Relijius

Dialog2 min read

Keluarga besar kami yang 11 bersaudara, oleh orangtua kami, sebagian beras jatah dari pemerintah ditukar dengan natura lain. Dan, kami harus siap dengan perut melilit lantaran diganjal bubur tiap hari. Tak boleh mengeluh, karena semua orang toh merasakan penderitaan serupa.
Kami juga harus berbagi lauk. Suatu saat, saya jadi juru potong. Satu telur asin dibagi empat. Ayah memperhatikan ulah kami. Tiba-tiba beliau menegur dengan keras: ”Kamu yang membagi, kamu pula yang mengambil duluan. Itu tidak adil. Tidak boleh diulangi!”
Pernah, saudara kami mencomot sepotong perkedel milik adik. Ribut pun tak terhindarkan. Siapa sih yang suka miliknya ditilap? Tanpa banyak kata, Ayah menggetok tangannya. Tak hanya itu, mulutnya ditapuk. Ayah jengkel karena dia tak mau mengaku: ”kapok”.

Ayah ingin menanamkan jiwa kesatria dalam diri putra-putrinya. ”Kalau mau menjadi orang yang dihormati, harus jujur. Harus berani mengakui kesalahan. Jangan serakah! Sudah dibagi masih saja mengambil jatah adik,” katanya.
Kini pun, mengakui kesalahan sendiri merupakan ujian berat. Mulut seakan terkunci, terbelenggu oleh keangkuhan. Mungkin, ada rasa khawatir dicemoohkan atau terlempar ke dalam sisi gelap kehidupan. Memang, pengakuan itu terasa mencoreng muka –jika tidak dilembari kelapangan dada.
Kisah Nabi Yunus juga begitu. Suatu saat, melalui malaikat Jibril, Allah meminta Yunus mengingatkan penduduk Ninawa di Mosul, wilayah Irak, agar tidak menyembah berhala. Rupanya, Yunus –seperti diriwayatkan Imam Thabari– meminta waktu sejenak untuk mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tak mengizinkan: ”Urusannya lebih penting dari itu.”
Bahkan, untuk mencari sandalnya, Jibril tidak membolehkan. Itu yang membuat Yunus jengkel. Di perjalanan, kapal yang ditumpangi Yunus dihantam badai. ”Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kita,” ujar orang-orang di kapal. Yunus mengakui kesalahannya, dan meminta agar dirinya dilemparkan ke laut.
Dalam sebuah tafsir tertulis, selagi kapal itu oleng ditimpa badai –bisa tenggelam karena kelebihan muatan– nakhodanya menawarkan solusi: ”Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua.” Yunus pun menawarkan diri untuk diceburkan ke laut. Penumpang lain tidak setuju.
Kemudian dilakukan pengundian. Siapa yang terpilih harus diceburkan ke laut. Celakanya, tiga kali undian dilakukan, lagi-lagi terpilih Yunus. Apa boleh buat, dia melepas pakaiannya dan menceburkan diri ke laut. Ikan paus besar pun menelannya.
Diriwayatkan, 40 hari Yunus berada di dalam perut ikan. Ia bermunajat, mengakui kesalahannya. Ia mengajarkan kepada umat untuk berani mengakui kesalahan, sekalipun tersembunyi. Isi hati kita memang tidak diketahui oleh siapa pun, tapi Allah tetap mencatatnya.
Dalam keadaan apa pun, Yunus memang tidak bisa melepaskan kedekatannya pada Allah. Baru-baru ini, dalam sebuah survei di Amerika Serikat, para milyader pun mendudukkan Tuhan sebagai tempat untuk mengatasi masalah bisnis mereka. Mereka belajar mendengarkan suara Tuhan, kala meneken tawaran bisnis yang disodorkan.
Selain itu, para milyarder sangat menghargai uang. Gaya hidup positif lain adalah loyal pada pasangan, punya integritas (janjinya bisa dipegang), berdisiplin tinggi, tidak serakah, dan selalu mengembangkan social skill serta sportif. Yang mengagetkan, mereka mengaku mentornya adalah: ”Tuhan”.
Di dalam kesendirian, di situlah sesungguhnya kemerdekaan seseorang hampir sempurna. Kita bisa berdialog dengan-Nya, tanpa sekat dan jarak. Semua ilmu para nabi itu diperoleh tanpa buku, tanpa guru. (Widi YM)

Originally posted 2013-06-30 17:57:12.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *