipus  complex, dalam diri kita.
Dan mereka tahu itu.
Mereka mungkin menyukai  warna biru, sesekali warna krem atau pink dengan renda di sekeliling untuk  membantu menghiasi hari-hari mereka. Mereka mungkin saja memilih warna  putih untuk memulai hari. Atau warna merah tua ketika mereka ingin tampak  seksi. Tapi warna hitam tetap favorit mereka. Satu dari satu perempuan  mempunyai pakaian dalam warna hitam. Jangan tanyakan ke mereka, karena  mungkin saja mereka sedang memakainya.    Jangan  karena ayat suci menyatakan “istrimu adalah sawah, cangkullah sesukamu’ maka  kita merasa mendapat hak untuk menghampiri mereka kapan saja di mana saja.
Tidakkah Anda cukup mendapat informasi bahwa seminggu sebelum dan seminggu  setelah mereka period adalah masa emas mereka untuk ‘dicangkul’?
Tidak perlu menjadi ahli roket untuk mengetahui hal remeh itu. Mereka  bahkan bersedia mengingatkan kita akan tanggal-tanggal keramat itu.
Pada  tanggal 23 setiap bulan mereka akan suka cita berkata eh, tanggal 25an aku  period loh. Ketahuilah, itu sign, tanda, bukan tanggal gajian. hahahaha….
Begitulah,  kalau Anda masih mampu selingkuh setelah mendapatkan pelayanan sehebat itu,  kini justru Anda yang sulit  saya pahami.

Originally posted 2011-07-24 11:03:32.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *