Daily Bread

SIAPA BISA MENGATAKAN APA YANG BENAR?3 min read

March 13, 2007
Who Says What’s Right?

READ: Romans 2:12-16

 
Gentiles, who do not have the law, . . . show the work of the law written in their hearts. —Romans 2:14-15


People who reject absolute standards of right and wrong are often inconsistent. When they think they are being treated unfairly, they appeal to a standard of justice that they expect everyone to adhere to.

 
A philosophy professor began each new term by asking his class, “Do you believe it can be shown that there are absolute values like justice?” The free-thinking students all argued that everything is relative and no single law can be applied universally. Before the end of the semester, the professor devoted one class period to debate the issue. At the end, he concluded, “Regardless of what you think, I want you to know that absolute values can be demonstrated. And if you don’t accept what I say, I’ll flunk you!” One angry student got up and insisted, “That’s not fair!” “You’ve just proved my point,” replied the professor. “You’ve appealed to a higher standard of fairness.”
 
God has given everyone a conscience to tell right from wrong (Rom. 2:14-15), and His moral standards are written in the Bible. Every time we use the words good and bad, we imply a standard by which we make such judgments. Biblical values are true for any age, because they originate with an eternal, unchanging God. —Dennis J. De Haan
 
God has not left us in the dark
About what’s wrong or right,
For through His works and in His Word
His Spirit gives us light.  —D. De Haan

 
Only God has the right to define what’s wrong.
 
 
 
 
 
Santapan Rohani  -  2007-3-13
 

SIAPA BISA MENGATAKAN APA YANG BENAR?

 
Baca: Roma 2:12-16
 
——————————————————————————–
 
Bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat, . . . menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka. —Roma 2:14-15
 
——————————————————————————–
 
Bacaan Untuk Setahun: Ulangan 20–22, Markus 13:21-37  
 

Orang-orang yang menolak standar mutlak tentang apa yang benar dan apa yang salah sering bersikap tidak konsisten. Ketika mereka berpikir bahwa mereka diperlakukan tidak adil, mereka mengajukan acuan standar keadilan yang mereka harapkan dapat diikuti oleh semua orang.
Seorang profesor filsafat memulai setiap semester baru dengan mengajukan sebuah pertanyaan,“Apakah Anda percaya bahwa keberadaan nilai-nilai mutlak, seperti keadilan, dapat dibuktikan?” Para mahasiswa yang berpikiran bebas semua berargumentasi bahwa setiap hal adalah relatif dan tidak ada satu hukum pun dapat diterapkan secara universal. Sebelum semester berakhir, profesor tersebut menyediakan waktu untuk mendiskusikan lagi masalah itu. Di akhir kelas, ia menyimpulkan,“Dengan mengabaikan apa pun yang kalian pikirkan, saya ingin kalian mengetahui bahwa nilai-nilai mutlak dapat dibuktikan.Dan jika kalian tidak menerima apa yang saya katakan, saya tidak akan meluluskan kalian!” Satu mahasiswa yang marah berdiri dan bersikeras,“Itu tidak adil!” “Anda baru saja membuktikan pernyataan saya tadi,” jawab profesor itu.“Anda telah mengacu pada standar keadilan yang lebih tinggi.”

 
Allah telah memberikan hati nurani kepada setiap orang untuk mengetahui apa yang benar dari yang salah (Rm. 2:14-15),dan standar moral-Nya tertulis dalam Alkitab. Setiap kali kita menggunakan kata baik dan buruk, kita menyatakan secara tidak langsung sebuah standar yang menjadi patokan kita dalam membuat penilaian. Nilai-nilai alkitabiah adalah benar untuk segala zaman, karena nilai-nilai itu berasal dari kekekalan, Allah yang tidak berubah. —DJD
 

Allah tidak meninggalkan kita dalam ketidaktahuan
Untuk mengerti apa yang salah dan apa yang benar,
Karena melalui karya-Nya dan dalam firman-Nya
Roh-Nya memberi kita penerangan. —D.De Haan

 
Hanya Allah yang berhak mendefinisikan apa yang salah.
 

Originally posted 2014-07-08 23:52:49.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *