Marah Dengan Kasih Sayang

PETIKAN ARTIKEL:
 

     

  • Bayangkan, betapa wajah lugu dengan sorot mata berbinar itu meredup
    cahayanya karena api kemarahan yang tidak hanya membakar Anda, tetapi juga
    jiwa tunas muda yang sedang tumbuh tersebut.
     
  • Ingatlah mereka hanyalah seorang kanak-kanak, bukan orang dewasa dalam
    tubuh yang kecil!
     
  • Mereka bukan anak ikan, yang begitu lahir langsung bisa berenang.
     
  • Mereka juga bukan anak ayam, yang begitu menetas langsung bisa jalan.
     
  • Mereka adalah anak manusia, yang memerlukan proses untuk setiap tahap
    perkembangannya.
     
  • Hilangkan rasa marah bila anak membuat kotor, atau bersikap "nakal", yang
    mereka butuhkan adalah bimbingan dengan kasih sayang. Bukankah selain sebagai
    "penyejuk mata orang tuanya" anak juga sebuah "amanah" yang dititipkan Allah
    kepada Anda, orang tuanya.
     

      ***********************

      Marah dan kasih sayang adalah dua hal yang berbeda. Ibarat api dengan air,
      kondisi ini memberikan efek yang berlawanan kepada orang yang menerima.

      Istilah dakwah dengan kasih sayang mungkin sudah biasa Anda dengar, namun
      marah disertai kasih sayang, sudahkah Anda lakukan?

      Didie, balita gendut berusia 2 tahun itu menangis menggerung-gerung di tanah.
      Baju putih bersihnya penuh berlepotan tanah, suara tangisnya pun membahana.
      Dengan mata melotot si ibu menarik tangan anaknya agar bangun, dan sebuah
      cubitan dengan spontan membuat si bocah berdiri diiringi tangis yang semakin
      tinggi nadanya. Begitu ancaman cubitan kedua terlihat dari tangan sang ibu,
      suara tangisnya ditahan menjadi sedu-sedan. Apa yang telah dilakukan bocah
      itu? Ternyata sepele saja. Ia menginginkan mobilan kecil yang dibawa
      sebayanya, anak tetangga sebelah. Keinginan yang lumrah buat seorang anak
      yang belum mengerti definisi kepemilikan. Pantaskah ibu memarahinya secara
      berlebihan?

      Umumnya seseorang akan melampiaskan amarahnya dengan disertai emosi, tidak
      hanya kepada orang dewasa namun juga kepada anak-anaknya. Padahal emosi ini
      berkaitan erat dengan tingkah laku yang akan muncul. Baik berupa ekspresi
      wajah maupun tindakan seperti, pelototan mata, cubitan, umpatan, membanting
      benda, maupun pemukulan. Apa yang sering membuat orang tua marah secara
      berlebihan? Stres acapkali menjadi pemicu kemarahan orang tua. Beban kerja
      sebagai ibu rumah tangga dengan pekerjaan yang tidak pernah selesai dan
      cenderung monoton, juga salah satu penyebab stres. Atau beban kerja di
      kantor juga bisa menyebabkan stres semakin menumpuk. Tanpa sadar, ketika di
      rumah luapan stres ini dilampiaskan dalam bentuk marah dan sikap keras
      kepada anak-anaknya sendiri.

      Betapa menyedihkan melihat anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang
      tetapi justru menerima tindakan kekerasan hanya karena orang tua mengalami
      stres dan tidak tahu harus berbuat apa.

      Bayangkan, betapa wajah lugu dengan sorot mata berbinar itu meredup
      cahayanya karena api kemarahan yang tidak hanya membakar Anda, tetapi juga
      jiwa tunas muda yang sedang tumbuh
      tersebut. Mungkin Anda pernah mendengar kisah seorang ayah yang memberikan
      sekantong paku kepada anaknya yang berkelakuan buruk. Kisah ini semoga
      memberikan Anda ruang untuk berpikir, sebelum meluapkan marah kepada buah
      hati tercinta.

      Kisahnya demikian, setiap kali si anak marah atau tidak bisa mengendalikan
      diri, Sang Ayah menyuruhnya memaku sebatang paku di pagar.

      Hari pertama, banyak paku yang tertancap di pagar. Tetapi dengan berlalunya
      waktu, si anak sampai pada hari di mana tidak sebatang paku pun perlu ia
      tancapkan.

      Maka datanglah ia kepada Ayahnya. Si Ayah menyuruhnya mencabut kembali satu
      batang paku setiap kali ia berhasil sabar dan menahan marah.

      Ternyata pekerjaan mencabut ini, lebih sulit daripada memaku. Ada lubang
      yang ditinggalkan begitu paku berhasil dicabut. Setelah semua paku berhasil
      dicabut, ia dapati pagar tidak kembali utuh seperti semula, ada banyak bekas
      lubang-lubang paku.

      Apa komentar Ayah yang bijak ini?
      "Kau bisa menancapkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali,
      tetapi itu akan meninggalkan luka. Tidak perduli berapa kali kau meminta
      maaf atau menyesal, lukanya tetap tinggal. Ketahuilah luka melalui ucapan
      sama perihnya dengan luka fisik."

      Mari kita ambil hikmah dari nasehat ini, kalau Anda memarahi anak dan
      kemudian meminta maaf atas kekhilafan tersebut.

      Mungkin suasana kedamaian rumah akan kembali normal, tapi tahukah Anda bahwa
      perasaannya yang tergores karena amarah Anda tidak akan hilang begitu saja?
      Bahkan bisa jadi kemarahan Anda atas kesalahan yang ia perbuat justru
      menjadikan anak pasif, takut mencoba dan takut melakukan kesalahan kembali.

      Sekarang bandingkan dengan Iklan deterjen ini, yang pasti akrab ditelinga
      orang tua. "Bagi saya, kotor itu tidak masalah, karena di balik kotor ada
      belajar!" demikian ujar si ibu menanggapi tingkah anaknya yang menyebabkan
      bajunya kotor semua. Tidak ada rasa marah meskipun aktivitas anak tersebut
      akan merepotkan ibu. Menambah beban kerjanya karena harus membereskan,
      membersihkan rumah dan menambah cucian kotor.

      Memang, menjadi orang tua yang baik adalah "proyek" yang tidak pernah
      selesai dilakukan orang tua. Bahwa betapa sulitnya menjadi orang tua yang
      baik, betul adanya. Salah satu yang paling sulit adalah bagaimana orang tua
      bisa mengendalikan emosi dalam mengasuh anak-anaknya.

      Umumnya yang terjadi adalah ketika menghadapi kenakalan anaknya, orang tua
      kehilangan semua teori yang telah mereka peroleh dari buku-buku ataupun
      seminar mengenai pola asuh anak. Seberapa efektif marah yang diekspresikan
      orang tua mampu meredakan kenakalan anak? Dari literatur diperoleh hasil
      penelitian yang menunjukkan bahwa anak balita masih belum bisa memahami
      hubungan antara tindakannya yang ‘nakal’ menurut kacamata orang tua dengan
      pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul, tanpa
      tahu kenapa dipukul. Kalaupun ia tidak lagi melakukan tindakan ‘nakal’-nya,
      itu bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut
      akan dipukul lagi. Oleh sebab itu, kenapa Anda t idak marah dengan sepenuh
      kasih sayang? Bukan berarti Anda meniadakan "marah" dalam mendidik anak.
      Ketika Anda marah, haruslah dalam kondisi bahwa kesalahan tersebut memang
      pantas untuk dimarahi.

      Jangan campurkan kesalahan kecil dengan yang besar, sehingga ketika saat
      Anda memang harus marah itu akan berdampak efektif terhadap anak. Biarkan
      anak menikmati setiap tahap kehidupannya. Jangan tergesa-gesa membentuk
      dirinya. Apalagi disertai emosi untuk mengaturnya sesuai dengan standar Anda.
      Ingatlah mereka hanyalah seorang kanak-kanak, bukan orang dewasa dalam tubuh
      yang kecil! Jadi bersabar dalam menghadapi tingkah pola anak, adalah sikap
      yang terbaik. Mereka bukan anak ikan, yang begitu lahir langsung bisa
      berenang. Mereka juga bukan anak ayam, yang begitu menetas langsung bisa
      jalan.

      Mereka adalah anak manusia, yang memerlukan proses untuk setiap tahap
      perkembangannya. Perhatikan, betapa menggemaskan cara mereka belajar
      merangkak, belajar berjalan, memasukkan makanan yang berlepotan di lantai,
      atau ketika latah meniru satu kata, tanpa mengerti makna.

      Hilangkan rasa marah bila anak membuat kotor, atau bersikap "nakal", yang
      mereka butuhkan adalah bimbingan dengan kasih sayang.

      Bukankah selain sebagai "penyejuk mata orang tuanya" anak juga sebuah "amanah"
      yang dititipkan Allah kepada Anda, orang tuanya.

Originally posted 2011-04-24 08:37:38.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *