Kehidupan Relijius Renungan

Belajar Dari Anak Cacat4 min read

Renungkanlah oleh Anda betapa bahagia dan betapa bangganya perasaan
seseorang apabila ia bisa diterima sebagai mahasiswa di universitas
yang bergengsi seperti Yale atau Harvard University di USA. Tentunya
lebih hebat lagi adalah orang-orang yang bisa menjadi guru besar di
Universitas tsb.
Mr Henri adalah seorang guru besar bukan saja di kedua universitas
tsb diatas melainkan juga di Universitas Notre Dame. Ia begitu
disegani oleh rekan-rekan maupun para mahasiswanya sebagai wong
pinter yang terpandang. Jadi sudah benar-benar berada di puncak
kedudukan kariernya seorang ilmuwan.
Pada saat dimana ia sedang berada di puncak karier kehidupannya,
tiba-tiba ia merubah arah hidupnya! Ia telah merubah arah
kehidupannya bukannya untuk UPWARD lagi melainkan ingin DOWNWARD.
Ia melepaskan seluruh jabatannya di ketiga universitas bergengsi
tsb. Ia melepaskan ribuan siswa-siswinya untuk diganti hanya oleh 10
orang siswa lainnya. Bahkan untuk para siwa barunya ini ia
mengabdikan dirinya 24 jam sehari. Disitu ia telah benar-benar turun
menjadi Mr Nobody.
Disitu tidak ada seorang pun yang mengenal dia, bahkan tidak ada
seorang pun yang pernah membaca buku hasil karyanya. Begitu juga
tidak ada seorang pun yang merasa kagum terhadap dirinya sebagai
guru besar yang memiliki gelar sepanjang 1 meter. Disitu ia benar-
benar menjadi Mr. Nobody tulen. Masalahnya semua anak didiknya
sekarang ini adalah anak-anak yang cacad mental. Melalui anak-anak
cacad tsb baru dia menyadari, bahwa segala prestasi yang pernah
diraih sebelumnya itu, tidak ada manfaatnya sama sekali dalam
pergaulannya dengan mereka.
Boro-boro bisa membaca dan menulis, mandi sendiri pun mereka sudah
tidak mampu lagi. Dari guru besar dihadapan ratusan siswa berubah
menjadi pelayan untuk melayani anak-anak cacad. Dimana setiap
harinya ia harus membersihkan badan mereka dari kotoran-kotorannya.
Bantu menyikat gigi maupun mencukur jenggot mereka dan juga membantu
memakai pakaiannya sebelumnya diletakan di kursi rodanya.
Salah satu diantaranya adalah seorang pemuda yang bernama Adam. Bagi
kebanyakan orang Adam itu sudah benar-benar tidak berguna sama
sekali, sehingga sebenarnya percuma saja ia dilahirkan juga. Adam
walaupun usianya sudah mencapai 25 tahun, tapi ia masih harus
dirawat seperti layaknya seorang bayi. Ia tidak bisa makan maupun
minum sendiri, sehingga untuk ini ia harus menyuapi dan menunggunya
dengan sabar. Buang air besar pun tidak bisa, maka dari itu setiap
hari ia harus mencuci celana maupun badannya yang penuh dengan
kotoran yang bau. Ia juga seorang penderita epilepsi yang parah
sehingga badannya sering menjadi kejang dan kaku.
Pekerjaan yang tidak ringan maupun mudah dan terlebih lagi
membutuhkan banyak kesabaran. Untuk ini tidak ada penghargaan maupun
ucapan terima kasih dari Adam, sebab boro-boro bisa berbicara,
senyum atau menangispun Adam sudah tidak bisa lagi. Hanya sekali
pernah terlihat dimana Adam mengeluarkan air mata yang mengalir di
pipinya.
Mungkin bagi orang lain apa yang dilakukan Henri sekarang ini adalah
pekerjaan wong rendahan dan tiada artinya sama sekali, tetapi bagi
dia bahkan masa hidup yang sekarang inilah yang terpenting di dalam
kehidupannya.
Henri pernah mengutarakan bahwa ia telah mendapatkan banyak sekali
berkat dari pelayanannya ini. Ia menilai bahwa dari fisik dan
pikiran Adam muncul seorang manusia yang paling baik yang telah
menawarkan dan memberikan kepada dia suatu hadiah yang paling indah
daripada apa yang bisa ia berikan kepadanya ialah pelajaran tentang
cinta kasih. Dari situlah ia merasa bahwa sebenarnya ialah yang
dilayani oleh Adam untuk belajar melayani, bersabar maupun berbagi
kasih yang tak berkesudahan.
Apa yang diucapkan oleh Henry ini bukannya hanya sekedar basa-basi,
sebab untuk ini ia telah menulis satu buku khusus, mengenai hikmah
dan pelajaran apa saja yang telah ia dapatkan dari Adam dalam
bukunya “Adam´s Peace”.
Bayangkan saja ia seorang guru besar dari universitas bergengsi,
ternyata telah bisa menimba ilmu dari anak-anak cacad. Anak-anak
cacad tsb telah berhasil mengajarkan kepada Henry apa artinya cinta
kasih itu. Terlebih lagi disitulah baru ia menyadari, bahwa bahwa
apa yang membuat kita menjadi manusia, bukanlah gelar, harta, maupun
jabatan kita. Begitu juga bukanlah otak kita, tapi hati kita!
Bukan kemampuan kita berpikir, tetapi kemampuan kita untuk
mengasihi. Henry telah turun menjadi Mr Nobody dimata dunia, tetapi
dilain pihak ia telah berhasil menjadi VIP dimata Sang Pencipta.
Mr. Henry Josef Michael Nouwen (1932 – 1996) dengan sengaja telah
meninggalkan komunitas orang-orang hebat dan bergengsi untuk memilih
hidup di komunitas anak-anak cacad di L´Arche Daybreak di Toronto.
Ia melayani disitu terus sampai dengan akhir hayatnya. Ia juga
seorang penulis buku rohani. Lebih dari 40 buku rohani yang pernah
ia tulis salah satu bukunya yang paling banyak dibaca ialah: “Innder
Voice of Love”.
Menurut ukuran dunia keberhasilan seseorang diukur berdasarkan
keberhasilan maupun ketinggian yang bisa diraih oleh orang tsb
dengan motto “How high can you fly?” Beda dengan dunia kerohanian.
Disana berlaku motto kebalikannya ialah “How low can you go?”.
Jalan ilahi adalah jalan yang menurun kebawah.
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30)
Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu,
maka kamupun wajib saling membasuh kakimu sebab Aku telah memberikan
suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti
yang telah Kuperbuat kepadamu.(Yohanes 13:14-15)

Originally posted 2013-05-29 11:40:37.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *