Motivasi

MANDIRI – MANAJEMEN DIRI10 min read

Oleh Roy Sembel PhD, Direktur Program MM Keuangan dan Investasi Universitas Bina Nusantara, Jakarta
Sandra Sembel, MM, Direktur Utama Edpro, edpro@cbn.net.id
BELAJAR. Mendengar kata ini saja sebagian orang sudah
merasa “alergi”. Yang terbayang dibenak adalah setumpuk buku tebal yang membosankan. Banyak orang juga beranggapan bahwa mereka sudah lama lulus dari sekolah, jadi untuk apa belajar. Orang-orang tersebut berpikir demikian karena mereka tidak melihat ataupun belum menikmati manfaat dahsyat dari kegiatan “belajar”.

Dalam berbisnis, belajar sudah menjadi keharusan. Tanpa belajar,  pelaku bisnis dapat dipastikan akan jauh tertinggal dan tersingkir   dari persaingan, karena belajar menumbuhkan inovasi, dan inovasi   melahirkan perubahan positif yang diperlukan dalam berbisnis.   Belajar pun harus dilakukan dengan cepat, bahkan jika mungkin, harus   lebih cepat dari pesaing, dan dari perubahan yang terjadi. Jadi,   untuk sukses di bidang apa pun yang kita tekuni, kita   harus “BELAJAR”. Belajar yang bagaimana yang bisa membawa sukses?
Simak belajar untuk sukses berikut.
Manfaat Belajar
Menurut D.A Benton yang telah mensurvei para CEO (Chief Executives   Officers) dari berbagai bidang industri, belajar merupakan salah   satu kebiasaan penting para CEO sukses. Pemimpin perusahaan yang   efektif senantiasa mengembangkan diri dengan belajar, karena mereka   banyak mendapatkan manfaat dari kebiasaan sukses ini.
Orang penting. Dengan banyak “belajar” kita menjadi orang yang   memiliki banyak pengetahuan. Orang sekitar kita pun akan melihat dan   merasakan “aset” pengetahuan yang kita miliki, sehingga mereka akan   datang kepada kita untuk mendapatkan “solusi” yang mereka cari.
Dengan demikian, kita bisa menjadi orang yang diperlukan oleh orang-orang sekitar kita, karena dianggap dapat memberikan manfaat, solusi   bagi mereka. Alhasil, kemungkinan besar kita tidak akan tersingkir   dari persaingan di tempat kerja. Sebaliknya, pengetahuan kita yang   terus bertambah tersebut akan bisa membuka kesempatan besar untuk   melaju dalam karier, ataupun dalam persaingan bisnis.
Misalnya: Rini, yang memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan,   senantiasa menjadi andalan teman-teman, bahkan atasannya   sebagai “narasumber” dalam membantu mereka mengatasi berbagai   masalah. Rini, yang memiliki pengetahuan bahasa Inggris paling baik   di antara teman-temannya, dan pengetahuan yang luas dalam bidang   pemasaran dan keuangan, selalu saja dimintai pendapat dalam membuat   surat dan proposal bisnis penting untuk mitra asing, ataupun dalam   menyiapkan presentasi bisnis dan negosiasi dengan calon pembeli.   Atasan Rini pun selalu membawa Rini dalam pertemuan dengan mitra   bisnis asing, ataupun dalam menghadiri pertemuan-pertemuan bisnis di   luar negeri.
Keputusan berkualitas. Pengetahuan dan keterampilan yang kita  dapatkan dari kebiasaan belajar, bisa menjadi alat ampuh dalam  membantu kita mengambil keputusan yang berkualitas. Dengan kemampuan   yang selalu disempurnakan, kita menjadi lebih bijak dalam melihat   suatu permasalahan, karena bisa melihat permasalahan dari sudut   pandang yang lebih luas. Hal ini membantu kita untuk menghasilkan   alternatif solusi yang lebih beragam, dan lebih tajam karena  didukung dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih kaya.
Misalnya: Toto, yang memiliki minat besar dalam bidang e-learning,   beberapa bulan terakhir ini banyak membaca berbagai literatur di   bidang pembelajaran elektronik. Ketika perusahaan IT tempat ia   bekerja kemudian mengembangkan bisnis ke arah e-learning, ia diberi   kepercayaan untuk pembuatan proposal pengembangan bisnis di bidang e-learning. Ditunjang dengan pendidikannya di bidang keuangan, keterampilan di bidang teknologi informasi, dan pengetahuan yang   baru saja dipupuknya di bidang e-learning, Toto berhasil menyusun   berbagai keputusan bisnis yang lebih berkualitas dan dengan derajat   keyakinan sukses yang lebih tinggi.
Master of change. Pembelajaran senantiasa membawa perubahan, karena   pengetahuan dan keterampilan yang baru, seseorang memiliki kemampuan   untuk melakukan perubahan. Di dunia bisnis yang diwarnai dengan   perubahan yang cepat. Para pelakunya harus senantiasa menelurkan   perubahan. Jika pelaku bisnis tidak berubah, maka mereka akan  dilibas oleh perubahan tersebut. Sebaliknya, dengan senantiasa   melakukan pembelajaran yang berkesinambungan, pelaku bisnis bisa   menjadi pihak yang mengendalikan perubahan (master of change), bukan   pihak yang menjadi korban perubahan.
Misalnya: Untuk memasuki bisnis teknologi tinggi yang penuh perubahan, pemain baru di industri ini haruslah menawarkan sesuatu   yang baru agar bisa tampil sebagai pemenang. Inilah yang dilakukan   oleh Michael Dell, pebisnis yang pada saat itu masih sangat muda.   Pengetahuannya yang kuat di bidang perakitan komputer, serta   kebiasaan belajarnya yang diperoleh dengan senantiasa mengamati   perubahan yang terjadi di industri yang ditekuni, mendorong pemuda   ini untuk berani tampil melibas pemain lama di dunia perakitan   komputer. Cara baru yang cepat, unik, dan cerdas di tawarkan pada   pelanggan, yaitu kesempatan untuk merakit komputer sesuai dengan   kebutuhan sendiri, dengan harga yang relatif lebih murah, dan   pengiriman yang lebih cepat.
Apa Yang Dipelajari ?????????
Okay. Sekarang kita sudah yakin bahwa belajar itu dapat mendatangkan   banyak manfaat. Tapi, apa sih sebenarnya yang harus kita pelajari?   Yang diperlukan.
Prioritas utama dalam pembelajaran tentunya adalah   pembelajaran seputar topik-topik yang bisa langsung diperlukan untuk   menunjang pekerjaan kita. Jika kita bergerak di bidang IT solution,   tentunya kita harus banyak melahap literatur (buku, artikel,   majalah) yang berhubungan dengan teknologi informasi. Kita juga bisa   belajar dengan mengamati sepak terjang tokoh-tokoh bisnis IT ataupun   perusahaan IT yang telah sukses di bidang masing-masing. Jika kita   bergerak di bidang SDM, pastilah topik-topik pengembangan sumber   daya manusia, dan pelatihan-pelatihan yang diperlukan untuk   meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi topik-topik utama   yang perlu kita gali.
Yang menunjang. Selain mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang   secara langsung berkaitan dengan pekerjaan yang kita tekuni, kita   juga bisa mempelajari pengetahuan dan keterampilan penunjang, yaitu   yang bisa memberi nilai tambah bagi kualitas pekerjaan kita.   Pengetahuan dan keterampilan bernegosiasi, berkomunikasi dengan   efektif, menyusun anggaran, mengendalikan dan memimpin orang lain,   project management, serta menyusun anggaran sudah pasti dapat   membantu kita dalam menjalankan pekerjaan kita dengan lebih baik.
Yang disenangi. Pengetahuan dan keterampilan yang langsung terkait   ataupun yang tidak langsung dapat menunjang pekerjaan kita memang   sangat diperlukan. Tapi, yang juga kita perlukan adalah pengetahuan   dan keterampilan yang dapat memberi kesenangan dan kenikmatan bagi   kita. Biasanya pengetahuan dan keterampilan ini berkaitan dengan   minat dan hobi kita. Jika kita adalah seorang akuntan, tapi memiliki   minat besar di bidang otomotif, kita bisa saja melahap bahan bacaan,   melakukan observasi tentang dunia otomotif. Jika, ternyata kita   mendapat kesempatan untuk mengaudit sebuah perusahaan otomotif, kita   sudah memiliki latar belakang kegiatan otomotif yang diperlukan   untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Jadi, galilah dan pupuk minat   kita walaupun sepertinya tidak terlalu berhubungan dengan pekerjaan   kita saat ini.
Yang meningkatkan kualitas watak. Yang juga perlu diingat dalam   mencari hal-hal yang harus dipelajari, adalah tidak sekedar   pengetahuan dan keterampilan “teknis” semata. Yang lebih penting   adalah melakukan pembelajaran dalam hal-hal yang dapat meningkatkan   kualitas watak, misalnya: belajarlah juga bagaimana mengembangkan   integritas, kejujuran, disipilin, keyakinan sukses, kepemimpinan dan   komitmen. Semua ini bisa kita gali melalui pengamatan terhadap   atasan, bawahan, teman sejawat, ataupun tokoh sukses di sekitar   kita. Sumber lain yang juga sangat kaya akan hal-hal yang dapat   meningkatkan kualitas watak adalah buku-buku biografi orang-orang terkenal.
Prinsip Belajar
Lalu, prinsip apa yang dapat kita terapkan dalam melakukan   pembelajaran yang berkelanjutan? Ada dua prinsip yang harus kita   perhatikan, yaitu:
Komitmen. Douglas Brown, seorang pakar bahasa, mengatakan bahwa jika   ingin belajar dengan sukses, prinsip utamanya adalah komitmen,   yaitu: komitmen secara fisik, mental, dan emosional. Prinsip ini   tidak hanya berlaku bagi pembelajaran di bidang bahasa, melainkan   juga di bidang-bidang lain. Menurut Brown, agar belajar memberikan   hasil yang maksimal, seorang pembelajar perlu secara fisik   memberikan komitmennya dalam belajar, misalnya dengan menyediakan   waktu khusus untuk belajar, terlibat secara fisik dalam mencari   bahan-bahan yang harus dipelajari, ataupun mencatat hal-hal penting   yang ditemui dalam belajar. Komitmen secara mental juga diperlukan,   yaitu dengan memproses informasi yang didapatkan (bukan sekedar   mendengar informasi selintas, dari kuping kiri ke kuping kanan, atau   membaca selintas tanpa menyimak). Komitmen secara mental bisa   dilakukan misalnya dengan mengaitkan informasi yang baru diterima,   dengan pengalaman kita, dan mencari cara ataupun kesempatan untuk   menerapkan informasi baru ini untuk meningkatkan kualitas pekerjaan,   kegiatan, dan kehidupan kita. Sedangkan komitmen secara emosional   melibatkan upaya untuk “menyukai” apa yang kita pelajari. Tanpa   rasa “senang” akan sulit bertahan dalam belajar, terutama jika kita   menghadapi bagian-bagian yang sulit untuk dicerna. Kesenangan akan   topik yang dipelajari akan tumbuh jika kita bisa mencari dan   menggali manfaat dari topik yang dipelajari tersebut, atau jika kita   memiliki minat yang tinggi terhadap topik tersebut.
Praktik. Prinsip lainnya adalah praktik. Mempraktikkan pengetahuan   dan keterampilan yang baru dipelajari akan memberikan manfaat   optimal bagi peningkatan kualitas hidup kita. Tanpa praktik, lama-kelamaan pengetahuan dan keterampilan tersebut akan menjadi usang.   Seperti halnya belajar mengendarai mobil. Jika kita hanya “membaca”   dan “memahami” petunjuk dalam mengendarai mobil, tanpa ada usaha   untuk mencoba “menjalankan” mobil tersebut, maka pengetahuan ini   akan sia-sia, kita tidak akan bisa mengendarai mobil. Kita harus mau   mencoba turun ke jalan. Pada mulanya pasti banyak hambatan, tapi   dengan berjalannya waktu, dan keinginan untuk belajar dari tiap   kesalahan yang kita lakukan, kita akan semakin mahir dalam   mengendarai mobil. Jadi, pengetahuan dan keterampilan yang baru   dipelajari, agar dapat memberikan manfaat yang optimal,   perlu “DIPRAKTIKKAN”.
Strategi Belajar Sukses  Setelah mengetahui manfaat belajar, apa yang harus dipelajari, dan   prinsip yang bisa diterapkan untuk belajar, kita juga perlu   mengetahui strategi belajar yang dapat memberikan hasil yang   optimal. Banyak strategi belajar yang bisa kita pilih untuk  diterapkan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Belajar Efisien. Survei yang dilakukan terhadap orang-orang yang   sudah mencapai posisi puncak membuktikan bahwa mereka memiliki   kebiasaan “belajar”. Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mereka bisa   memiliki waktu belajar di tengah kesibukan mereka? Ternyata mereka   bisa belajar kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja. Selain   dari membaca buku, majalah dan surat kabar di rumah, mereka juga   bisa memanfaatkan waktu menunggu, waktu makan siang, waktu di jalan   (berkendaraan, maupun dalam penerbangan dan perjalanan dengan kereta   api) untuk menambah ilmu.
Selain membaca, mereka juga memanfaatkan waktu mereka untuk   melakukan observasi lapangan berbagai hal yang terjadi sekitar   mereka. Cara lain yang mereka terapkan adalah mendengarkan informasi   berbentuk “audio” (kaset, CD) dalam perjalanan atau dalam melakukan   pekerjaan lain. Mereka juga menyerap informasi penting dan menarik   dari diskusi dengan sesama profesional, atasan, bawahan, pelanggan,   guru, pelatih, dan juga dari pesaing. Mereka juga sering   menyempatkan diri untuk menghadiri seminar, workshop, ataupun   pelatihan singkat, ataupun menyempatkan waktu untuk meningkatkan   diri melalui sarana elektronik (misalnya: anggota beberapa mailing   list, memanfaatkan fasilitas e-learning).
Belajar Efektif. Seperti juga kepribadian, setiap orang memiliki   gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah belajar melalui   audio. Ada yang lebih dapat menyerap informasi yang berupa tampilan   secara visual. Ada juga yang lebih mudah menyerap informasi melalui   gerakan. Selain gaya belajar yang dihubungkan dengan indera, gaya   belajar juga bisa dihubungkan dengan waktu. Sebagian orang lebih   mudah belajar di pagi atau siang hari. Sedangkan sebagian lagi lebih   mudah belajar di malam hari. Yang penting adalah mengenali gaya   belajar kita. Setelah itu kita bisa menyusun strategi belajar yang   disesuaikan dengan gaya belajar kita.   Misalnya, jika kita lebih mudah belajar di malam hari dan kita   cenderung lebih efektif menyerap informasi dalam bentuk visual, maka   strategi belajar kita adalah belajar hal-hal yang serius di malam   hari dengan menggunakan input visual ataupun memvisualisasikan   informasi yang kita terima (misalnya, kita bisa menggambarkan   informasi yang kita baca dengan diagram, simbol-simbol, flowchart,   grafik, yang dapat mempermudah pemahaman kita akan informasi yang   akan kita serap).
Belajar Bijak. Pengalaman (terutama kegagalan, kesuksesan,   kesalahan) adalah guru yang terbaik. Jadi, jangan pernah melewatkan   kesuksesan yang kita raih, kegagalan yang kita alami, dan kesalahan   yang kita lakukan tanpa memetik pengalaman dari hal-hal tersebut.   Tetapi waktu kita untuk belajar dari pengalaman sangat terbatas.   Kita tidak akan bisa memanfaatkan semua waktu yang kita dapatkan   untuk mempelajari semua yang kita perlukan. Untuk itu, kita perlu   belajar cerdas dan bijak. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah   belajar tidak hanya dari pengalaman kita sendiri, terutama adalah   belajar dari pengalaman orang lain. Banyak cara yang bisa dilakukan,   antara lain adalah membaca biografi orang-orang sukses. Dari   artikel, buku biografi setebal puluhan sampai ratusan halaman, kita   bisa memetik pengalaman berpuluh-puluh tahun dari orang-orang yang   riwayat hidupnya dibukukan. Cara lain adalah membaca hasil survei di   bidang-bidang yang kita minati. Hasil survei memetakan data dan   informasi yang diekstraksi secara profesional dari pengalaman orang   lain juga. Cara yang lebih mudah adalah “bertanya” pada orang-orang   yang kita anggap lebih berpengalaman dari kita dalam bidang-bidang   yang kurang kita kuasai. Dengan belajar dari orang lain, kita bisa   melipatgandakan pengetahuan yang kita dapatkan (yaitu pengetahuan   dari pengalaman kita sendiri ditambah dengan pengetahuan dari orang-orang lain).
Di dunia yang bergerak cepat, banyak perubahan terjadi. Untuk   mengendalikan perubahan ini, kita perlu belajar. Tanpa belajar, kita   tidak bisa mengejar perubahan tersebut. Dengan belajar pun, jika   tidak dilakukan dengan kecepatan yang sesuai dengan kecepatan   perubahan tersebut, belum tentu juga kita dapat bertahan. Jadi,   belajar sudah merupakan suatu keharusan, tetapi yang lebih   diperlukan adalah belajar untuk sukses, yaitu belajar dengan   menerapkan strategi belajar efesien, efektif dan bijak.
Selamat belajar !

Originally posted 2012-08-22 00:59:58.

Spread the love

One Reply to “MANDIRI – MANAJEMEN DIRI

  1. terima kasih atas ilmunya, pengetahuan ini sangat bermanfaat sekali buat saya dan saya juga punya blog yang sama tetapi berisi kegiatan-kegiatan dunia pendidikan.. 😆 🙄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *