Anak

Weakness or Strength2 min read

Terkadang kelemahan terbesar kita bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Cerita ini tentang seorang anak berumur 10 tahun yang memutuskan untuk mempelajari Judo, walaupun dia telah kehilangan tangan kirinya dalam sebuah kecelakaan mobil.
Anak itu pun memulai latihannya dengan seorang Guru master Judo, dan selama berlatih dia menunjukkan kemajuan, akan tetapi setelah tiga bulan, pelatihnya hanya terus mengajarkannya satu Jurus.

“Guru,” anak itu akhirnya berceloteh, “Bukankah aku seharusnya mempelajari jurus baru?”
“Jurus ini hanya satu-satunya yang kau tahu, tapi jurus ini satu-satunya jurus yang kau butuhkan,” jawab Gurunya.
Tetap tidak mengerti, tetapi yakin kepada perkataan gurunya, anak itu pun terus berlatih.
Beberapa bulan kemudian, sang Guru membawa anak itu ke Pertandingan Judo Pertamanya. Kaget akan kemampuannya, anak itu dengan mudah memenangkan dua pertandingan penyisihan. Pertandingan ketiga ternyata lebih sulit, tetapi setelah beberapa waktu, lawan anak itu menjadi tidak sabar dan menyerangnya; sudah pasti anak itu hanya menggunakan satu-satunya jurus yang diketahuinya dan Menang. Masih terkejut pada keberhasilannya, kemudian anak itu masuk babak Final.
Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat dan pengalaman. Sepintas lalu, anak itu tampaknya kalah jauh. Khawatir akan keselamatan anak itu, wasit menetapkan waktu rehat. Si wasit hampir saja menghentikan pertandingan ketika Guru anak itu menghentikannya.
“Tidak,” Si Guru bersikeras, “Biarkan dia melanjutkan pertandingan.”
Beberapa saat setelah pertandingan dilanjutkan kembali, lawannya melakukan kesalahan fatal; dia tidak memasang kuda-kuda. Seketika, anak itu menggunakan ‘Jurusnya’ untuk mengunci lawannya. Akhirnya, anak itu memenangkan pertandingan dan turnamen. Dia menjadi Juara.
Dalam perjalanan pulang, Guru dan murid mengulas setiap jurus dalam tiap pertandingan. Kemudian anak itu memberanikan diri untuk bertanya satu hal yang sedang dipikirkannya.
“Guru, bagaimana saya bisa memenangkan Turnamen itu dengan hanya satu jurus?”
“Kau menang dengan dua alasan,” sang Guru menjawab. “Pertama, kau hampir menguasai jurus bantingan yang paling sulit dalam Judo. Dan kedua, satu-satunya cara untuk melawan Jurus itu adalah Lawanmu harus menangkap lengan kirimu.”
Kelemahan terbesar anak itu telah menjadi Kekuatan terbesarnya.

Originally posted 2012-02-12 15:00:36.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *