Daily Bread

FAKTOR EMPATI3 min read

October 16, 2006

The Empathy Factor
READ: Hebrews 4:14-16
The Word became flesh and dwelt among us. —John 1:14

In the summer of 2005, I led a group of high school students on a missions trip to Jamaica. Our goal was to build a playground at a school for deaf children in that beautiful island country.

Many of our students had previously visited the school and played with the kids. But one of our teenagers had a special connection to the Jamaican children. Chelsea too grew up in a world of quiet. Deaf since birth, she didn’t hear a sound until she was 11, when she received a cochlear implant. Now able to hear about 30 percent of the sounds around her, Chelsea understood the deaf in ways our other students could not. She had true empathy.
Empathy is a strong emotion. It can drive us to come alongside those who are in similar situations. It can cause us to care in a deeper way for those with whom we share a concern or a difficulty.
The most important example of empathy is the Lord Himself. He became one of us (John 1:14). Because He did, He understands our struggles and weaknesses (Heb. 4:15). Jesus knows what we are going through, for He endured this life Himself. As we receive His grace in our time of need, we are better able to come alongside others. —Dave Branon
God lived as man, as one of us,
And understands our need for grace;
He is not distant nor detached
From all the trials that we face. —Sper
No one understands like Jesus.
Senin, 16 Oktober 2006
Bacaan Setahun : Yesaya 47-49; 1Tesalonika 4
Nats : Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita (Yohanes 1:14)
FAKTOR EMPATI
Bacaan : Ibrani 4:14-16
Saya memimpin sekelompok murid SMA dalam perjalanan misi ke Jamaika pada musim panas tahun 2005. Kami hendak membuat taman bermain untuk anak-anak tunarungu di negara kepulauan yang indah tersebut.
Banyak dari murid kami pernah mengunjungi sekolah tersebut dan bermain dengan murid-murid di sana. Namun, ada salah seorang murid remaja kami yang memiliki hubungan istimewa dengan anak-anak Jamaika tersebut. Chelsea tumbuh di dunia yang sangat sunyi. Ia tunarungu sejak lahir. Ia tidak bisa mendengar suara apa pun sampai berumur 11 tahun, yaitu sampai ia menjalani cangkok jaringan rumah siput di bagian dalam telinganya. Kini, setelah bisa mendengar 30 persen suara yang ada di sekitarnya, Chelsea dapat lebih memahami orang-orang tuli daripada murid-murid kami yang lain. Ia memiliki rasa empati yang sejati.
Empati adalah emosi yang kuat. Empati membawa kita untuk ikut merasakan penderitaan sesama yang mengalami situasi yang sama dengan kita. Emosi tersebut dapat membuat kita memberikan perhatian lebih bagi sesama yang dapat kita ajak berbagi dalam kesusahan atau kesulitan.
Teladan sikap empati yang utama adalah Tuhan sendiri. Dia menjadi manusia seperti kita (Yohanes 1:14). Dia benar-benar menjadi seperti kita, hingga Dia memahami pergumulan dan kelemahan kita (Ibrani 4:15). Yesus tahu apa yang sedang kita hadapi sebab Dia sendiri menjalani beratnya hidup ini. Karena kita telah menerima kasih karunia-Nya saat kita menderita, maka kita dimampukan untuk mendampingi sesama -JDB
TAK ADA PRIBADI YANG DAPAT MEMAHAMI KITA SEPERTI YESUS

Originally posted 2011-08-09 03:59:01.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *