Renungan

Benang Sutra Sang Laba-Laba3 min read

Suatu ketika, Sang Buddha sedang berjalan-jalan di dekat sebuah kolam teratai. Kolam tersebut dipenuhi dengan bunga teratai beraneka warna.
Saat melihat ke dasar kolam, Beliau mendapatkan bahwa di bawah kelopak bunga yang
cantik terdapat lumpur yang kotor. Ketika melihat lebih dalam lagi, Beliau melihat neraka!

Terlihat lautan api dimana banyak sekali orang-orang yang berdosa,
melolong kesakitan, berusaha mencari jalan keluar, tapi usaha mereka semua sia-sia.
Ketika Sang Buddha melihat pemandangan yang memilukan ini, hatinya dipenuhi oleh rasa belas kasih dan Beliau mencoba memikirkan jalan untuk menyelamatkan orang-orang itu. Sayangnya, dosa-dosa yang mereka lakukan di kehidupan mereka sebelumnya sangatlah berat dan tidak ada suatu halpun yang dapat melepaskan mereka dari penderitaan.
Akhirnya, Sang Buddha melihat ada seorang yang dapat diselamatkan, meskipun dia telah melakukan semua perbuatan jahat. Suatu hari di kehidupannya yang lampau waktu orang tersebut sedang berjalan, dia hampir menginjak seekor laba-laba. Tepat pada saat itu, rasa kasih menyelimutinya, dia berhenti dan membiarkan laba laba itu pergi. Karena satu perbuatan baik ini, orang itu punya kesempatan untuk diselamatkan dari neraka.
Maka, Sang Buddha dengan lembut mengangkat seekor laba-laba yang sedang merajut jaring, dan Beliau menjulurkan seutas benang sutra ke dasar kolam.
Setelah melalui sela-sela kelopak bunga dan daun, serta lumpur, benang itu akhirnya mencapai neraka. Ketika melihat seutas benang itu, orang itu sangat senang. Dengan segera ia meraih benang itu dan mulai memanjat naik.
Dari neraka ke kolam teratai rasanya jauh sekali. Dia memanjat untuk waktu yang lama sekali. Ketika merasa lelah, diapun berhenti di tengah jalanuntuk beristirahat. Saat itu, dia melihat ke bawah dan melihat banyak orang yang juga sedang memanjat.
Dia menjadi khawatir, “Aku mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan yang lain lagi untuk menyelamatkan diri. Apabila benang sutra ini putus karena berat orang-orang itu, aku akan jatuh lagi ke neraka yang menakutkan itu.”
Dia berteriak kepada orang-orang di bawahnya, “Benang ini adalah milikku, tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyentuhnya!” Tapi orang-orang di bawah tetap memanjat naik. Dalam kepanikannya, orang tersebut menendang yang lain supaya kembali ke bawah. Ketika dia melakukan hal itu, benang tersebut mendadak putus, dan semua orang jatuh kembali ke lautan api.
Buddha telah berharap untuk dapat menyelamatkan jiwa-jiwa yang menderita itu, tapi hanya karena kemarahan satu orang semuanya kembali ke neraka. “Mengapa cinta manusia sangat rapuh?” gumam Sang Buddha. “Dia hanya tahu mencintai dirinya sendiri dan tidak ke orang lain. Oleh sebab itu manusia selalu harus menanggung penderitaan dari lingkaran reinkarnasi.”
PESAN MORAL : Kehidupan di dunia ini penuh dengan penderitaan dan setiap orang berharap untuk diselamatkan. Tetapi, apabila mereka hanya mengejar keselamatan diri sendiri dan tidak memperdulikan apakah yang lain hidup atau mati, keegoisan ini hanya mendatangkan karma buruk dan penderitaan terus menerus.
Maka, apabila seseorang menginginkan kehidupan yang penuh berkah dan kebijaksanaan, dia harus mengembangkan cinta kasihnya dan mau peduli terhadap penderitaan orang lain, bukan hanya khawatir terhadap persoalan pribadinya sendiri. Lebih lanjut, dia bukan hanya mengerjakan kebaikan saja, tetapi juga mendorong orang lain untuk juga berbuat baik, sehingga semua orang dapat bersama-sama menciptakan kehidupan yang damai dan sentosa.
Dikutip dari : “Berita Tzu Chi Indonesia Edisi Oktober 2001”

Originally posted 2011-01-18 23:26:26.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *