MENGAPA HARUS MEMILIKI?

Kita hanya hidup sekali, tetapi jika kita menjalaninya dengan benar, maka
sekali berarti cukup. (Joe E. Lewis)
Di manakah kita bisa temukan keindahan hidup?
Di sebuah sudut alun-alun kota ini, sepasang suami istri pedagang kaki lima
meringkuk dalam tenda dikelilingi oleh beberapa anaknya.
Hujan deras turun sejak petang. Penganan yang dipajang sudah dingin dari tadi.
Tapi mereka tetap saling bercanda sambil membiarkan
suara radio kecil meramaikan suasana dengan sedikit gemerisik. Kau pasti rugi,
pak? “Ya, tidak apa-apa, semoga besok cuaca
terang,” demikian jawabnya. “Kami ini pedagang kecil, mas. Tak punya
apa-apa. Jadi kalau toh rugi, kami tak kehilangan apa-apa. Orang yang takut
kehilangan biasanya mereka yang merasa memiliki apa yang diusahakannya.
Padahal, siapa yang bisa menjamin malam ini tidak hujan? Betapa hebatnya
pemilik hujan itu sehingga bisa membuat warung kami tak ada pengunjung?
Bahkan kami sendiri tidak kuasa atas perniagaan ini.”
Ah, betapa sederhananya. Bila kita mengaku berkuasa atas apa yang kita
“miliki”, kita tercebur dalam lautan ilusi yang menenggelamkan saat apa yang
kita “miliki” hanyut terdera ombak. “Memiliki” adalah rantai besi yang
mengikat kita pada batu karang dasar laut. Menyadari ketidakkuasaan diri di
hadapan semesta raya adalah kunci pembuka rantai itu.
Hidup ini terkadang aneh. Kalau anda menolak untuk menerima bukan yang
terbaik, seringkali anda justru akan menerimanya. (Somerset Maughan)

Originally posted 2007-08-23 10:13:18.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *