Peristiwa

Tiga Bulan Dibawah Siksaan Kejam12 min read

Awal Maret tahun 2002, seorang pengikut Falun Gong dari daratan China diculik oleh dinas keamanan negara kota Zhen Zen ke Wisma Tamu Dong Xiao di Jalan Dong Xiao yang terletak di Distrik Luo Hu. Mereka menahan dia dengan tidak sah, dan di sini pula mereka membuka sendiri tempat penyiksaan, dengan biadab dan keji, melakukan penyiksaan fisik dan mental terhadap praktisi Falun Dafa ini. Di bawah ini adalah kejadian sebenarnya penganiayaan terhadap dia yang dialaminya selama hampir tiga bulan. Berikut pengalamannya:

Memaksa Mengaku
Tanggal 10 April 2002 malam kira-kira jam 21.00 waktu setempat, di Wisma Tamu Jalan Dong Xiao Ruang 704, saya kembali diinterogasi. Sejak saya diculik, ini adalah interogasi mendadak dalam skala terberat Polisi memaksa saya mengatakan sumber materi brosur dan keadaan teman praktisi lain, saya menolak menjawab. Polisi Wang menampar saya berkali-kali, kemudian memakai pita isolasi dari ubun-ubun selingkar demi selingkar mengitari kepala saya, hanya menyisakan satu lubang hidung untuk bernapas, memaksa saya menjawab pertanyaan, tapi saya menolak. Dia lalu dengan cepat menarik pita isolasi, selingkar demi selingkar, rambut, alis, jenggot yang melekat pada isolasi, tercabut sampai akar-akarnya, sangat menderita. Dengan demikian dibelit lalu dibuka berulang-ulang, penyiksaan dengan cara ini dilakukan secara kontinyu selama 15 menit.
Kepala Bagian Yang X yang bertanggung jawab atas interogasi melambaikan tangan, memberi isyarat supaya berhenti sebentar. Polisi Xiao Shizhong (kepala seksi) memanggil empat orang, personel penjaga keamanan, mereka adalah anggota perusahaan keamanan daerah Long Gang kota Zhen Zen yang disewa, masing-masing bernama Tang Jianfeng, Yan Hui, Zhou Huaicheng, dan Xiao Lei. Xiao Shi Zhong mengatakan kepada mereka, silakan kalian memberi dia latihan jasmani sejenak, saat itu pimpinan kantor keamanan Propinsi Guangdong yang berada di tempat dan Kepala Bagian Yang X menghindari ke kamar sebelah, hanya meninggalkan Kepala Saksi Liu serta penanggung jawab interogasi Xiao Shi zhong, video recorder, lampu sorot dimatikan, mulai “melatih” tubuh saya.
Empat petugas keamanan memborgol tangan saya ke belakang sandaran kursi lalu kursi dimiringkan 45 derajat, seseorang memeluk kepala saya dan ditekan ke bawah dengan keras, seseorang menekan kedua pundak dan tubuh bagian atas, dua orang lagi masing-masing menarik paha saya dengan kuat ditarik kedua sisi sekuat-kuatnya, supaya sepasang paha lurus menjadi 180 derajat. Setiap kali ditarik selama 2 menit, secara mendadak bersamaan dilepas, berhenti 1 menit, ditarik lagi, berulang-ulang dilakukan 3 kali, tidak sampai 10 menit, siksaan ini membuat saya muntah, seluruh tubuh kejang-kejang, dalam keadaan setengah pingsan lalu dilempar ke atas ranjang di ruang 702. Begitu baru siuman, polisi Wang sambil menendang dan memukul, dengan menarik rambut saya diseret kembali ke ruang 704, melanjutkan interogasi, saya tetap menolak menjawab. Polisi Wang sekali lagi menghujani saya dengan tinju dan tendangan, kemudian menempelkan lampu besar pada wajah saya. Suhu lampu yang sangat tinggi, menempel di wajah berbunyi ces�c ces�c, segera tercium bau hangus kulit terbakar. Beginilah polisi Wang, mulai dari hidung kemudian kelopak mata, pipi, hanya beberapa menit saja, saya telah dilukai sampai berubah rupa sehingga tak dapat dikenali lagi. Sampai pada saat demikian, polisi Wang meninggalkan tempat, Kepala Seksi Yang muncul kembali, dengan tinju menghantam kepala saya berkali-kali, perintah saya buka mulut, putung rokok yang sedang menyala akan dilempar ke dalam mulut. Saya menolak buka mulut, dia dengan dua tangan sekuat tenaga menekan kedua rahang saya, akhirnya tidak bisa dibuka juga. Pemeriksaan melalui penyiksaan tubuh seluruhnya berlanjut kira-kira satu jam lebih, sampai saya sekali lagi muntah, seluruh tubuh kejang-kejang, pingsan. Seluruh wajah 90% kena luka bakar, mereka tidak mengantar saya ke rumah sakit untuk diobati, melainkan ke toko kecil di lantai bawah membeli sedikit salep, membiarkan petugas secara serampangan mengolesi wajah saya, sampai hari ini wajah saya masih meninggalkan bekas luka.
Mencuci Otak
Untuk menggoyahkan keteguhan praktisi Falun Gong, mereka juga mencuci otak. Dalam mencuci otak, dinas keamanan negara kota Zhen Zen melakukan dengan cara yang sangat sederhana, yakni meletakkan setumpuk piringan VCD, dengan sembarangan mengambil satu lembar, setiap hari berulang-ulang ditayangkan 10-20 jam lebih, isinya semua adalah memfitnah dan merusak Falun Gong. Di tengah kamar ada sebuah kursi, di atas kursi dipasang dua buah borgol tangan, kedua tangan orang diborgol balik di atas kursi, suara TV dibuka keras-keras, inilah yang dikatakan indoktrinasi ideologi. Pada mulanya masih berlagak membuat jadwal istirahat, belakangan dengan sesuka hati, menghapus “istirahat”, hanya tinggal “belajar”. Setiap hari mulai pagi hingga malam jam 22.00, beberapa hari kemudian diperpanjang sampai subuh jam 01.00 atau 02.00, terakhir semalam suntuk, yang dinamakan “belajar”, sebenarnya adalah siksaan tubuh secara sederhana. Kadang-kadang Kepala Seksi Xiao Shi Zhong pulang tengah malam, melihat saya tertidur, memaki-maki, memerintah petugas menyeret saya ke Ruang 704, diborgol di atas kursi, hingga larut malam.
Saat dipaksa menonton VCD petugas melihat saya menghapal artikel Master Li Hongzhi atau sedang mengantuk, maka ditampar, dan dijewer kuping saya, dengan isolasi kelopak mata ditarik ke dahi, mulut diisolasi supaya tidak bisa bicara. Ada satu kali petugas keamanan Zhou Huaicheng memukul saya hingga darah mengalir dari mulut dan hidung, polisi Xiao dengan menggunakan botol air mineral diisi air penuh memukul mulut sampai terasa sakit, namun tidak berdarah. Polisi Wang Wei juga punya cara lain dalam menyiksa, yaitu dengan memborgol tangan di punggung, kedua kaki diikat di kaki kursi, bagian atas tubuh diikat di atas sandaran kursi, sehinga tidak bisa bergerak, lalu diletakkan di tempat terdekat TV, suara TV dikeraskan sampai maksimal seharian penuh, sehinggat memekakan kedua telinga, sama sekali tidak bisa mendengar suara bicara orang lain, kepala sakit bagaikan mau pecah, sampai malam pun sama sekali tidak bisa tidur.
Sekitar tanggal 13 Mei hari ulang tahun Falun Dafa tahun itu, keamanan negara kota Zhen Zen di bandar Luo Hu dengan tidak sah menangkap beberapa praktisi Falun Gong Hongkong yang sedang transit, diculik ke sini untuk dicuci otaknya, dengan cara beginilah melakukan penyiksaan berturut-turut beberapa hari.
Tanggal 27 April 2002 subuh jam 01.00 lebih, polisi Wang dan Xiao pulang dari pergi, marah bukan main, memerintahkan petugas keamanan membawa saya ke ruang 704 menonton VCD. Kali ini polisi Wang mengusir keluar petugas keamanan, turun tangan sendiri memborgol tangan saya, tangan kiri dan kaki kiri diborgol jadi satu, tangan kanan dan kaki kanan juga diborgol jadi satu, masing-masing diikat di kaki kursi, sehingga bagian atas tubuh sejajar dengan lantai, namun kepala diharuskan tegak menonton TV, posisi semacam ini sangat menderita, maksimal bisa bertahan 10 menit, lalu kepala sudah tidak bisa tegak lagi, dengan sendirinya tunduk ke bawah. Polisi Wang sekaligus menyalakan 5 batang rokok, dipegang dengan tangan diletakkan 2-3 cm di bawah hidung saya, bila kepala sedikit menunduk, wajah langsung kena bakar, kepulan asap rokok membuat saya sulit bernapas, 5 batang rokok terbakar habis, dinyalakan 5 batang lagi, siksaan berlanjut satu jam lebih, sampai saya muntah-muntah, sekujur tubuh kejang, baru dilepas.
Pagi jam 08.00, sekali lagi memerintahkan petugas keamanan dengan cara yang sama memborgol saya, bedanya adalah kali ini tidak diasapi rokok, tapi dengan handuk mengikat dengan kencang leher saya. Ujung handuk yang satu lagi diikat di atas senderan kursi, kepala begitu tunduk langsung terikat kencang hingga sesak napas, petugas jahat Zhou Huaicheng lebih kejam lagi, handuknya diikat di kerah baju saya, lalu kancing baju dikancing penuh. Pagi hari itu, dua kali saya hampir mati karena sesak napas, sampai jam 11.00, Xiao dan Wang berdua takut terjadi insiden kematian, baru memerintahkan petugas melepaskan saya. Namun saat itu saya sudah hampir shock, punggung sudah tidak bisa lurus, tak mampu jalan dengan tegak, penjahat Wang Wei datang “membantu” saya menegakkan punggung, sambil menekan tulang punggung saya, kepala juga dipaksa tegak, setiap kali menekan saya menjerit kesakitan, keringat bercucuran, mereka malah dengan keji tertawa terbahak-bahak.
Dipukul sampai Digantung
Gambar pendiri Falun Gong oleh polisi Xiao dan Wang difotokopi hingga puluhan lembar, gambarnya dicoret-coret oleh seorang polisi, ditulis penuh dengan kata-kata kotor, lalu ditempelkan di dalam kamar tahanan saya. Begitu saya robek, langsung dipukul dengan kejam, saya sobek lagi, maka saya diborgol di atas kursi semalaman tidak boleh tidur.
Pada 6 April malam kira-kira jam 20.00, petugas keamanan Tang Jian Feng memborgol tangan saya di atas kursi, gambar guru yang sudah dicoret-coret diperlakukan dengan sangat tidak hormat. Petugas itu sangat marah, saya ditampar berkali-kali, lalu gambar dibakar jadi abu, dimasukkan ke segelas air, memaksa saya minum, saya tidak mau lalu dicekoki. Malam jam 23.00, polisi Wang juga secara beringas mencoret-coret selembar gambar, Wang sangat marah, saya digantung di atas teralis jendela, ujung kaki hanya dapat menyentuh lantai, tangan yang satunya diborgol di atas kursi sofa, lalu kursinya ditarik ke sana kemari, tubuh merasakan seperti dirobek, posisi semacam ini sangat menderita. Berdiri tidak bisa, jongkok juga tidak dapat, penyiksaan berlanjut selama 40 menit, terus sampai saya muntah, seluruh tubuh bergetar, hampir pingsan, polisi Xiao baru menghentikannya, ganti diborgol di atas kursi kayu duduk semalaman.
Tanggal 8 April pagi jam 08.30, polisi Xiao dengan kata-kata kotor memenuhi sehelai gambar lalu ditempelkan di atas tembok, saya langsung maju merobeknya, Xiao marah besar, iga sebelah kanan saya ditendang dengan keras, hingga sempat mundur beberapa langkah, jatuh duduk di atas sofa, sepanjang waktu tidak bisa bernapas. Tanggal 12 April, saya dibawa ke rumah sakit kepolisian untuk foto thorax, hasil diagnosanya diketahui ada luka jaringan lunak dalam. Polwan Kepala Seksi Zhang yang mengantar saya berobat, memberitahu pada polisi Xiao tentang hasil pemeriksaan, tapi Xiao memaki-maki saya: “Kamu masih berpura-pura kesakitan, pimpinan kami memberi tahu, kamu akan diseret dipukuli lagi!” Keadaan luka sampai satu tahun lebih baru sembuh.
Bermacam-macam Cara Penyiksaan
Petugas keamanan Tang Jian Feng, bengis dan keji, di masa SD ia sudah pernah memukuli ayah tirinya hingga muntah darah, di masa SLTP pernah melukai guru bahasa Inggris-nya. Polisi Xiao tertarik oleh tingkah lakunya ini, lalu membujuk dia “Curahkanlah sedikit tenaga untuk membereskan Falun Gong, kelak pimpinan kami bisa membantu supaya istrimu dipindah ke kota Shen Zen, istri Kepala Seksi Liu adalah pimpinan di suatu rumah sakit, istrimu adalah suster, bisa dipindah masuk ke rumah sakit itu.” Petugas keamanan Yan Hui menginginkan dipindah dari kantor perusahaan keamanan ke kantor polisi sebagai polisi, Xiao langsung menyanggupinya. Maka dua petugas ganas ini berkeras hati berperan sebagai pemukul, secara gila-gilaan menyiksa praktisi Falun Gong.
Dicekoki Obat, Dicekoki Arak
Di masa saya mogok makan, polisi Xiao dengan uang negara membeli satu peti arak merah, setelah mencekoki satu kali, mereka merasa dengan arak yang bagus sayang, lalu disimpan untuk diminum sendiri, dan diganti dengan arak putih nomor dua yang keras. Mulai tanggal 1-10 April, di Wisma Tamu Dong Xiao Ruang 702, setiap siang dan malam saat saya dicekoki makanan, pasti dicekoki juga arak putih. Di masa mogok makan lambung saya dalam keadaan atrofi, dirangsang alkohol nyerinya bukan main, lambung sering keram dan muntah. Xiao berkata: “Kami bertolak dari perikemanusiaan akan mengobati penyakit lambungmu, katanya Falun Gong tidak minum obat, saya cekoki obat, juga bisa memecahkan Gong-nya,” kemudian membeli setumpuk obat lambung, membiarkan petugas keamanan mencekoki saya obat dengan sesuka hati, kadang 2-3 tab, kadang-kadang 8-10 tab, saya ingat sehari bisa dicekoki berkali-kali, dengan demikian lambung saya menjadi rusak.
Polisi Xiao sering kali mengajak petugas keamanan lainnya ke restoran makan minum, karena di masa itu saya sedang mogok makan, saya dibawa juga, diborgol di kursi menunggu mereka makan, selesai makan, sisa-sisa arak di dalam gelas mereka, arak putih, bir dan arak merah semua dicampur menjadi satu, hidungku diremas, telinga dijewer lalu dipaksa meminumnya, dan dengan tidak tahu malu ia mengatakan: “Falun Gong tidak boros.”
Macam-macam Penganiayaan
Penjahat-penjahat dari Dinas Keamanan Negara Kota Shen Zen telah menemukan banyak cara untuk menyiksa praktisi Falun Gong, di bawah hanya mengambil beberapa contoh:
“Menarik Pengikat Sendi”
Empat petugas keamanan memborgol tangan saya ke belakang sandaran kursi lalu kursi dimiringkan 45 derajat, seseorang memeluk kepala saya dan ditekan ke bawah dengan keras, seseorang menekan kedua pundak dan tubuh bagian atas, dua orang lagi masing-masing menarik paha saya kedua sisi sekuat-kuatnya, supaya sepasang paha lurus menjadi 180 , setiap kali ditarik selama 2 menit, secara mendadak bersamaan dilepas, berhenti 1 menit, ditarik lagi, berulang-ulang dilakukan 3 kali. Di masa saya mogok makan, selama beberapa hari, setiap 2 jam dilakukan 1 kali, setiap kali 10 menit, setiap kali saya disiksa sampai hampir koma.
“Berdiri Tegak dan Dibangunkan dari Duduk”
Sepasang tangan saya diborgol di punggung dengan ketat, dua petugas keamanan secara bersamaan menendang daerah tekuk lutut saya, hingga jatuh duduk di lantai. Kemudian masing-masing menjinjing satu telinga saya dan tiba-tiba diangkat hingga saya berdiri, demikian berulang-ulang dilakukan sampai 10 menit, setiap hari dua kali, telinga dijewer hingga merah bengkak, panas pedas dan nyeri, rasanya seperti mau copot.
Dua macam cara tersebut dilakukan sebagai “latihan olahraga rutin”, bila waktunya tiba, polisi Wang Wei datang mengawasi petugas keamanan melatih saya.
“Menambah Kapasitas Paru-paru”
Karena dianiaya sepanjang masa, tubuh saya sangat lemah, polisi mengatakan saya punya napas tapi tidak punya tenaga, “harus menambah kapasitas paru-paru”. Petugas keamanan Tang mengusulkan melakukan uji coba, katanya, dalam dua menit bisa menahan diri tidak akan mematikan saya.
Tangan saya diborgol ke belakang disandaran kursi, lalu sandaran kursi dimiringkan, bersandar di tepi ranjang, dengan permukaan lantai terbentuk 30 derajat, polisi Wang berlutut di atas ranjang, kepala saya diapit di antara pahanya, polisi Tang memakai handuk sekuatnya menutupi mulut dan hidung saya, tiga petugas lainnya Yan Hui, Xiao Lei, Zhou Hua Cheng menekan pundak dan paha saya, setiap kali menyumbat 2 menit, pertengahan istirahat 1 menit, demikian berulang-ulang, sehingga sampai mengakibatkan saya koma, terakhir karena Wang takut terjadi korban jiwa, baru memerintahkan berhenti.
“Duduk di Atas Bangku Kayu Kecil”
Tanggal 28 April subuh jam 03.30, mereka mulai melakukan penyiksaan semacam ini terhadap saya, sekali duduk 18-19 jam tidak boleh gerak, tidak diizinkan tidur, sampai fisik saya tidak bisa tahan jatuh ke lantai, sekali lagi saya protes dengan cara mogok makan, penyiksaan semacam ini baru dihentikan. Petugas keamanan kota Zhen Zen di satu pihak melakukan penyiksaan merusak tubuh saya, bersamaan itu juga dilakukan terhadap ibu tua yang berumur 73 tahun.
Tanggal 29 April, Dinas Keaman Negara Kota Shen Zen mengutus kepala seksi Liu dan lainnya berdua berangkat ke desa saya di daerah timur laut China. Liu menipu ibu saya, mengatakan istri saya juga karena latihan Falun Gong masuk penjara, anak saya berumur 9 tahun hilang, tidak jelas di mana berada, membuat ibu saya sangat sedih hingga putus asa. Padahal, istri saya yang selalu bersama anak saya terpaksa berkelana di luar. Karena umur ibu telah lanjut tidak bisa dibawa ke Shen Zen, mereka memaksa ibu tua yang buta huruf mengatakan kata-kata mengecam Falun Gong, lalu direkam untuk propaganda penipuan. Semenjak itu, kasihan ibu tua, karena rindu dan mengkhawatirkan hilangnya cucu yang tercinta menjadi sakit parah, keadaan tubuh makin lama makin menurun.
Akhirnya setelah hampir tiga bulan disiksa secara keji, pengikut Falun Gong yang disebut dalam tulisan ini, pada bulan Juli 2002 dengan tekad yang kuat dan kemampuan yang perkasa telah keluar dari rumah sakit. Setelah bebas, ia kembali bergabung ke dalam arus pembuktian kebenaran Falun Gong -mengklarifikasi fakta yang sebenarnya atas penindasan terhadap Falun Gong. Pengalaman dia mencerminkan kesakralan dan keagungan Falun Gong.

Originally posted 2014-01-20 10:51:34.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *