Kehidupan

Menjadi Seorang Manusia1 min read

Albert Camus bercerita konon Tahun 1947 di Prancis terkena wabah penyakit pes atau semper, pagi sakit sore meninggal. Sore sakit pagi meninggal. Semua orang panik termasuk pendeta Paneloux. Dalam khutbahnya berkata “Saudara-saudaraku, kalian dalam bahaya karena dosa-dosa yang ada maka kalian pantas menerima musibah ini.” Sampai sang pendeta menyaksikan sendiri penderitaan seorang anak menjelang ajal yang membuatnya tidak mampu berkhutbah lagi.
Tinggallah pendeta Paneloux bersama Rieux sang dokter. Bersama penduduk yang tersisa bahu membahu bersama penduduk yang tersisa melawan pes. Perbedaan-perbedaan dimasa damai yang mudah menjadi alasan untuk menjadi konflik menjadi lenyap. Absurditas Pendeta Paneloux yang memandang manusia sebagai makhluk yang rapuh dan mudah tertimpa musibah tidak membuatnya fatalistik justru membuatnya menghayati nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya ia mengatakan, “Kita tidak memiliki selera bicara tentang pahlawan atau kepahlawanan, yang menarik buat kita adalah menjadi seorang manusia.” Persoalannya adalah sudah sampaikah kita bicara tentang manusia dan memperjuangkan menjadi manusia tanpa terlebih dahulu menghadirkan sampar atau pes ditengah-tengah kehidupan kita?

Originally posted 2014-11-17 00:03:41.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *