Renungan

Sepatu Berwarna Emas2 min read

Hari ini, 4 hari sebelum hari natal, suasana Natal belum terasa dalam hati saya. Mobil-mobil sudah menjejali pertokoan yang sudah mulai memberikan potongan harga. Di dalam toko malah lebih parah, kereta barang dan pembeli antri pada kasir. Saya heran kenapa saya mau datang hari ini. Kaki saya sudah pegal, dan begitu pula kepala saya sudah pening.
Dalam daftar belanjaan saya berisi nama-nama teman yang mengatakan bahwa
mereka tidak perlu apa-apa. Tetapi saya pikir, mereka akan tersinggung jika saya tidak memberikan sesuatu kepada mereka. Mereka sudah mempunyai barang-barang yang mereka butuhkan, dan juga harganya mahal-mahal. Saya memutuskan membelikan hadiah yang lucu kepada mereka.
Secepatnya, saya mengisi kereta barang dengan barang-barang yang saya ingin beli, dan langsung ikut antri untuk membayar. Saya memilih antrian yang paling pendek, tetapi tetap saja membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai kasir.


Di depan saya, ikut antri 2 anak kecil, yang laki-laki berumur sekitar 5 tahun, dan yang perempuan lebih kecil. Anak laki-laki tersebut memakai baju hangat yang lusuh, celana jeans yang kependekan, dan memakai sepatu kets kebesaran. Sedang adiknya, memakai baju yang sama dengan kakaknya.

Adiknya, membawa sepasang sepatu wanita berwarna emas yang bagus dan mengkilap.
Lagu Natal terdengar di dalam toko tersebut, dan anak perempuan tersebut ikut menyanyikannya dengan perlahan-lahan dan gembira, walaupun dengan suara yang sumbang. Akhirnya kamipun sampai ke depan kasir. Anak perempuan tsb dengan hati-hati meletakkan sepatu tersebut di depan kasir, seperti menjaga harta karun.
Kasir tersebut menghitung, dan berkata, “Harganya 25.000 rupiah”. Anak laki-laki tersebut mengeluarkan semua uang dari kantung celananya, meletakkannya di meja kasir dan menghitungnya, dan ternyata jumlahnya hanya ada 12.500 rupiah. Lalu kata anak laki-laki tersebut kepada adiknya, “Dik, kukira kita harus menaruhnya kembali…” dengan suara
yang sedih. “Kita akan datang lagi kapan-kapan, mungkin besok”.
Mendengar hal tsb, adiknya tersedu, dan mengatakan, “Tetapi Yesus akan suka akan sepatu ini.”
Jawab kakaknya, “Ya… Kita pulang dulu, bekerja lagi…. Jangan menangis, kita akan kembali besok…”
Lalu saya katakan kepada kasir bahwa kekurangan anak tersebut saya yang akan bayar. Anak itu sudah menunggu lama untuk mendapatkan sepatu tersebut, dan lagipula masa ini adalah masa Natal. Tiba-tiba, sepasang tangan menyentuh tangan saya, dan anak perempuan itu mengatakan, “Terima kasih Bu….”
Saya menanyakan kepada anak itu, “Kenapa kamu katakan bahwa Yesus akan suka kepada sepatu itu?”
Kakaknya menjawab, “Ibu saya sedang sakit, dan akan pergi ke surga…
Dan ayah saya mengatakan bahwa Ibu saya mungkin sebelum hari Natal sudah pergi, untuk bertemu Yesus.”
Adik perempuannya berkata, “Guru sekolah Minggu saya mengatakan, di surga, jalannya terbuat dari emas, seperti sepatu itu. Bukankah ibu saya akan cantik sekali jalan di surga dengan sepatu yang sesuai?”
Mata saya berkaca-kaca ketika saya melihat air mata anak perempuan itu mengalir di pipinya. “Ya…. Saya yakin ibumu akan cantik sekali…”
Di dalam hati saya berterima kasih kepada Tuhan memakai anak tersebut dan mengingatkan saya untuk dapat “memberi dengan tulus hati”.

Originally posted 2015-06-20 19:26:00.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *