Renungan

Sungai di Gurun3 min read

Barangkali banyak orang kristiani sudah mengetahui kisah di balik penulisan lagu It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Lagu itu menggambarkan iman yang luar biasa dari sang penulis, Horatio G. Spafford. Ia bangkit untuk menuliskan lagu ini di tengah rasa duka yang mendalam, yakni saat ia harus kehilangan empat anaknya yang tenggelam di Samudra Atlantik. Ya, di tengah permasalahannya yang
besar Spafford tetap dapat melihat penyertaan Tuhan di dalam hidupnya, sehingga berulang kali ia mengatakan, “Nyamanlah jiwaku, nyamanlah jiwaku.”
Yakub adalah sosok yang harus mengalami banyak rasa duka pada masa tuanya. Setelah anak kesayangannya, Yusuf, dikabarkan mati, kini ia harus bersiap-siap kehilangan anak bungsunya, Benyamin. Ia tahu bahwa hal itu sangat sulit bagi dirinya, bahkan ia pun menyebut apa yang dialaminya sebagai malapetaka (ayat 6). Namun, di tengah segala rasa duka yang berat di hatinya, Yakub masih mengingat dan tetap berharap bahwa Allah yang Mahakuasa tetap menyertai dirinya dan juga anak-anaknya (ayat 14).
Di tengah susah dan beratnya hidup ini, kita perlu tetap belajar menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kemahakuasaan- Nya akan tetap menyertai anak-anak-Nya. Inilah hal yang mesti selalu kita ingat dan syukuri. Memang kita kerap “tidak melihat” tangan Tuhan beserta kita, tetapi bukan berarti Tuhan tidak beserta kita. Barangkali Tuhan membiarkan kita hanya melihat padang
gurun yang gersang, tetapi sesungguhnya Dia telah menyiapkan sungai di depan kita -RY
Nats: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau bersertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)
DI TENGAH KESULITAN APA PUN INGATLAH AKAN PENYERTAAN TUHAN
Kejadian 43:1-14
1. Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu.
2 Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis
dimakan, berkatalah ayah mereka: “Pergilah pula membeli sedikit
bahan makanan untuk kita.”
3 Lalu Yehuda menjawabnya: “Orang itu telah memperingatkan kami
dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika
adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu.
4 Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama
dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan
makanan bagimu.
5 Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami
tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada
kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada
bersama-sama dengan kamu.”
6 Lalu berkatalah Israel: “Mengapa kamu mendatangkan malapetaka
kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada
adikmu seorang?”
7 Jawab mereka: “Orang itu telah menanyai kami dengan seksama
tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih
hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah
memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya.
Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke
mari adikmu itu.”
8 Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: “Biarkanlah
anak itu pergi bersama-sama dengan aku; maka kami akan bersiap
dan pergi, supaya kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami
maupun engkau dan anak-anak kami.
9 Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari
padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia
di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk
selama-lamanya.
10 Jika kita tidak berlambat-lambat, maka tentulah kami
sekarang sudah dua kali pulang.”
11. Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: “Jika demikian,
perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini
dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai
persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar
ladan, buah kemiri dan buah badam.
12 Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah
dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu
bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan.
13 Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula
kepada orang itu.
14 Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh
belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain
itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku
kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!”
Sumber:Youth House

Originally posted 2014-12-13 06:52:44.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *