Kehidupan Motivasi

Selalu Ada Pagi Bagi Suwarti7 min read

Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi   hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan,     
tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari      
hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika         
banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-        
putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin     
masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di         
jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring       
tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue…..   
Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah        
kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret.    
Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan         
berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari    
kejauhan.                                                               
                                                                         
Pertama kali saya tertarik pada Suwarti adalah karena wanita ini        
masih demikian muda, 30 tahun, tetapi ia benar-benar berwajah orang      
Jawa tempo dulu. Menggendong jualannya dengan busana seperti mbok-      
mbok jamu, dengan langkah yang gesit, dan, ya, ia selalu hadir dalam    
ukuran waktu yang tak pernah meleset. Tak urung saya menyetopnya        
sekali waktu, sepulang ia menjajakan jualannya. Dan, ia dengan          
kesopanan seorang ibu yang tak mau menaruh curiga kepada siapa pun,      
melayani pertanyaan-pertanyaan saya.                                    
                                                                         
Suwarti adalah seorang wanita kelahiran Solo. Ibu dari dua orang        
anak, berumur 10 tahun dan enam tahun, ia bagi saya adalah potret       
wanita Indonesia yang seharusnya membuat kita selalu bangga jadi      
orang
Indonesia. Tiga tahun terakhir ia jalani hidupnya dengan          
menjajakan kue di perumahan kami di Vila Dago Tol, dengan berjalan      
kaki. Dengan mengambil 150 potong kue dari juragannya yang tinggal di  
belahan lain daerah Ciputat, ia mengantongi keuntungan Rp25 ribu        
setiap hari. Dari rumah ia berangkat subuh-subuh, untuk mengejar pagi    
yang penuh rejeki di perumahan kami itu. Ketika hari sudah              
menunjukkan jam 10, ia biasanya menuntaskan `perjalanannya’ sebagai      
penjaja kue hari itu. Jam 11, ia sudah tiba di rumah kontrakannya        
seharga Rp200 ribu per bulan, untuk kembali sebagai ibu rumah tangga.   
Suaminya seorang pekerja bangunan yang rajin, tetapi tak selalu ada      
proyek yang membutuhkan tenaganya. Dengan kombinasi profesi yang        
demikian, ia dan suaminya bisa menyekolahkan kedua anaknya, satu di     
kelas empat SD satu lagi di kelas satu. Kedua anak itu dititipkan di    
kampung mertuanya, Purwodadi. Setiap bulan mereka mengirimkan uang     
untuk biaya sekolah anak-anaknya itu.                                    
                                                                         
Suwarti dulunya adalah pembantu rumah tangga. Perkawinannya dengan      
suaminya yang dia kenal di Jakarta ini, membuat ia lama-lama berpikir    
untuk menyudahi saja pekerjaannya sebagai PRT, yang ia                 
istilahkan `ikut orang.’ Setelah pernah mencoba berjualan macam-macam   
barang, akhirnya ia menemukan juragan kue yang bagi dia memberikan     
harapan. Dari juragannya itu ia mengambil kue setiap pagi lalu          
menjualnya dengan harga yang ia tetapkan sendiri. Setiap hari ia        
menyetor kepada juragannya Rp50 ribu. Kue yang tersisa dapat ia         
kembalikan. Dan ini, bagi Suwarti adalah sistem yang benar-benar ia      
sukai. Makin hari makin besar keuntungan yang ia peroleh. Tiga tahun    
terakhir ia rasakan sebagai tahun yang penuh pertumbuhan, menyebabkan   
ia selalu memandang pagi sebagai pagi yang penuh pengharapan.           
                                                                        
Tidak menamatkan SD, anak bungsu dari empat bersaudara, pada tahun    
1995 Suwarti meninggalkan orang tuanya di kampung halamannya yang      
hidup sebagai petani kecil. Seperti kebanyakan cerita orang-orang        
marginal, ia kala itu tak punya pilihan selain menjadi PRT untuk bisa    
bertahan di
Jakarta. Kota ini bagi Suwarti adalah
kota yang keras,      
tetapi
kota yang selalu memberikan harapan. Hidup sebagai orang yang    
termarginalkan tidak dihabiskannya dengan kemarahan dan dendam kepada    
hidup. Ia, sebagaimana yang dapat saya lihat dari bagaimana ia          
bekerja, menjalani hari-harinya dengan ketekunan seorang yang           
menikmati apa yang dapat ia nikmati. Mensyukuri kesehatannya yang        
menyebabkan ia tampak tak pernah kelelahan di terik
Jakarta. Dan, ia    
tak pernah merasa ada yang perlu ia menangkan karena ia tak pernah      
menganggap ada yang harus ia taklukkan.                                 
                                                                         
Ketika makin banyak pedagang roti mengendarai motor bahkan mobil, ia    
tak merasa dagangannya bakal tersingkir. Justru dengan berjalan kaki,   
ia bisa mengetok pintu demi pintu, bisa berbicara dan berbasa-basi      
dengan tiap rumah. Ia tidak seperti pedagang roti yang mengendarai      
mobil, yang sapaannya terkadang terdengar angkuh lewat klakson atau      
lagu-lagu dari rekaman kaset yang membosankan. “Bu…. Kuenya Bu?”      
adalah sapaannya yang khas. Lalu dengan cepat ia akan membeberkan     
dagangannya dari gendongannya. Tahu dan
tempe goreng, onde-onde,      
lepat pisang, lontong, kroket, dadar gulung, kue lapis, bertebaran      
tinggal pilih. Walau pun ia tahu, tak semua rumah akan sudi              
menyetopnya dan membeli dagangannya, senyumnya selalu                   
mengembang. “Tiap orang ada rezekinya Pak. Alhamdulilah, selama tiga    
tahun ini, saya merasa makin banyak langganan. Makin hari makin baik-   
baik saja orang-orang kepada saya. Syukur alhamdulillah, tidak ada      
yang marah-marah. Tidak ada anjing yang mengejar-ngejar saya,” kata     
dia.                                                                                                                                          
Pagi bagi Suwarti adalah harapan. Seburuk apa pun cuaca, seberat apa    pun perjalanan yang harus ia tempuh, ia selalu pasti bahwa rezekinya    
ada pada pagi. Payungnya akan ia kembangkan manakala hujan turun      
kepagian. Ketika saya menduga bahwa hujan adalah malapetaka baginya 
karena itu akan menghambat perjalanannya, apalagi ia harus berjalan    
kaki memutar kompleks kami, ia malah tersenyum. “Justru kalau turun    
hujan Pak, orang malas keluar cari sarapan. Kue saya malahan lebih      
laku kalau turun hujan,” katanya. Sebuah jawaban yang bagi saya penuh  
optimisme dan pengharapan.                          
                                                                         
Pertanyaan klasik yang sesungguhnya tak perlu lagi dilontarkan          
manakala berkenalan dengan orang seperti Suwarti adalah untuk apa dan  
mengapa ia bekerja membanting tulang. Sudah barang tentu orang          
seperti dia harus membanting tulang. Untuk makan-minum dirinya. Untuk   
menyambung hidupnya anak beranak. Tetapi toh, saya harus menanyakan  
itu, untuk mengeksplorasi siapa tahu ada lagi yang membuat dirinya    
mempunyai energi yang luar biasa. Dan, ternyata memang ada.           
                                                                     
Dua anaknya, semuanya diasuh oleh keluarga mertuanya dengan biaya  
dari suami dan dirinya, adalah energi yang tak pernah habis. Ia         
selalu membayangkan anak-anaknya itu kelak mendapat pendidikan yang    
baik. Ia ingin mereka kelak dapat menikmati hidup lebih dari yang        
dinikmatinya kini. Kemana pun dan sampai setinggi apa pun, ia ingin      
mendukung anak-anaknya, sepanjang itu berarti menempuh pendidikan  
yang baik dan lebih tinggi. “Saya sepenuhnya tergantung mereka. Kalau 
mereka bersekolah dengan baik, mereka belajar dengan baik, saya akan 
usahakan. Tidak ada kata berhenti bagi saya, Pak,” kata dia. 
Senyumnya pasti. 
                                                                        
Tentulah berat bagi Suwarti menggali energi itu. Anak-anak itu 
tinggal di tempat yang jauh, yang mungkin hanya bisa ia temui sekali    
dalam setahun manakala lebaran tiba. Tetapi semakin ia pikirkan itu, 
semakin besar ia rasakan tenaga yang bisa ia gunakan. Ia bayar    
kerinduannya kepada anak-anaknya itu dengan bekerja lebih antusias.
Menyapa anak-anak di kompleks kami seperti ia menyapa anaknya         
sendiri. Menjajakan kue kepada orang-orang dengan keyakinan kue-kue      
itu akan jadi sumber energi juga bagi orang-orang yang bekerja untuk    
anak-anak mereka.                                                       
                                                                         
Tidak kecewa dengan harga-harga yang mulai naik, dan BBM yang          
membubung?, tanya saya sedikit menggoda pemikirannya untuk berpikir     
menyalahkan keadaan. Tetapi Suwarti rupanya tak tertarik membicarakan   
apa yang ia rasa bukan urusannya. “Saya tidak mau memikirkan yang      
membuat pusing kepala saya Pak,” kata dia. Menurut dia, sepanjang ia    
masih bisa menabung, dan sepanjang uang yang harus ditabungnya setiap   
bulan tak berkurang, ia tak mau berpikir susah-susah. Walau pun untuk  
itu ia mungkin harus mencukupkan uang sisa setelah tabungan itu untuk   
makan ala kadarnya bersama suaminya. Dan, berarti juga, ia tak boleh    
sakit. Kalau pun sakit, ia harus berpura-pura tidak sakit.             
                                                                         
Lebaran ini Suwarti tidak mudik. Menurut dia, beberapa bulan lalu       
suaminya telah mudik karena mertuanya laki-laki berpulang. Itu         
artinya sang suami telah mudik yang berarti pula kemewahan untuk        
mudik tahun ini telah terpakai, walau pun bukan pada waktunya.         
Kerinduannya kepada anak-anaknya, mungkin harus ia bayar pada lebaran   
tahun depan, atau di suatu masa di bulan-bulan depan, manakala ada      
rezeki yang berlebih.                                                   
                                                                         
Ketika saya mengatakan terimakasih banyak, sudah mau saya ajak         
berbincang-bincang, ia tersenyum dan juga mengucapkan terimakasih.      
Ketika saya silakan, teh manis yang disuguhkan istri saya ia habiskan  
sekali teguk, pertanda ia mungkin sudah kehausan sejak tadi. Saya      
menyalahkan diri sendiri, betapa egoisnya saya tak mempersilakannya     
minum dari tadi, dan lebih medahulukan kepentingan saya menanyai dia.  
Ia kemudian merapikan keranjang kuenya dan menggendongnya kembali.    
Hari masih jam 10 lewat sedikit, ketika ia akan pulang ke rumahnya,     
lebih kurang
lima kilometer dari tempat kami. “Mari Pak,” katanya      
mengangguk. Senyumnya itu, akan selalu membuat saya bangga sebagai  
orang
Indonesia.
                                                                    
Sumber: Selalu Ada Pagi bagi Suwarti oleh Eben Ezer Siadari,
wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita

Originally posted 2013-01-02 03:30:53.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *