Renungan

Manajemen Etika2 min read

Vincent, seorang Kepala Pemasaran sebuah perusahaan “hitech” dengan tingkat persaingan yang sangat ketat, sedang mencari seorang “Sales Representative” yang unggul dan handal. Dari sekian puluh lamaran dan setelah melakukan serangkaian wawancara, ia menemukan seorang yang dianggap paling tepat ditinjau dari berbagai sisi. Namanya Victor.
Vincent hampir memutuskan untuk menerima Victor (sambil menunggu beberapa kontak telepon untuk mengecek beberapa referensi tentang Victor) ketika Victor tersenyum, meraih tas kantornya dan mengeluarkan amplop. Dari dalam amplop itu Victor mengeluarkan sebuah disk komputer, dan memegangnya dengan hati-hati bak batu mulia berharga sangat mahal.


“Dapatkan anda menebak apa isi disk ini?” tanya Victor.
Vincent menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.
Dengan tetap tersenyum, Victor mendengus untuk meyakinkan dirinya, kemudian menjelaskan betapa disk itu berisi informasi rahasia tentang persaingan perusahaan Vincent, yakni perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya. Di dalamnya tersimpan data tentang profil para pelanggan dan data biaya penawaran dalam tender kontrak peralatan militer dimana perusahaan Vincent pun ikut pula dalam tender tersebut.
Setelah wawancara selesai, Victor berjanji apabila ia diterima menjadi “Sales Representative”, maka disk itu dan beberapa disk serupa lainnya akan ia berikan pada Vincent.
Kepala Pemasaran itu kini berada di tengah dua kutub. Satu kutub berisi pertanyaan, bagaimana bisa ada orang yang berperilaku dan mampu berbuat seperti itu. Kutub lainnya berisi kebimbangan, bila ia menerima orang itu berarti ia mendapatkan sesuatu yang setara dengan tambang emas saja.
Ini perang batin antara soal etika dan laba. Silakan anda membantu Vincent mengambil keputusan.
Dalam berbagai skala, mulai dari yang ringan sampai ekstrim, kita menjumpai hal-hal semacam ini. Mungkin kita menemukan selembar uang di jalan, atau segebok uang salah transfer dalam rekening bank kita.
Semuanya bisa jadi menimbulkan perang batin yang hanya kita sendiri yang mampu memecahkannya. Contoh soal di atas mungkin dengan mudah dipecahkan, karena itu hanyalah sebuah contoh soal. Jauh lebih penting adalah bagaimana sikap kita jika benar-benar menghadapinya.

Originally posted 2014-05-15 13:53:08.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *