Kehidupan Relijius Renungan

Kesaksian3 min read

Bapak sering bercerita tentang kehidupan masa mudanya yang miskin, yatim piatu dan penuh kesulitan tapi juga penuh berkat. Salah satu cerita bapakku yang berkesan bagiku sewaktu bapak masih muda.
Saat itu Bapakku belum mengenal Yesus. Bapakku berencana ingin menjual rumahnya karena kesulitan ekonomi. Tapi susah betul mencari pembeli, berhubung rumah yang mau dijual kondisinya enggak bagus dan di daerah kumuh, dan promosinya juga cuman dari mulut ke mulut. Setelah sekian lama, suatu hari ibuku menerima seorang tamu wanita yang berminat untuk membeli rumah itu. Saking gembiranya, ibuku lupa menanyakan nama dan tempat tinggal wanita itu. Saat bapakku pulang kerja, ibuku menyampaikan berita suka cita ini, tapi duh….. sayang sekali ibuku tidak tahu nama dan tempat tinggal si wanita, yang diingat ibuku hanya wanita itu mempunyai ‘tai lalat’ di pipinya.

Bapakku yang masih letih pulang kerja, tidak menunjukkan kekecewaannya di depan ibuku. Ia tetap menunjukkan kegembiraan dan semangat, karena ia yakin si calon pembeli pasti tidak jauh dari rumah, khan promosinya juga cuman dari mulut ke mulut.
Bapakku segera menaiki lagi sepedanya, dan keliling dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain, dari tetangga yang terdekat sampai yang terjauh, ‘gak’ peduli cuaca semakin mendung. Tapi wanita ber ‘tai lalat’ itu tidak ada yang pernah melihatnya, boro-boro kenal dan tahu tempat tinggalnya.
Hari sudah semakin gelap, hujan yang tadinya masih rintik-rintik sekarang sudah menjadi deras sekali. Bapakku yang sudah bukan basah lagi melainkan sudah benar-benar kuyub, capek, letih, kedinginan juga sudah mulai putus asa, karena dia sudah bersepeda keliling begitu jauh. Sambil mengayuh sepedanya di tengah hujan deras, bapakku menatap langit yang berkilat-kilat karena petir sambar menyambar, bapakku teringat dengan ‘Tuhannya orang Kristen’ yang setahu dia waktu itu, Tuhannya orang Kristen suka mengabulkan permohonan orang-orang yang minta. Maka terpikir oleh bapakku untuk minta padaNya dan dia berteriak ‘Hai… Tuhannya orang Kristen, kalo Kamu memang ada, tolong tunjukkan dan bantu saya’. Kemudian, karena hari sudah semakin gelap ditambah hujan deras, bapakku sudah tidak dapat melihat jalan dengan jelas, maka akhirnya ia berteduh di depan pintu sebuah rumah. Saat berteduh, ada keinginan di dalam hati bapakku untuk mengetuk pintu tempat ia berteduh. ‘Sebaiknya aku coba saja menanyakan pada pemilik rumah ini, siapa tahu dia mengenal wanita yang aku cari’ gumam bapakku dalam hati.
Tak lama bapakku mengetuk, pintu bagian atas rumah itu terbuka (pintu jaman dulu terbagi dua, atas dan bawah, yang dapat dibuka masing-masing), dan muncul wajah seorang wanita tua. ‘Encim* … apakah anda mengenal…’ kata-kata bapakku terputus, karena bapakku mengenali ‘tai lalat’ di pipi wanita itu.
Bapakku langsung tertawa dan berkata cepat ‘Encim* yang siang tadi bertemu istri saya dan mau beli rumah saya di….’ Dan tanpa diragukan lagi wanita itupun mengangguk. Segala capek, letih, basah, dingin terlupakan oleh bapakku, tetapi dia tak lupa untuk berkata dalam hati sambil tersenyum ‘Terima kasih Tuhannya orang Kristen’.
Kisah ini memang sederhana tapi ada nilai yang begitu dalam. Tuhan mau membantu siapa saja yang berseru padaNya, tidak melihat kaya/miskin, agama, golongan/suku, masalah kecil/besar. Mungkin cara bapakku agak kasar ya … dengan ‘menantang’ Tuhan, tapi saat kejadian berlangsung memang bapakku belum mengenal Yesus. Dan mungkin Yesus juga ingin semua menjadi tahu dan mengenalNya bahwa Ia memang Ada, dan berkatNya untuk semua orang.
* Encim = panggilan wanita Cina yang sudah tua

Originally posted 2013-07-10 19:43:41.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *