Renungan

Janji3 min read

Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca Koran: “berapa lama lagi kamu baca koran itu?, tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan!”.
Aku meletakkan Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan,air matanya membanjir sementara didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice)
Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun.
Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect” .
Aku mengambil mangkok dan berkata “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?
Kalau tidak ,nanti Ibumu akan teriak2 sama Ayah”.Aku bisa merasakan istriku sedang cemberut dibelakang punggungku
Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata: “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan ,tapi saya akan minta ..” agak ragu2 sejenak, kemudian ia melanjutkan “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya”.
“Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”, aku menjawab “Oh pasti sayang”.
Sindu bertanya sekali lagi untuk memastikan: “Betul nih ayah?”. “Yah pasti”, kataku sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Janji” kata istriku
Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah,karena Ayah saat ini tidak punya uang”.
Sindu menjawab :”Jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok”
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan mulai menghabiskan semua nasi susu asam itu, kelihatannya ia sangat menderita.
Dalam hatiku aku marah terhadap istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk memakan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotaki n pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata “permintaan gila , anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”.
Juga ibuku menggerutu jangan sampai terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak”.
Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain” kata Sindu
Aku coba memohon kepada Sindu : “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami ”
Sindu dengan menangis berkata : “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan Ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya kenapa Ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri?Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang, apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri”.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : “Janji kita harus ditepati”
Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila?
“Tidak” jawabku,” kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri”.
“Sindu permintaanmu akan kami penuhi”.
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus
Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku, sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak “Sindu tolong tunggu saya!”.
Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “Anak anda, Sindu benar2 hebat, anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia”.
Wanita itu berhenti sejenak, “menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak mau masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak hingga
dia tidak mau pergi kesekolah karena takut diejek oleh teman2 sekelasnya”.
“Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish”
“Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia”.
Aku berdiri terpaku dan aku menangis…. . malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang Kasih

Originally posted 2014-08-08 04:39:42.

Spread the love

3 Replies to “Janji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *