Aku Anak Pelacur!

Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan
selalu dipojokkan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda
rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal,
lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili
sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta.
Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin
menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih
mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang
sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan,
tetapi tidak untuk memilih dari siapa dan dimana manusia dilahirkan.
Ini sudah takdir dan keinginan yang sudah ditentukan dari sononya
oleh Sang Pencipta. Kita manusia hanya bisa meng-Amin-kannya saja!
Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita
penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan
apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak
pelacur sudah merupakan makanan aku sehari-hari. Dan ini sudah
melekat di tubuhku sejak kecil yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi
seperti juga bayangan.
Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yg selalu
disalahkan dgn cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya
juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar
hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang
anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi
diriku sendiri tanpa harus selalu dikaitkan dengan pekerjaan ibuku?
Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan
atau dimanapun juga aku berada.
Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa
membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang,
karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku.
Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu
berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yg
berpendidikan. Ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti
jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru
jejak kehidupan Emak yang suram ini. Cukup hanya emak sendiri saja
yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya
harga diri.”
Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak
mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks, sebab dia
tidak memiliki apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan
yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang
pekerja seks bukanlah pilihan ibuku, tapi sebuah keterpaksaan.
Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan
meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah
yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi
Ibuku seperti juga layaknya anak2 lain mengasihi ibunya, aku tidak
pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah?
Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi
didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yg sama
dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.
Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah
pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda
sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur
pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja
15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku,
sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri. Aku sudah
menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku
melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yg menilai aku
sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku
Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku
beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah
direnggut dgn paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat
dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan
dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam
waktu sekejap. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti
jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan
bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya
kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari
lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke manapun
langkahku pergi?
Malapetaka yg menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung.
Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yg menimpa diriku?
Boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai
apa yg terjadi dgn diriku itu hal yg sewajarnya sebagai hukuman
karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh
terpuruk, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah
keluar rumah pun aku merasa malu.
Dua bulan kemudian sejak kejadian yg mengenaskan tsb Dr menyatakan
bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan,
kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa!
Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak
berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak
seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak
tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya
nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dgn
diriku sendiri.
Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga
tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia
pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya
tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.
Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tsb?
Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yg tak berdosa tsb, seperti
layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?
Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia,
pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan
untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak
ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga
pernah kualami sampai saat ini.
Mungkin jalan satu2nya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini
tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah
Tuhan itu benar2 mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan
untukku maupun untuk bayiku? Apakah mungkin takdir yang sedang
kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah
aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yg menimpa
diriku ini?
Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh
diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun
tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari
emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15
tahun.
Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)
Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran maupun bantuan doa
untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

Originally posted 2011-06-25 20:49:13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *